FLS3N SMP Kota Batam 2026: Gagasan Brilian, Eksekusi Masih Bertumbuh

Batam-Ajang Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) di One Batam Mall tahun ini memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Baik pada cabang pantomim maupun tari kreasi, peserta didik dan koreografer mulai berani mnghadirkan ide, konsep, dan keberanian artistik yang lebih matang. Ini menjadi penanda bahwa ruang kesenian pelajar di Kota Batam sedang bergerak menuju arah yang lebih hidup dan kreatif.
Pada cabang pantomim, peserta perlu memahami bahwa pantomim bukan sekadar bergerak tanpa suara. Pantomim adalah pertunjukan yang dibangun dari kesatuan ekspresi, musik, kostum, tata rias, dan penguasaan panggung. Karena itu, keberadaan make-up putih tebal, kostum khas hitam putih, hingga musik bukanlah pelengkap semata.
Make-up dalam pantomim berfungsi memperjelas ekspresi dan karakter wajah pemain agar emosi dapat terbaca kuat oleh pnonton. Kostum membantu mempertegas bentuk tubuh dan gerak sehingga pesan visual menjadi lebih hidup. Sementara musik menjadi penyangga suasana, ritme, dan emosi pertunjukan. Ketika ketiga unsur ini diperlakukan sekadar tempelan, maka pertunjukan kehilangan rohnya. Sebaliknya, ketika semuanya menyatu dengan konsep garapan, pantomim akan tampil sebagai karya yang utuh dan berdaya pukau.
Pada cabang tari kreasi, prkembangan ide dan keberanian koreografer muda terasa sangat kuat. Banyak karya tampil dengan konsep menarik dan semangat eksplorasi yang tinggi. Namun, ada kecenderungan bahwa tari kekinian selalu diukur dari kecepatan dan ledakan energi geraknya. Akibatnya, gerak lembut, tenang, dan sederhana mulai ditinggalkan, padahal justru di situlah kadang lahir kekuatan rasa dan penghayatan.
Beberapa karya terlihat sngat kaya secara gagasan, tetapi sedikit mengabaikan kemampuan teknik penarinya sendiri. Penari dipaksa mengejar tempo dan tenaga tanpa cukup ruang untuk bernapas, mengolah rasa, dan membangun dinamika pertunjukan. Padahal karya tari yang baik tidak selalu diukur dari banyaknya gerak, tetapi dari kemampuan menghadirkan emosi, ritme, dan pengalaman artistik yang utuh bagi penonton.
Dari sembilan karya yang tampil, tari “Layar Jong Pesisir” menunjukkan kemampuan penari yang cukup merata. Terlihat jelas adanya persiapan yang matang serta proses latihan yang serius. Ide garapannya sebenarnya sederhana dan mungkin bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam konteks pertunjukan, terutama jika dibandingkan dengan perkembangan karya di Riau daratan. Namun, kepiawaian koreografer dalam meramu gerak, suasana, dan dinamika pertunjukan berhasil membuat koreografi ini terasa hidup, segar, dan memiliki daya tarik yang kuat di atas panggung.
Sebagai masukan, koreografer dan penari dapat kembali menonton ulang video karya ini bersama-sama untuk membaca dinamika pertunjukan yang sudah dibangun. Garapan ini sebenarnya tidak memerlukan perubahan besar. Yang dibutuhkan adalah pengaturan tenaga, ritme, dan ruang jeda agar karya tidak terasa sesak. Dengan kemampuan penari yang sudah sangat baik, karya ini sebenarnya memiliki peluang besar menghadirkan nuansa yang lebih sejuk, emosional, dan matang.
Selain itu, pengembangan properti masih terbuka sangat luas untuk dieksplorasi. Properti tidak seharusnya hanya hadir sebagai pajangan atau sekadar membuat panggung terlihat ramai. Dalam pertunjukan tari, properti juga dapat menjadi bagian penting yang membangun suasana, memperkuat makna, bahkan menghadirkan efek kejut artistik bagi penonton. Hal ini pnting agar muncul kesadaran bahwa kekuatan panggung bukan terletak pada banyaknya properti atau ramainya set panggung, melainkan pada bagaimana seluruh unsur tersebut diberi fungsi artistik yang hidup dan menyatu dengan gagasan karya.
Sementara itu, karya “Berkah Laut” tampil dengan daya gigit yang cukup kuat. Kemampuan penarinya sangat menggembirakan dan memiliki penguasaan vokabuler gerak yang baik. Garapan ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi karya yang sangat kaya secara visual. Namun, pemanfaatan propertinya masih terasa belum digarap lebih jauh. Padahal jika properti diberi ruang eksplorasi yang lebih berani, karya ini bisa memiliki lapisan artistik yang jauh lebih kuat.
Pada bagian musik, karya ini juga memerlukan keseimbangan yang lebih utuh antara gerak tari dan kekuatan musikalnya. Musik seharusnya tidak hanya mengikuti bentuk gerak, tetapi juga berani membangun isi, suasana, dan dorongan emosional pertunjukan. Dengan kata lain, musik perlu hadir bukan hanya sebagai pengiring, melainkan sebagai bagian yang ikut menghidupkan gagasan karya. Ketika keberanian pada bentuk dapat dipertemukan dengan keberanian pada isi, maka karya seperti “Berkah Laut” akan memiliki daya pukau yang jauh lebih kuat.
Ggasan ini sangat memungkinkan untuk diterapkan karena wilayah Kepulauan Riau terdiri dari dua kota dan lima kabupaten sehingga jumlah peserta masih sangat ideal. Selain itu, dalam banyak cabang seni, selisih kualitas antara juara satu dan juara dua sering kali sangat tipis dan sulit diputuskan. Memberikan ruang kepada dua karya terbaik akan membuka peluang pembinaan yang lebih luas sekaligus memperkuat kualitas kompetisi di tingkat provinsi.
Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian pada tingkat provinsi nantinya adalah memberikan pemahaman kepada para suporter dan pendukung pertunjukan. Seni pertunjukan berbeda dengan pertandingan olahraga. Tepuk tangan dan sorakan yang terus-menerus selama pertunjukan justru dapat mengganggu konsentrasi penari dan merusak suasana artistik yang sedang dibangun di atas panggung.
Dukungan tentu tetap penting, tetapi akan jauh lebih elegan jika tepuk tangan dan semangat diberikan pada awal serta akhir pertunjukan. Dengan begitu, penonton dapat menikmati karya secara utuh, sementara penari juga memiliki ruang konsentrasi untuk menyampaikan rasa dan pesan pertunjukan dengan lebih maksimal.
Terakhir, apresiasi besar patut diberikan kepada seluruh panitia pelaksana. Mengelola banyak cabang lomba dalam waktu bersamaan tentu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan tenaga, pikiran, kesabaran, dan kemampuan menjaga situasi tetap kondusif di tengah tingginya tensi peserta dan penonton.
Sebagai dewan juri, saya menyampaikan salut kepada panitia yang mampu menghadirkan pertunjukan dengan susunan yang mendekati sempurna. Di balik suksesnya sebuah panggung, selalu ada orang-orang yang rela menyisihkan tenaga dan pikirannya agar kegiatan berjalan baik.
Selamat untuk seluruh panitia MGMP Seni Budaya SMP Kota Batam. Tetaplah menjadi bagian penting yang menjaga denyut kreativitas dan kesenian pelajar terus tumbuh dari waktu ke waktu.
Tamalatea, 12 Mei 2026
