Ketika Dua Siswi Memilih Datang, Bukan Viral
Ketika anak-anak memilih mengetuk pintu sekolah, bukan melampiaskan luka di media sosial.

Ketika anak-anak memilih mengetuk pintu sekolah, bukan melampiaskan luka di media sosial. Sebuah refleksi sederhana tentang keberanian siswa untuk bercerita, pentingnya menghadirkan ruang aman di sekolah, serta bagaimana guru dan pemimpin pendidikan perlu terus belajar memahami anak-anak sesuai dengan zamannya.
“Anak-anak harus didengar dengan sungguh-sungguh, sebab di balik perilaku mereka sering tersembunyi kebutuhan yang belum terucapkan.” (Haim Ginott).
Siang itu dua orang siswi mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Sebelumnya mereka telah mengirim pesan singkat kepada saya. Intinya sederhana, mereka ingin bertemu dan bercerita. Saya langsung menjawab, “Silakan, bapak tunggu sekarang.” Tidak lama kemudian mereka masuk dengan wajah yang terlihat tegang dan ragu-ragu. Bahkan salah satu dari mereka meminta maaf karena merasa tidak enak telah berani menghubungi kepala sekolah hanya untuk curhat.
Saya mempersilakan mereka duduk. Lalu saya sampaikan kepada mereka bahwa mungkin hari itu ada hal penting yang perlu saya dengar. Saya meminta mereka menyampaikan semuanya dengan baik, jangan dibuat-buat, dan ceritakan sebagaimana kenyataannya. Saya juga menyampaikan bahwa saya salut karena mereka memilih datang dan berbicara baik-baik. Sebelum mereka mulai bercerita, saya sempat mengatakan bahwa apa yang mereka sampaikan di ruangan itu tidak perlu menjadi konsumsi banyak orang. Jika nanti ada yang bertanya mengapa mereka keluar dari ruangan kepala sekolah, cukup katakan bahwa mereka sedang berbicara tentang kuliah atau beasiswa.
Bagi saya, menjaga keberanian anak-anak untuk bicara jauh lebih penting daripada membiarkan mereka merasa menjadi “pengadu”. Sebab hari itu saya melihat sesuatu yang berbeda dari dua siswi tersebut. Mereka tidak datang dengan wajah kemenangan. Mereka tidak sedang mencari keributan atau ingin menjatuhkan siapa pun. Saya justru melihat dua anak yang mungkin sudah terlalu lama memendam rasa lelah dan kebingungan, hingga akhirnya ketakutan mereka berubah menjadi keberanian.
Mereka mulai bercerita tentang berbagai pengalaman belajar yang menurut mereka belum sepenuhnya menghadirkan kenyamanan. Tentang suasana belajar yang kadang terasa melelahkan secara emosional. Tentang tekanan-tekanan kecil yang perlahan menumpuk dalam diri siswa. Tentang komunikasi yang mungkin belum sepenuhnya sampai antara guru dan murid. Namun di balik semua cerita itu, saya menangkap satu hal penting: mereka sebenarnya hanya ingin didengar. Kadang kita lupa bahwa siswa tidak selalu membutuhkan pembelaan. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh. Dan sering kali, mendengar dengan hati adalah obat paling ampuh bagi anak-anak hari ini.
Sebagai kepala sekolah, jujur saya bangga. Bangga karena masih ada siswa yang mau dan berani datang menemui saya untuk bercerita. Itu artinya mereka masih percaya bahwa sekolah memiliki orang dewasa yang bisa mendengar mereka dengan baik. Namun saya juga memahami bahwa peristiwa ini bukan berarti guru BK atau wali kelas tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak. Bisa jadi ini hanyalah akumulasi keresahan yang cukup lama dirasakan siswa, sehingga mereka ingin memastikan bahwa ada orang dewasa di sekolah yang benar-benar mendengar dan menghadirkan harapan akan perubahan.
Karena sebelumnya saya sudah berkali-kali menyampaikan kepada guru BK di sekolah bahwa mereka adalah “dokter sekolah”. Sebagai dokter sekolah, mereka harus mampu memberikan kenyamanan kepada “pasiennya”, yaitu siswa-siswa yang datang dengan luka, tekanan, ketakutan, atau persoalan yang mereka pendam. Saya pernah mengatakan kepada mereka, “Jika tidak ada siswa yang datang untuk bercerita kepada bapak dan ibu, mungkin kita perlu bertanya, apakah kita sudah benar-benar menjadi dokter sekolah yang didambakan siswa?” Sebab siswa hanya akan datang kepada orang yang membuat mereka merasa aman.
Saya juga selalu mengingatkan guru BK untuk menjaga rahasia siswa dengan baik, termasuk kepada saya selaku kepala sekolah. Tidak semua hal harus sampai kepada pimpinan selama itu tidak berbahaya dan tidak berdampak luas terhadap sekolah. Namun saya juga menyampaikan dengan tegas bahwa rahasia tidak berlaku untuk sesuatu yang akan berdampak besar terhadap sekolah, keselamatan siswa, atau banyak orang. Batas itu penting. Karena menjaga rahasia bukan berarti membiarkan bahaya tumbuh diam-diam. Tetapi juga jangan sampai kepercayaan siswa rusak hanya karena kita terlalu mudah membuka cerita mereka.
Di tengah percakapan itu saya juga menyampaikan kepada mereka bahwa jika ada masalah di kemudian hari, sampaikanlah dengan baik kepada wali kelas, guru BK, atau guru yang dipercaya. Jangan grasa-grusu dan jangan sesekali membawa masalah ke media sosial. Saya lalu mengambil sebuah piring yang ada di ruangan dan berkata, “Kalau piring ini bapak isi air lalu bapak tepuk, apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Airnya terciprat pak.” Saya lalu tersenyum dan mengatakan, “Nah, itulah yang disebut menepuk air di dulang. Kalau kita menyampaikan sesuatu dengan cara yang salah, yang pertama kali basah justru diri kita sendiri.”
Saya menjelaskan kepada mereka bagaimana media sosial hari ini sering membuat masalah kecil menjadi besar, mempermalukan banyak pihak, dan akhirnya melukai diri sendiri. Mereka mengangguk pelan dan berkata, “Oh iya pak, kami sekarang paham.” Saat itu saya sadar, kadang anak-anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir untuk mendengar dan mengarahkan.
Saya menyadari bahwa siswa hari ini bukan produk zaman dahulu. Mereka tumbuh di masa yang berbeda. Tekanan hidup mereka berbeda. Cara berpikir mereka berbeda. Cara mereka menyimpan luka pun berbeda. Karena itu saya sering merasa bahwa orang dewasa yang terlalu sibuk membandingkan siswa sekarang dengan masa ketika ia sekolah dahulu akan kesulitan menjadi pendidik di zaman ini. Kalimat seperti “dulu kami takut pada guru”, “dulu kami kuat dimarahi”, atau “dulu kami tidak berani melawan”, tidak otomatis menyelesaikan persoalan pendidikan hari ini. Sebab mendidik bukan pekerjaan mengulang masa lalu, melainkan memahami manusia sesuai zamannya.
Guru hebat bukan diukur dari usia tua atau mudanya. Guru hebat adalah guru yang mampu menghadirkan kenyamanan belajar tanpa kehilangan wibawa. Guru yang mampu memberi batas tanpa harus melukai. Guru yang dekat dengan siswa tetapi tidak berubah menjadi teman sebaya. Guru tetaplah guru. Harus ada batas, ada penghormatan, dan ada marwah yang dijaga. Tetapi batas itu tidak harus dibangun dengan ketakutan.
Saya percaya, guru sebenarnya mulai “pensiun” bukan ketika surat pensiunnya keluar, tetapi ketika ia berhenti belajar dan hanya mengandalkan masa lalunya dahulu ketika sekolah. Sebaliknya, guru yang tidak pernah pensiun adalah guru yang terus memperbarui dirinya. Guru yang terus belajar memahami perkembangan zaman. Guru yang menghadirkan kebaruan dalam cara berpikir, cara mengajar, cara mendengar, dan cara memperlakukan siswa.
Sebelum dua siswi itu keluar ruangan, saya memanggil mereka kembali. Saya berkata, “Sini nak, bapak mau salaman dengan kalian.” Saya genggam tangan mereka satu per satu dan berkata, “Kalian hebat. Sehat dan sukses selalu ya. Tetapi tetaplah menjadi siswa yang baik dan berkarakter.”
Mereka keluar dari ruangan dengan wajah yang berbeda. Bukan wajah kemenangan karena merasa berhasil mengadukan seseorang. Tetapi wajah lega karena merasa diterima dan didengar. Dan mungkin, di situlah pendidikan yang sebenarnya sedang bekerja.
Tamalatea, Mei 2026




