Balik LayarTerkini

Pemimpin Tidak Mewariskan Pengikut

Ia mewariskan cara berpikir

Ada sebuah kebiasaan yang hampir selalu saya temukan dalam banyak organisasi. Ketika muncul persoalan, pandangan hampir semua orang segera mengarah kepada pemimpinnya. Mereka menunggu keputusan, menunggu arahan, bahkan terkadang menunggu keberanian yang sebenarnya dapat mereka miliki sendiri.
Sekilas keadaan seperti itu terlihat baik. Pemimpinnya dihormati, pendapatnya didengar, dan keputusannya menjadi rujukan. Tidak sedikit pula pemimpin yang merasa bangga ketika semua persoalan akhirnya bermuara kepada dirinya.
Namun semakin lama saya mengamati, semakin saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah itu benar-benar tanda kepemimpinan yang kuat? Atau justru tanda bahwa organisasi belum belajar berpikir?
Pertanyaan itu perlahan mengubah cara saya memandang kepemimpinan.
Selama ini kita sering mengukur seorang pemimpin dari banyaknya orang yang mengikutinya. Semakin banyak yang bergantung kepadanya, semakin besar pula ia dianggap berhasil. Padahal saya mulai percaya bahwa ukuran itu tidak selalu benar.
Pengikut adalah sesuatu yang mudah dibangun. Cara berpikir jauh lebih sulit diwariskan.
Pengikut dapat bertahan selama pemimpinnya masih ada. Cara berpikir akan tetap hidup bahkan ketika pemimpinnya telah pergi.
Karena itulah saya mulai meyakini bahwa warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah banyaknya orang yang setia mengikutinya, melainkan banyaknya orang yang mampu berpikir benar tanpa harus selalu menunggunya.
Kesadaran itulah yang kemudian mengubah cara saya memimpin sekolah.
Ketika memilih empat wakil kepala sekolah, saya tidak memulai dengan membagi pekerjaan. Saya justru memulai dengan menyamakan cara berpikir. Kami lebih banyak berdiskusi tentang bagaimana sebuah keputusan seharusnya lahir daripada siapa yang berhak mengambil keputusan.
Saya ingin mereka memahami bahwa kepemimpinan bukanlah perlombaan menunjukkan kewenangan. Kepemimpinan adalah kemampuan menjaga agar organisasi tetap berjalan pada arah yang sama.
Karena itu saya selalu menyampaikan satu prinsip yang sederhana. “Jangan membuat warga sekolah bingung karena para pemimpinnya memiliki jawaban yang berbeda.”
Kalau seorang guru bertanya kepada wakil bidang kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, ataupun humas, saya berharap ia memperoleh arah yang sama. Bukan karena mereka menghafal jawaban yang telah disiapkan, tetapi karena sebelum sebuah keputusan disampaikan kepada warga sekolah, cara berpikir mereka telah lebih dahulu dipertemukan.
Saya sengaja memberi ruang kepada mereka untuk berdiskusi sebelum datang kepada saya. Bukan karena saya ingin mengurangi pekerjaan. Tetapi karena saya ingin mengurangi ketergantungan organisasi kepada kepala sekolah.
Hari ini proses itu belum sempurna. Masih ada keputusan yang perlu diperbaiki. Masih ada ketidakkonsistenan yang harus dibenahi.
Namun saya mulai melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar keberhasilan menjalankan tugas. Saya melihat mereka mulai saling mengingatkan. Mulai saling melengkapi. Mulai mengambil keputusan bersama. Dan yang paling membahagiakan, saya mulai memiliki ruang untuk berpikir, bukan lagi sekadar sibuk menyelesaikan persoalan demi persoalan.
Di situlah saya memahami bahwa pemimpin yang terus-menerus sibuk belum tentu sedang membangun organisasi. Bisa jadi ia sedang menjadi pusat dari seluruh ketergantungan organisasinya.
Komitmen untuk menyelaraskan cara berpikir ini tentu tidak hanya berhenti pada lembaran konsep atau diskusi di ruang rapat. Ujian sesungguhnya baru terasa ketika gagasan tersebut dibenturkan dengan realitas operasional di lapangan—terutama saat organisasi harus mengelola agenda-agenda krusial yang melibatkan banyak orang dan riak kepentingan.
Dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), misalnya, saya belajar bahwa persoalan organisasi tidak selalu lahir karena orang-orang memiliki niat yang berbeda. Sering kali persoalan muncul karena cara memandang amanah belum sepenuhnya sama. Ada yang melihat sebuah tugas sebagai tanggung jawab yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ada pula yang lebih dahulu melihat penghargaan yang mungkin diperoleh setelah tugas itu selesai. Cara berpikir yang berbeda akan melahirkan penilaian yang berbeda pula terhadap keputusan yang sama.
Pengalaman lain yang tidak kalah berharga saya temukan dalam pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)—sebuah program operasional berskala besar yang menuntut presisi dan kesamaan visi. Dari peristiwa itu saya semakin memahami bahwa mengganti orang bukanlah jawaban utama atas sebuah kendala. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang membuat siapa pun yang menjalankan amanah memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan, tanggung jawab, dan batas-batas yang harus dijaga. Hari ini pengelolanya tetap dua orang sebagaimana sebelumnya. Yang berubah bukan jumlah orangnya, melainkan cara organisasi memahami dan menjalankan amanah tersebut.
Semakin saya memimpin, semakin saya menyadari bahwa perubahan organisasi jarang dimulai dari perubahan orang lain. Perubahan hampir selalu dimulai dari keberanian pemimpinnya mengubah dirinya sendiri.
Mengubah cara menggunakan kewenangan. Mengubah cara mendengar. Mengubah cara merespons kritik. Mengubah cara menghadapi penolakan. Dan yang tidak kalah penting, mengubah cara memandang dirinya sendiri.
Saya juga belajar bahwa seorang pemimpin memerlukan strategi, bukan hanya untuk menggerakkan orang lain, tetapi juga untuk menjaga dirinya sendiri.
Strategi mengelola ego agar tidak selalu ingin menjadi pusat perhatian. Strategi mengelola emosi agar tidak bereaksi terhadap setiap kebisingan. Strategi memilih persoalan mana yang harus diselesaikan dan mana yang justru akan kehilangan kekuatannya apabila tidak diberi panggung.
Sebab tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua penolakan harus dilawan. Tidak semua kebisingan layak memperoleh perhatian.
Ada kalanya perubahan cukup dijaga dengan satu hal yang sederhana: tetap konsisten menjalankan apa yang diyakini benar.
Saya juga semakin memahami bahwa sebagian orang yang hari ini sulit menerima perubahan bukanlah orang yang harus disalahkan. Mereka sering kali adalah hasil dari sistem yang telah membentuk cara berpikir mereka selama bertahun-tahun. Karena itu saya tidak lagi terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Saya lebih tertarik membangun sistem yang perlahan menghadirkan cara berpikir yang baru.
Saya percaya bahwa budaya tidak pernah lahir dari satu keputusan besar. Budaya lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dari konsistensi lahirlah kebiasaan. Dari kebiasaan tumbuh budaya. Dan dari budaya itulah sebuah organisasi perlahan membangun peradabannya.
Pada akhirnya saya sampai pada satu keyakinan.
Jabatan seorang pemimpin selalu memiliki batas waktu. Program suatu hari akan berganti. Nama seorang pemimpin perlahan akan dilupakan.
Namun apabila cara berpikir yang ia tanamkan tetap hidup di dalam orang-orang yang pernah dipimpinnya, sesungguhnya ia belum benar-benar meninggalkan organisasi itu.
Karena pemimpin tidak mewariskan pengikut. Ia mewariskan cara berpikir.
Dan selama cara berpikir itu terus hidup, selama itu pula kepemimpinannya masih bekerja, bahkan ketika dirinya telah selesai menjalankan amanah.

Tamalatea, 1 Agustus 2026

Related Articles

Back to top button