Hang Jebat: Melihat yang Tak Terlihat.
Bukan tentang seekor kambing, tetapi tentang cara anak-anak memandang manusia

Kebetulan saya dan istri sedang menjalankan puasa Arafah. Sore itu kami berbuka sederhana di rumah. Di hadapan saya ada segelas air bunga telang. Warnanya biru, tetapi jika dilihat dari sisi lain tampak mendekati keunguan. Entah karena cahaya, arah pandang, atau mungkin memang hidup sedang mengajarkan sesuatu kepada saya: bahwa satu peristiwa yang sama terkadang memiliki makna berbeda, tergantung dari cara kita melihatnya. Dan sore itu, saya seperti sedang diajak melihat sesuatu dari sisi yang lain.
Di ujung santapan sederhana itu, istri saya menyampaikan sebuah cerita yang membuat saya terdiam cukup lama. Hari itu, seorang petugas kebersihan di sekolah kami mendadak menjadi pembicaraan banyak orang. Wajahnya berubah. Suaranya bergetar. Ia beberapa kali menundukkan kepala seolah tidak percaya ketika mengetahui bahwa siswa-siswa kelas Hang Jebat 8 menghadiahkan seekor kambing kurban atas nama dirinya. Bukan atas nama kelas. Bukan atas nama organisasi. Tetapi benar-benar atas nama dirinya.
Di sekolah anak dan tmpat istri saya mengajar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Rohani Islam (Rohis) bersama majelis guru memang menggagas sebuah gerakan belajar berkurban. Guru dan siswa diajak menyumbang semampunya, lalu dana yang terkumpul dibelikan hewan kurban untuk disembelih saat Idul Adha. Tidak ada paksaan dalam gerakan ini. Semuanya berjalan sederhana. Narasinya sederhana. Penyampaiannya juga sederhana. Belajar berbagi, belajar peduli, dan belajar berkurban. Guru-guru ikut menyumbang semampunya, siswa juga demikian.
Namun di tngah gerakan yang sama itu, kelas Hang Jebat 8 ternyata memaknainya dengan cara yang berbeda. Dan justru di situlah letak mahalnya. Mereka tidak berhenti pada makna “ikut menyumbang”, tetapi melangkah lebih jauh: melihat sosok manusia yang selama ini nyaris tidak terlihat. Jujur saja, dalam kehidupan sekolah, petugas kebersihan sering hadir seperti bayangan. Ia ada setiap hari, tetapi keberadaannya nyaris tidak disadari. Kita datang ke sekolah dalam keadaan bersih, kelas rapi, halaman nyaman, toilet terjaga, sampah hilang dari pandangan, seolah semuanya memang sudah seharusnya demikian. Padahal ada tangan-tangan sunyi yang bekerja di balik semua itu. Datang lebih pagi. Pulang lebih sore. Bekerja tanpa sorotan. Tanpa banyak disebut. Dan mungkin karena pekerjaan itu begitu dekat dengan keseharian, kita sering lupa melihat sosok manusianya.
Yang membuat saya semakin tersentuh, petugas kebersihan itu sendiri masih sangat muda. Usia yang bagi banyak orang masih penuh perjuangan dan pencarian hidup. Tetapi di usia itu, ia sudah memilih menjalani pekerjaan yang mungkin tidak banyak dilirik orang, namun sangat penting bagi kehidupan sekolah ini. Dan anak-anak Hang Jebat 8 ternyata mmpu melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian banyak orang dewasa. Mereka melihat pengabdiannya. Mereka melihat ketulusannya bekerja. Mereka melihat sosok yang selama ini ikut menjaga sekolah tetap hidup dan nyaman bagi semua orang.
Dan menurut saya, inilah bagian paling mahal dari peristiwa itu. Bukan kambingnya. Karena kambing bisa dibeli siapa saja yang memiliki uang. Tetapi kemampuan melihat manusia yang nyaris tak pernah terlihat, itu tidak dimiliki semua orang.
Tulisan ini juga bukan untuk membandingkan manusia dengan manusia lainnya. Saya justru sedang berbicara kepada diri saya sendiri. Karena jujur saja, peristiwa kecil ini seperti memberikan pelajaran besar kepada saya dan keluarga saya. Bahwa terkadang kita menjalani hari terlalu cepat, terlalu sibuk dengan rutinitas, hingga lupa memperhatikan orang-orang yang diam-diam memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Dan hari itu, anak-anak muda justru memperlihatkan cara pandang yang sangat jernih. Mereka memilih menghargai seseorang yang selama ini bekerja dalam diam. Dan menurut saya, itu bukan hal kecil.
Nama “Hang Jebat” sendiri terasa seperti bukan kebetulan. Dalam sejarah Melayu, Hang Jebat dikenal sebagai sosok yang memiliki keberanian, kesetiaan, dan keberanian berpikir melampaui kebiasaan umum. Dan hari ini saya seperti melihat nama itu hidup pada diri anak-anak ini. Benar kata orang-orang tua dahulu: nama adalah doa. Nama baik diberikan dengan harapan tumbuh menjadi karakter yang baik. Dan mungkin hari ini, kita sedang melihat doa itu perlahan menemukan bentuknya. Hang Jebat 8 ternyata bukan hanya nama kelas. Ia prlahan menjadi cara berpikir, cara memandang manusia, dan cara menghargai kehidupan.
Kelas Hang Jebat 8, kalian memang hebat. Kalian terdepan. Bukan karena berhasil membeli seekor kambing, tetapi karena di usia muda kalian sudah mampu melihat kemuliaan pada sosok yang selama ini nyaris tidak terlihat. Kelak mungkin di antara kalian ada yang menjadi guru, pengusaha, pengacara, ustaz, ustazah, dokter, dosen, pemimpin, ataupun profesi-profesi hebat lainnya. Kalian akan tumbuh dengan jalan hidupnya masing-masing, membawa cita-cita dan masa depan sendiri-sendiri. Namun saya berharap, ketika hari-hari besar itu benar-benar datang kepada kalian, kalian tidak kehilangan cara pandang yang indah ini. Tetap mampu melihat orang-orang sederhana di sekitar kalian. Tetap mampu menghargai mereka yang bekerja dalam diam. Tetap mampu memuliakan manusia tanpa melihat tinggi rendah kedudukannya.
Karena sesungguhnya dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Dunia jauh lebih membutuhkan manusia yang memiliki hati. Dan malam ini, entah mengapa, saya merasa masa depan masih memiliki harapan. Terima kasih Hang Jebat.
Tamalatea, Mei 2026



Masya Allah, jadi mewek baca nya, semoga saja Hang Jebat2 ini sukses dimasa depan dan tetap baik hati
Terima kasih Talamatea