Warisan Terbesar Sebuah Sekolah
Bukan Sekadar Membangun Program, tetapi Menumbuhkan Budaya

POHON yang tumbuh di tanah yang subur memang lebih mudah menjulang tinggi. Namun kehebatan seorang pekebun tidak diukur dari kemampuannya merawat pohon yang sejak awal telah tumbuh baik. Kehebatannya justru terlihat dari kesabaran merawat setiap pohon, hari demi hari, musim demi musim, hingga akhirnya seluruh kebun bertumbuh bersama.
Entah mengapa, beberapa bulan terakhir saya terus memikirkan metafora itu. Bukan ketika sedang menyusun program sekolah atau memimpin rapat, melainkan ketika saya berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah dan melihat anak-anak datang setiap pagi dengan wajah, harapan, latar belakang keluarga, serta pengalaman hidup yang berbeda-beda. Di hadapan saya bukan sekadar siswa yang sedang belajar, melainkan manusia-manusia muda yang sedang bertumbuh. Masing-masing membawa cerita yang tidak sama, tetapi semuanya datang dengan satu harapan: menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari kemarin.
Pikiran saya kemudian melayang pada perjalanan dunia pendidikan beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat bagaimana dahulu ada sekolah-sekolah yang begitu disegani. Menjadi bagian dari sekolah itu adalah sebuah kebanggaan. Prestasinya hampir selalu menjadi pembicaraan, kegiatannya mudah mendapat tempat di media, dan namanya menjadi simbol keberhasilan. Tidak sedikit orang tua yang rela melakukan berbagai cara agar anaknya dapat belajar di sana. Semua itu tentu merupakan hasil kerja keras yang patut dihargai. Namun perubahan demi perubahan dalam dunia pendidikan membuat saya bertanya kepada diri sendiri, apakah kehebatan sebuah sekolah hanya dapat diukur dari nama besarnya, dari banyaknya prestasi yang diraih, atau dari siapa yang berhasil diterima sebagai siswanya?
Pertanyaan itu tidak pernah saya arahkan kepada sekolah lain. Ia justru menjadi bahan perenungan bagi diri saya sendiri sebagai seorang kepala sekolah. Sebab setiap pagi sekolah menerima amanah berupa anak-anak yang memiliki kemampuan, karakter, dan latar belakang yang beragam. Tidak ada satu pun yang sama. Masing-masing datang membawa potensi yang telah Allah titipkan kepada mereka. Jika demikian, bukankah tugas sekolah bukan memilih siapa yang layak berkembang, melainkan menghadirkan lingkungan yang membuat setiap anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh?
Dari sanalah cara saya memandang sekolah perlahan berubah. Saya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan bagaimana menghadirkan semakin banyak program. Saya justru lebih sering bertanya, apakah program-program yang telah kami bangun benar-benar hidup dalam keseharian warga sekolah. Sebab saya menyadari bahwa program hanyalah sebuah wadah. Ia dapat menggerakkan kegiatan, tetapi belum tentu mengubah manusia. Yang mengubah manusia adalah kebiasaan yang dijalankan secara konsisten. Dari konsistensi lahirlah pembiasaan, dari pembiasaan tumbuh budaya, dan dari budayalah karakter seseorang perlahan terbentuk.
Karena keyakinan itulah, beberapa ikhtiar yang kami bangun di SMAN 14 Batam sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak mengejar sesuatu yang rumit atau spektakuler. Kami lebih memilih menghadirkan pengalaman-pengalaman kecil yang terus diulang sehingga menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Salah satunya adalah sebuah pembiasaan yang kami sebut Suluh Pekerti. Setiap hari, tepat pukul 10.00 WIB, seluruh aktivitas pembelajaran berhenti sejenak. Apa pun mata pelajaran yang sedang berlangsung, baik di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah lainnya, guru dan siswa bersama-sama mendengarkan satu lagu yang diputar secara bergantian—Indonesia Raya, Padamu Negeri, Syukur, Mars Sekolah, atau Himne Sekolah—yang kemudian dilanjutkan dengan narasi singkat tentang kehidupan. Ada hari ketika anak-anak diajak merenungkan perjuangan orang tua, ada hari ketika mereka diingatkan tentang pentingnya menghormati guru, menghargai teman, bersyukur, peduli kepada sesama, menjaga amanah, atau menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Seluruh rangkaian itu hanya berlangsung sekitar tiga menit, tetapi saya percaya bahwa tiga menit refleksi yang dihadirkan setiap hari selama tiga tahun akan meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada nasihat panjang yang hanya didengar sesekali.
Saya tidak pernah menganggap Suluh Pekerti sebagai program yang luar biasa. Ia hanyalah salah satu contoh kecil dari keyakinan yang sedang kami bangun. Yang ingin kami rawat sesungguhnya bukanlah nama programnya, melainkan kebiasaan berhenti sejenak untuk merenung. Saya percaya bahwa pendidikan bukan hanya mengajarkan anak untuk berpikir, tetapi juga memberi ruang agar hati mereka tetap hidup. Di tengah kesibukan belajar, mengejar nilai, dan berbagai aktivitas sekolah, mereka tetap membutuhkan waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri, mengingat jasa orang tua, menghormati guru, menyayangi teman, dan menyadari bahwa menjadi manusia baik adalah tujuan yang tidak kalah penting dibanding menjadi manusia pintar.
Pengalaman memimpin sekolah juga mengajarkan saya satu hal yang sangat berharga. Yang paling mudah dalam dunia pendidikan adalah menyusun sebuah program. Dalam sebuah rapat, sebuah gagasan sering kali terdengar begitu indah. Kalimat-kalimatnya menginspirasi, semua peserta rapat mengangguk setuju, dan suasana dipenuhi optimisme. Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah rapat berakhir. Ketika rutinitas kembali datang, ketika tidak ada lagi presentasi dan tepuk tangan, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana: apakah kita masih menjalankannya esok hari, minggu depan, bahkan tahun depan? Di situlah konsistensi diuji. Saya terus mengingatkan diri saya sendiri agar tidak terpesona oleh indahnya sebuah konsep, tetapi lebih sungguh-sungguh menjaga pelaksanaannya.
Saya semakin yakin bahwa sekolah yang bertumbuh bukanlah sekolah yang setiap tahun melahirkan banyak program baru. Sekolah yang bertumbuh adalah sekolah yang mampu menjaga hal-hal baik tetap hidup. Guru menghadirkan keteladanan yang sama, tenaga kependidikan memberikan pelayanan yang sama, aturan diterapkan secara adil kepada siapa pun, dan seluruh warga sekolah berjalan dalam harapan yang sama terhadap setiap anak. Ketika itu mampu dijaga, sekolah tidak lagi digerakkan oleh aturan semata, melainkan oleh budaya yang tumbuh dari kesadaran bersama.
Harapan saya sebenarnya sangat sederhana. Saya berharap suatu hari nanti orang mengenal lulusan SMAN 14 Batam bukan hanya karena kemampuan akademiknya, tetapi juga karena kejujurannya, kedisiplinannya, tanggung jawabnya, kepeduliannya, kesopanannya, serta kemampuannya menghargai orang lain. Nilai akademik tentu penting dan sekolah berkewajiban menghadirkan pembelajaran terbaik agar setiap anak berkembang secara intelektual. Namun saya percaya bahwa kehidupan tidak hanya meminta manusia menjadi cerdas. Kehidupan jauh lebih sering meminta manusia menjadi pribadi yang dapat dipercaya.
Refleksi ini sesungguhnya saya tulis bukan untuk mengoreksi siapa pun. Tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri saya sendiri. Saya ingin terus belajar menjadi pemimpin yang tidak hanya mampu merancang program, tetapi juga setia menjaga program itu tetap hidup. Saya ingin terus mengingat bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah-langkah yang besar. Sering kali ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesabaran, diulang setiap hari, dan dijaga bersama oleh seluruh warga sekolah.
Pada akhirnya, jabatan kepala sekolah hanyalah sebuah amanah yang memiliki batas waktu. Suatu hari saya akan meninggalkan ruangan ini, orang lain akan melanjutkan tugas ini, dan nama saya perlahan mungkin akan dilupakan. Namun apabila kebiasaan-kebiasaan baik itu tetap hidup, apabila budaya sekolah terus terjaga, dan apabila para alumninya dikenal sebagai pribadi-pribadi yang berkarakter, maka saya percaya sekolah ini telah meninggalkan warisan yang sesungguhnya. Sebab pada akhirnya, warisan terbesar sebuah sekolah bukanlah gedung yang megah, bukan pula banyaknya program yang pernah dilaksanakan, melainkan manusia-manusia yang membawa nilai-nilai kebaikan ke mana pun mereka melangkah. Dan saya percaya, warisan seperti itulah yang akan terus hidup, bahkan ketika kita sendiri telah selesai menjalankan amanah.
Tamalatea, 4 Juli 2026



