Partitur Kepemimpinan
CAPING Kepala Sekolah: Bukan Sekadar Pemilihan, Tetapi Membangun Barisan
Catatan Reflektif Kepala Sekolah dalam Membangun Tim yang Sejalan, Saling Menguatkan, & Bergerak Menuju Perubahan

SEJAK mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah pada tahun 2022, saya memiliki cara tersendiri dalam menentukan wakil kepala sekolah. Di sekolah sebelumnya, saya terbiasa memilih dan menetapkan langsung siapa yang akan menjadi bagian dari tim kepemimpinan sekolah.
Bukan tanpa alasan. Bagi saya, wakil kepala sekolah adalah orang yang bekerja paling dekat dengan kepala sekolah. Ia tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi menjadi ujung tombak dalam menerjemahkan visi sekolah menjadi program nyata.
Namun saat diberi amanah memimpin di SMAN 14 Batam, saya mencoba pendekatan yang berbeda. Saya sadar datang sebagai orang baru yang belum memahami sepenuhnya karakter, kebiasaan, dan dinamika yang telah terbentuk di sekolah ini. Saya meyakini bahwa guru dan tenaga kependidikan yang sudah lama bertugas lebih mengenal siapa yang memiliki kemampuan, dipercaya, dan pantas menduduki posisi tersebut.
Atas pertimbangan itu, saya memberikan kepercayaan kepada warga sekolah untuk memilih wakil kepala sekolah secara langsung. Tidak ada daftar calon yang saya susun, tidak ada nama yang saya arahkan. Setiap orang bebas memilih berdasarkan penilaiannya masing-masing.
Saya berharap proses ini melahirkan tim kepemimpinan yang kuat. Namun perjalanan waktu memberikan pelajaran berharga. Saya menyadari bahwa pemilihan tidak cukup hanya berdasarkan suara terbanyak. Jabatan wakil kepala sekolah bukan sekadar soal kepercayaan individu, melainkan juga kemampuan bekerja dalam satu arah kepemimpinan.
Para wakil yang terpilih memiliki kemampuan dan pengalaman masing-masing, namun dalam pelaksanaannya, setiap bidang masih berjalan sebatas rutinitas: bidang kurikulum mengurus jadwal pelajaran dan pelaksanaan ujian; bidang kesiswaan menangani kegiatan rutin seperti upacara, baris-berbaris, dan senam; bidang sarana prasarana menangani penerimaan barang dan perbaikan fasilitas; sedangkan bidang humas belum memiliki penanggung jawab tetap.
Dari situ saya berpikir: tugas wakil kepala sekolah tidak boleh berhenti pada rutinitas. Ia harus ikut memikirkan arah sekolah, menyusun program, melakukan evaluasi, serta mendorong perubahan. Saya pun belajar bahwa organisasi tidak cukup hanya memiliki orang baik secara individu, tetapi butuh tim yang memiliki satu tujuan.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan di SMAN 14 Batam, saya memperbaiki proses penetapan wakil kepala sekolah. Saya tidak lagi menggunakan pola pemilihan langsung seperti sebelumnya, namun tetap melibatkan warga sekolah karena penilaian mereka tetap menjadi masukan penting.
Kali ini saya meminta mereka menuliskan nama-nama yang dianggap pantas untuk setiap bidang tugas, lengkap dengan alasannya. Dari hasil tersebut, saya mendapatkan sejumlah nama yang dinilai mampu dan dipercaya. Proses kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk melihat cara berpikir, pemahaman tugas, kesiapan bertanggung jawab, dan pandangan mereka terhadap kepemimpinan sekolah.
Saya tidak mencari orang yang paling dikenal atau paling dekat dengan saya, melainkan orang yang memahami bahwa jabatan ini adalah sebuah amanah. Pada akhirnya, keputusan penetapan tetap berada di tangan saya sebagai kepala sekolah — bukan untuk mengambil hak orang lain, melainkan karena tanggung jawab akhir kepemimpinan ada pada posisi ini.
Setelah keempat wakil kepala sekolah ditetapkan, langkah terpenting berikutnya adalah menyamakan pemahaman mengenai peran dan kedudukan mereka. Saya duduk bersama mereka dan menegaskan bahwa keempatnya memiliki kedudukan yang setara, hanya berbeda ruang lingkup tugas dan kewenangan.
Wakil kepala sekolah bidang kurikulum bertanggung jawab atas proses pembelajaran dan kualitas akademik. Bidang kesiswaan membina perkembangan dan penguatan karakter siswa. Bidang sarana prasarana menjaga ketersediaan dan kelayakan fasilitas sekolah. Bidang humas membangun komunikasi serta hubungan baik dengan lingkungan sekitar dan pihak terkait. Semua bidang sama pentingnya dan saling mendukung satu sama lain.
Saya juga menyampaikan bahwa pengalaman kerja yang panjang memang berharga, namun tidak boleh membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain. Yang dibutuhkan bukan orang yang paling dominan, melainkan yang mampu bekerja sama. Wakil kepala sekolah bukanlah “kepala sekolah kedua”, melainkan bagian dari tim yang bersama-sama mewujudkan visi sekolah.
Ke depan, tugas saya adalah menjaga agar batasan ini tetap terjaga: setiap wakil memahami tugasnya, menjalankan kewenangannya, namun tetap bergerak dalam satu arah. Saya ingin mereka dapat berdiskusi, bertukar gagasan, menyusun program masing-masing, dan saling mendukung. Sebab sekolah tidak akan berkembang jika para pemimpinnya berjalan sendiri-sendiri.
Sekolah membutuhkan orang-orang dengan keahlian berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama. Dari pengalaman ini saya belajar: kepemimpinan bukan hanya soal memilih orang yang tepat, melainkan membangun orang-orang yang berbeda menjadi satu barisan yang kuat.
Pada akhirnya, perubahan sekolah tidak dibangun oleh satu orang saja — melainkan oleh mereka yang mau berjalan bersama.
Tamalatea, Juni 2026




