Partitur KepemimpinanTerkini

Membangun Budaya, Bukan Sekadar Membuat Larangan

Sekolah tidak sedang berperang dengan HP, tetapi sedang mengembalikan perhatian ke ruang belajar

Bel masuk sudah berbunyi. Guru memasuki kelas. Sebagian siswa masih menatap layar telepon genggamnya. Ada yang sedang membalas pesan, ada yang menyelesaikan permainan, ada pula yang masih asyik menggulir media sosial. Ketika guru berdiri di depan kelas, beberapa siswa buru-buru memasukkan HP ke dalam tas, sementara yang lain baru meletakkannya di atas meja.

Guru membuka buku pelajaran. Telepon genggamnya ikut diletakkan di samping buku. Pembelajaran dimulai. Beberapa menit kemudian layar HP guru menyala. Guru melirik sebentar, membaca pesan yang masuk, lalu membalasnya dengan cepat sebelum kembali melanjutkan pelajaran.

Pemandangan seperti itu hari ini bukan lagi sesuatu yang aneh. Di beberapa sekolah, suasana seperti itu mudah kita temukan. Lama-kelamaan kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, mungkin di situlah persoalan kita sebenarnya dimulai.

Bel istirahat berbunyi. Siswa keluar kelas menuju kantin. Mereka berjalan bersama, duduk di tempat yang sama, tetapi perhatian mereka tidak selalu berada di tempat yang sama. Tidak sedikit yang lebih sibuk menatap layar telepon daripada berbincang dengan teman di sampingnya.

Tidak ada yang salah dengan HP. Yang mulai bermasalah adalah perhatian kita. Teknologi tidak pernah memilih untuk mengganggu manusia. Justru kitalah yang sering gagal memilih kapan harus menggunakannya dan kapan harus menyimpannya.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca Surat Edaran Gubernur tentang pembatasan penggunaan telepon seluler di lingkungan satuan pendidikan. Saya membacanya lebih dari sekali. Semakin saya membacanya, semakin saya merasa bahwa yang sedang diajak untuk dibangun bukan sekadar pembatasan penggunaan HP, melainkan budaya belajar yang lebih tertib, lebih fokus, dan lebih sehat.

Dari situlah saya mulai bertanya kepada diri sendiri, bagaimana cara menerapkannya di sekolah kami?. Saya menyadari bahwa setiap sekolah memiliki budaya, karakter, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, saya percaya tugas kepala sekolah bukan sekadar menjalankan bunyi sebuah aturan, tetapi menerjemahkan tujuan dari aturan itu menjadi kebijakan yang dapat dijalankan dengan baik di sekolahnya.

Saya sendiri tidak pernah berpikir bahwa solusi pertama adalah melarang siswa membawa HP ke sekolah. Bukan karena saya ingin menghindari pertemuan ataupun berbagai protes dari orang tua dan masyarakat. Sebagai kepala sekolah saya memahami bahwa setiap kebijakan selalu memiliki konsekuensi. Namun saya juga percaya bahwa tugas kita bukan sekadar membuat aturan, melainkan memastikan aturan itu dapat dipahami, diterima, dan dijalankan secara konsisten.

Hari ini HP sudah menjadi bagian dari kehidupan. Anak-anak menggunakannya untuk berkomunikasi dengan orang tua, memperoleh informasi, bahkan dalam kondisi tertentu mendukung pembelajaran. Karena itu, saya lebih memilih mengatur penggunaannya daripada memperdebatkan keberadaannya.

Dari situlah lahir sebuah gagasan sederhana.

Sekolah menyiapkan loker penyimpanan HP di setiap kelas.

Setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, seluruh siswa menyimpan HP mereka di dalam loker. Selama pembelajaran berlangsung, perhatian mereka kembali kepada guru, kepada teman, dan kepada proses belajar.

Pada waktu istirahat pertama HP tetap berada di dalam loker. Saya berharap anak-anak kembali menikmati waktu istirahat sebagaimana mestinya. Mereka berbicara dengan teman, bermain, tertawa, saling bercerita, atau sekadar duduk bersama tanpa harus terus-menerus melihat layar telepon.

Pada istirahat kedua mereka diperbolehkan menggunakan HP. Setelah bel masuk berbunyi, HP kembali disimpan hingga pembelajaran selesai. Mengapa tidak langsung melarang?. Karena saya percaya budaya tidak dibangun dengan menarik rem secara mendadak. Perubahan perilaku membutuhkan waktu.

Perubahan membutuhkan pembiasaan.

Dan pembiasaan membutuhkan kesabaran.

Sekolah juga tidak cukup hanya membuat aturan. Sekolah harus menyiapkan jalan agar aturan itu dapat dijalankan. Loker bukan tujuan. Loker hanyalah alat. Kalau suatu hari nanti budaya itu sudah terbentuk, loker tidak akan menjadi barang yang sia-sia. Ia dapat dialihkan fungsinya menjadi tempat menyimpan infokus atau perangkat pembelajaran lainnya.

Yang sedang kami bangun bukan loker.

Yang sedang kami bangun adalah budaya.

Saya menyadari bahwa tidak semua sekolah akan memilih cara yang sama. Kalau ada sekolah yang memilih melarang siswa membawa HP ke sekolah, kita patut menghormati pilihan tersebut. Saya tidak pernah mengatakan bahwa cara itu salah. Saya justru percaya bahwa setiap kepala sekolah lebih memahami kondisi sekolah yang dipimpinnya. Merekalah yang setiap hari hidup bersama guru, siswa, tenaga kependidikan, dan orang tua di sekolah itu. Bukan kita yang melihat dari jauh lalu menafsirkan bahwa semua sekolah memiliki persoalan yang sama dengan sekolah kita. Setiap kebijakan yang baik selalu lahir dari kebutuhan dan kondisi sekolahnya masing-masing.

Namun, bagi saya, pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah apakah sebuah aturan terdengar tegas, melainkan apakah aturan itu benar-benar dapat dijalankan secara konsisten. Apakah seluruh guru memiliki komitmen yang sama? Apakah semangat pada hari pertama masih tetap terjaga beberapa bulan kemudian?. Pengalaman mengajarkan bahwa membuat aturan jauh lebih mudah daripada menjaga komitmen untuk melaksanakannya.

Karena itu saya selalu percaya bahwa kebijakan bukan hanya soal keberanian membuat aturan. Kebijakan adalah kemampuan memastikan bahwa aturan itu benar-benar hidup dalam keseharian sekolah. Sebab kebijakan yang hanya berhenti di atas kertas akan menjadi dokumen. Sebaliknya, kebijakan yang dijalankan secara konsisten akan berubah menjadi budaya.

Membangun budaya juga tidak mungkin hanya dilakukan oleh sekolah. Kalau hanya guru dan siswa yang bergerak, sering kali yang terjadi adalah tarik-menarik. Guru berusaha menegakkan aturan, sementara siswa berusaha mencari celah untuk menghindarinya. Karena itu orang tua harus ikut dilibatkan. Mereka perlu memahami bahwa tujuan dari kebijakan ini bukan membatasi anak, tetapi membantu anak belajar mengendalikan dirinya.

Ketika sekolah, orang tua, dan siswa memiliki pemahaman yang sama, kebijakan itu tidak lagi menjadi milik sekolah. Ia telah menjadi komitmen bersama.

Dalam budaya kita mengenal sebuah ungkapan bijak, menarik rambut di dalam tepung. Rambutnya dapat diambil, tetapi tepungnya tidak berserakan. Menurut saya, begitulah seharusnya kebijakan pendidikan dijalankan. Masalahnya selesai, hubungan antarmanusia tetap terjaga, dan tujuan yang ingin dicapai dapat diraih tanpa meninggalkan kegaduhan yang sebenarnya tidak perlu.

Saya tidak tahu berapa lama budaya itu akan terbentuk. Mungkin dua bulan, mungkin satu semester, atau mungkin lebih lama. Namun saya percaya, selama guru memberikan teladan, sekolah menyiapkan sistem yang baik, orang tua mendukung, dan siswa diajak memahami tujuan dari setiap kebiasaan yang dibangun, perubahan itu akan terjadi.

Saya berharap suatu hari nanti siswa menyimpan HP bukan karena takut dirazia atau takut dihukum. Mereka menyimpannya karena memahami bahwa saat belajar memang waktunya belajar. Guru pun tidak lagi merasa tergoda untuk sesekali melihat layar telepon ketika sedang mengajar. Pada saat itulah loker sudah tidak lagi menjadi bagian yang penting. Yang penting adalah kesadaran itu telah tumbuh.

Karena sesungguhnya sekolah bukan tempat menyita HP. Sekolah adalah tempat mendidik manusia agar mampu mengendalikan dirinya, termasuk ketika memegang HP.

Pada akhirnya saya semakin percaya bahwa membangun budaya jauh lebih penting daripada sekadar membuat larangan. Larangan mungkin mampu menghentikan sebuah perilaku untuk sementara. Namun budaya lahir dari keteladanan, pembiasaan, komitmen, dan kerja sama yang dijaga dari hari ke hari.

Aturan mampu mengubah perilaku ketika seseorang sedang diawasi. Tetapi budaya akan mengubah perilaku, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengawasi.

Entahlah. Barangkali cara yang saya pilih ini juga belum tentu menjadi cara yang paling benar. Namun, untuk kondisi sekolah kami hari ini, inilah jalan yang saya yakini paling mungkin ditempuh.

Bagaimana dengan sekolah Bapak dan Ibu?

Tamalatea, 9 Juli 2026

Related Articles

2 Comments

  1. Luar biasa, sangat menginspirasi pak Kepsek. Membuka pikiran kita yang tentunya akan berusah juga membangun budaya ini. Terima kasih, siap dengan tulisan berikutnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button