Diktat & DramaturgiTerkini

Bukan Sekadar Dokumen, Ini Tentang Ruang Tumbuh Murid

Ketika RPM Tidak Berhenti di Atas Kertas

Belakangan ini, setelah melakukan observasi kinerja dan observasi kelas kepada beberapa guru, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya. Bukan karena guru-guru tidak bekerja dengan baik. Justru saya melihat ada banyak usaha yang sudah dilakukan untuk mengikuti perubahan. Perangkat pembelajaran mulai disusun dengan arah yang lebih baik. Dalam RPM sudah terlihat delapan dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, pengalaman belajar memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi, serta berbagai kerangka pembelajaran yang diharapkan dapat membuat proses belajar menjadi lebih mendalam.

Namun, persoalan kita mungkin bukan lagi pada apakah semua itu sudah tertulis, melainkan apakah kita benar-benar memahami apa yang kita tuliskan dan mampu menerjemahkannya ke dalam praktik nyata di kelas.

Sebuah konsep akan kehilangan maknanya ketika hanya berhenti sebagai bagian dari dokumen. Siswa tidak membaca RPM kita. Mereka tidak mengetahui berapa banyak komponen Pembelajaran Mendalam yang kita masukkan ke dalamnya. Yang mereka rasakan adalah bagaimana guru memperlakukan mereka, bagaimana pembelajaran berlangsung, seberapa besar kesempatan yang mereka miliki untuk berpikir dan berbicara, serta apakah kelas menjadi tempat yang membuat mereka nyaman untuk belajar.

Hal yang sama saya temukan dalam observasi kinerja. Beberapa guru ternyata belum benar-benar memahami rubrik kinerja yang mereka pilih. Pilihan tersebut lebih banyak lahir dari kesepakatan bersama atau sekadar untuk memenuhi kewajiban administratif. Padahal, rubrik seharusnya menjadi cermin yang membantu guru melihat praktiknya sendiri dan menemukan bagian mana yang memang perlu diperbaiki.

Jika persoalan kita adalah keterlibatan siswa yang masih rendah, maka di situlah perhatian seharusnya diarahkan. Jika yang perlu diperbaiki adalah pemberian umpan balik, maka rubrik yang dipilih semestinya membantu kita melihat persoalan tersebut. Artinya, memilih rubrik bukan sekadar memilih instrumen yang harus diisi, tetapi menentukan bagian dari praktik kita yang ingin kita ubah.

Di sinilah menurut saya makna penting dari observasi kinerja. Ia bukan sekadar proses untuk melihat apakah seorang guru sudah melakukan sesuatu atau belum. Lebih dari itu, ia seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk bercermin, menyadari kekuatan, melihat kekurangan, lalu menentukan langkah perbaikan. Karena itu, saya berharap ke depan kita tidak lagi memilih rubrik hanya karena pilihan bersama atau karena dianggap paling mudah. Pilihlah karena memang ada sesuatu yang ingin kita perbaiki dari diri kita sebagai guru.

Perkembangan dokumen pun seharusnya berjalan seiring dengan perkembangan praktik di kelas. RPM yang semakin baik tentu merupakan sebuah kemajuan, tetapi jangan sampai dokumen kita sudah berbicara tentang pembelajaran mendalam sementara pengalaman belajar yang dirasakan siswa masih berada dalam pola lama.

Kita menuliskan bahwa siswa akan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi. Kita menuliskan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Semua itu tentu baik. Tetapi yang lebih penting adalah apakah siswa benar-benar mengalami proses tersebut ketika berada di dalam kelas.

Saya kira salah satu kebiasaan yang paling sulit kita tinggalkan adalah pola lama: guru menjelaskan dan siswa mendengarkan. Pola tersebut sudah begitu mengakar sehingga sering kali dianggap sebagai pembelajaran yang wajar. Guru merasa sudah mengajar karena materi telah disampaikan, sementara siswa dianggap sudah belajar karena telah mendengarkan. Padahal, mengajar belum tentu membuat siswa belajar.

Kelas dapat berjalan tenang dan tertib, materi dapat selesai sesuai waktu, dan seluruh tahapan pembelajaran dapat terlaksana sebagaimana direncanakan, tetapi semua itu belum otomatis menunjukkan bahwa pembelajaran benar-benar terjadi secara mendalam. Siswa mungkin hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir pikirannya. Mereka mungkin mendengarkan, tetapi belum tentu memahami. Mereka mungkin mampu menjawab, tetapi belum tentu mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang lain.

Karena itu, perubahan yang kita perlukan mungkin bukan sekadar perubahan metode, melainkan perubahan cara pandang terhadap pembelajaran. Siswa bukan sekadar penerima informasi, tetapi manusia yang harus mengalami proses belajar. Guru tetap memiliki peran yang sangat penting, tetapi bukan lagi sebagai satu-satunya pusat informasi. Guru menjadi pengarah, pendamping, pemberi tantangan, dan orang yang menciptakan kondisi agar siswa memiliki ruang untuk berpikir, mencoba, berdiskusi, menemukan, dan merefleksikan apa yang telah dipelajarinya.

Tidak berarti guru harus berhenti menjelaskan. Penjelasan guru tetap diperlukan. Hanya saja, jangan sampai penjelasan menjadi hampir seluruh pengalaman belajar siswa. Sesekali berikan ruang agar siswa lebih dahulu berhadapan dengan persoalan, mencoba memahami, menyampaikan pendapat, atau mencari kemungkinan jawaban sebelum guru memberikan penguatan. Perubahan kecil seperti itu dapat membuat siswa tidak lagi hanya menjadi pendengar.

Lebih dari itu, kita perlu menghadirkan kelas yang membuat siswa merasa aman. Aman untuk bertanya, aman untuk menyampaikan pendapat, aman untuk mencoba, dan bahkan aman untuk salah. Sebab siswa yang takut salah akan cenderung memilih diam, sedangkan siswa yang merasa pendapatnya tidak dihargai lama-kelamaan akan berhenti mencoba. Ketika seorang siswa memberikan jawaban yang belum tepat, mungkin kita tidak selalu harus segera mengatakan salah. Kita dapat menggali alasan di balik jawaban tersebut. Dari sana kita tidak hanya mengetahui benar atau salahnya jawaban, tetapi juga dapat melihat bagaimana siswa berpikir.

Di tengah upaya kita membenahi ruang kelas inilah, tantangan dari luar datang begitu cepat. Kita sedang berada dalam masa ketika informasi dapat diperoleh hampir tanpa batas. Kehadiran kecerdasan buatan atau AI membuat berbagai informasi, penjelasan, contoh, bahkan alternatif jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik.

Keadaan ini tentu mengubah cara kita memandang peran guru. Jika guru masih melihat dirinya terutama sebagai penyampai informasi, maka kita perlu kembali bertanya apakah peran tersebut masih cukup untuk menjawab kebutuhan siswa hari ini. Informasi ada di mana-mana. Namun kemampuan memahami konteks, mempertanyakan kebenaran, menilai sebuah jawaban, membaca kondisi siswa, membangun hubungan, serta menumbuhkan karakter tetap membutuhkan kehadiran manusia.

Karena itu, saya tidak melihat AI sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Justru AI dapat kita jadikan alat untuk membantu pekerjaan kita. Kita dapat memanfaatkannya untuk merumuskan gagasan, mencari alternatif, mengembangkan pertanyaan, menyusun kemungkinan kegiatan, atau membantu kita melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Tetapi jangan pernah menyerahkan kendali berpikir kepada AI.

Ketika AI memberikan jawaban, jangan langsung percaya hanya karena jawabannya terlihat rapi, lengkap, dan meyakinkan. AI terkadang tidak memahami apa yang sebenarnya kita maksud. Ia dapat keliru, dapat memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan konteks, bahkan dapat menghasilkan sesuatu yang tampak benar tetapi sebenarnya tidak tepat. Lawan logika AI. Bukan dalam arti harus menolak apa pun yang dikatakannya, tetapi jangan menyerahkan nalar kita kepadanya. Baca, pertanyakan, periksa, bandingkan, dan sesuaikan dengan konteks yang kita hadapi.

AI dapat membantu kita merumuskan banyak hal, tetapi ia tidak hidup di dalam konteks yang kita hadapi. Ia tidak mengenal siswa kita, tidak melihat wajah mereka ketika belajar, tidak memahami dinamika kelas, dan tidak memiliki pengalaman yang membentuk keputusan kita sebagai guru. Karena itu, hasil yang diberikan AI tidak pernah boleh menjadi keputusan akhir. Ia harus kita baca, kita uji, kita pertanyakan, bahkan kita lawan ketika tidak sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi. Sebab yang kita perlukan bukan guru yang semakin patuh kepada AI, melainkan guru yang semakin cakap menggunakan AI tanpa kehilangan nalar dan pertimbangan profesionalnya.

Di sinilah saya melihat bahwa perkembangan teknologi sebenarnya tidak mengurangi pentingnya guru. Justru sebaliknya, ia membuat peran guru menjadi semakin bermakna. Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, guru semakin dibutuhkan untuk membantu siswa belajar mempertanyakan jawaban. Ketika informasi semakin banyak, guru semakin dibutuhkan untuk membantu siswa memilih mana yang dapat dipercaya. Ketika teknologi semakin mampu menghasilkan sesuatu, guru semakin dibutuhkan untuk membantu siswa memahami mengapa sesuatu itu penting dan bagaimana menggunakannya dengan benar.

Maka mungkin kita tidak perlu berusaha menjadi guru yang paling banyak menjelaskan. Kita perlu menjadi guru yang mampu membuat siswa lebih banyak berpikir, berdiskusi, mencoba, dan menemukan. Bukan berarti guru kehilangan peran, tetapi perannya bergeser dari sekadar penyampai pengetahuan menjadi penggerak pengalaman belajar.

Pada akhirnya, perubahan pembelajaran tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari keberanian kita untuk jujur kepada diri sendiri. Apakah rubrik yang saya pilih memang menunjukkan sesuatu yang ingin saya perbaiki? Apakah RPP yang saya tulis benar-benar saya pahami? Apakah apa yang saya lakukan di kelas sudah memberi ruang yang cukup bagi siswa untuk berpikir dan terlibat? Dan ketika menggunakan AI, apakah saya masih memegang kendali atas nalar dan keputusan saya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jika kita menjawabnya dengan jujur, saya percaya ia dapat membawa kita pada perubahan yang lebih bermakna. Sebab pada akhirnya, siswa tidak akan mengingat seluruh istilah yang pernah kita tuliskan dalam RPP. Mereka juga mungkin tidak mengingat semua materi yang pernah kita jelaskan. Yang lebih mungkin mereka ingat adalah bagaimana perasaan mereka ketika belajar bersama kita: apakah mereka merasa aman untuk bertanya, dihargai ketika berpendapat, tidak takut ketika salah, dan merasa bahwa apa yang dipelajari memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.

Kita tidak sedang diminta menjadi guru yang sempurna. Kita hanya diajak untuk terus menjadi guru yang mau belajar, berani melihat kekurangan, dan bersedia memperbaiki diri. Sebab kelas bukanlah panggung tempat guru memamerkan seberapa banyak pengetahuan yang dimilikinya. Kelas adalah ruang tempat anak-anak kita tumbuh, menemukan dirinya, membangun cara berpikir, dan belajar memahami kehidupan.

Tugas kita adalah memastikan ruang itu cukup aman untuk membuat mereka berani mencoba, cukup menantang untuk membuat mereka terus berpikir, dan cukup manusiawi untuk membuat mereka merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang bermakna.

Mungkin pada akhirnya, perubahan itu tidak dimulai dari rubrik yang baru, RPP yang lebih lengkap, atau teknologi yang semakin canggih. Perubahan itu dimulai ketika kita sebagai guru bersedia bertanya kepada diri sendiri: apa yang perlu saya ubah agar anak-anak saya tidak hanya datang ke kelas untuk mendengarkan, tetapi pulang membawa sesuatu yang benar-benar berarti bagi dirinya?

Di situlah, mungkin, rubrik menemukan maknanya. Di situlah RPP menemukan ruhnya. Dan di situlah pembelajaran benar-benar menjadi milik siswa.

Tamalatea, 26 Agustus 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button