Partitur KepemimpinanTerkini

Sebelum Menyebut Murid Sulit Diatur

Sebuah Refleksi tentang Murid, Sistem, dan Tanggung Jawab Orang Dewasa

“Murid sekarang sulit diatur.”
Kalimat itu rasanya semakin sering kita dengar di lingkungan sekolah. Keluhannya bermacam-macam: ada yang sering terlambat, sulit bangun pagi, malas mengerjakan tugas, kurang peduli pada aturan, bahkan dianggap kurang menghargai guru. Jika dulu anak masih punya rasa takut atau setidaknya segan kepada gurunya, hari ini rasanya itu mulai menipis. Dari situlah kemudian muncul kesimpulan: anak-anak zaman sekarang memang berbeda dan semakin sulit dibentuk.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua keluhan itu salah. Persoalan disiplin memang ada. Sikap kurang bertanggung jawab juga nyata. Soal sopan santun, etika, dan kepedulian pun kita temukan setiap hari. Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kita perlu lebih berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa akar persoalannya selalu ada pada murid. Jangan-jangan kita terlalu cepat berkata anak sulit diatur, padahal kita belum cukup serius memeriksa apakah sekolah sudah membangun sistem yang membantu mereka belajar menjadi teratur.
Pertanyaan ini terutama saya tujukan kepada diri saya sendiri sebagai pimpinan. Sangat mudah mengatakan murid tidak disiplin, guru tidak mampu mengendalikan kelas, atau siswa tidak punya kesadaran. Jauh lebih sulit untuk bertanya: apakah aturan kita benar-benar jelas? Apakah prosedurnya dipahami? Apakah rutinitasnya dilatih? Dan apakah kita sendiri konsisten menjalankannya? Semakin saya renungkan, persoalan terbesar sering kali bukan semata-mata soal disiplin, melainkan tidak adanya prosedur dan rutinitas yang benar-benar hidup.
Kita terlalu sering memahami disiplin sebagai hukuman. Saat anak terlambat, kita marah. Saat tugas tidak selesai, kita beri sanksi. Saat kelas ribut, kita meninggikan suara. Tentu konsekuensi tetap diperlukan. Sekolah tanpa aturan bukanlah sekolah yang sehat. Namun disiplin tidak seharusnya dimulai dari hukuman. Disiplin seharusnya dimulai dari kebiasaan. Dan kebiasaan lahir dari aturan yang jelas, langkah yang jelas, latihan yang berulang, serta konsistensi orang dewasa dalam menjaganya.
Ambil contoh sederhana: ketepatan waktu masuk kelas. Sekolah mungkin sudah mengatakan bahwa siswa harus masuk tepat waktu. Tetapi apa yang terjadi ketika ada yang terlambat? Apakah prosedurnya selalu sama? Apakah siswa tahu apa yang harus dilakukan? Apakah konsekuensinya jelas dan konsisten? Atau semuanya bergantung pada siapa guru yang sedang mengajar dan bagaimana situasinya hari itu? Hari ini terlambat dibiarkan. Besok ditegur. Lusa dimarahi. Beberapa hari kemudian tidak terjadi apa-apa. Jika begitu, anak sebenarnya tidak sedang belajar disiplin. Ia justru sedang belajar membaca situasi.
Di sinilah bahayanya aturan yang musiman. Kadang kita sangat tegas di awal semester, lalu perlahan longgar. Setelah muncul masalah besar, kita kembali tegas. Tidak lama kemudian longgar lagi. Jika pola ini terus berulang, kita harus berani mengakui bahwa masalahnya tidak hanya terletak pada anak yang melanggar. Sistem yang tidak konsisten ikut memberi ruang bagi pelanggaran itu. Anak tidak mungkin mengikuti aturan yang tidak pernah benar-benar diajarkan, dilatih, dan dijalankan secara konsisten.
Saya membayangkan dua orang guru yang menghadapi situasi kelas yang hampir sama. Guru pertama masuk kelas dan ketika suasana mulai ramai ia berkata, “Diam, jangan ribut! Sudah saya bilang, kenapa tidak didengar?” Besok hal yang sama terulang. Minggu berikutnya pun demikian. Lama-lama ia sampai pada kesimpulan bahwa murid di kelas itu memang sulit diatur.
Guru kedua memilih cara berbeda. Pada hari-hari awal, ia meluangkan waktu mengajarkan bagaimana masuk kelas, memulai pembelajaran, bertanya, berdiskusi, berpindah kelompok, mengumpulkan tugas, dan menutup pelajaran. Semua itu tidak hanya dijelaskan, tetapi dipraktikkan, diulang, dikoreksi, dan dibiasakan. Perlahan kelasnya menjadi lebih tertib. Bukan karena ia lebih galak. Bukan karena suaranya lebih keras. Bukan pula karena hukumannya lebih berat. Ia hanya lebih sistematis.
Murid tahu apa yang diharapkan dari mereka. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya. Ketika prosedur menjadi kebiasaan, guru tidak lagi terlalu banyak menghabiskan energi untuk mengatur perilaku dasar. Energinya dapat digunakan untuk sesuatu yang jauh lebih penting: pembelajaran. Kadang kita menganggap anak SMA sudah besar dan seharusnya tahu bagaimana bersikap. “Masa begitu saja harus diajarkan?”
Tetapi usia tidak otomatis melahirkan kebiasaan baik. Kebiasaan dibentuk oleh lingkungan yang terus mengulang nilai dan tindakan yang sama. Jika kita ingin anak tepat waktu, ketepatan waktu harus dibangun dalam sistem yang jelas. Jika kita ingin mereka tertib berdiskusi, cara berdiskusi perlu dilatih. Jika kita ingin mereka bertanggung jawab terhadap tugas, maka prosedur menerima, mengerjakan, mengumpulkan, dan menindaklanjuti tugas harus dipahami bersama.
Hal yang sama berlaku untuk budaya positif di kelas. Kita sering membuat kesepakatan kelas, membacanya bersama, bahkan menempelkannya di dinding. Tetapi budaya tidak lahir karena tulisan yang ditempel. Budaya lahir dari sesuatu yang dijalankan terus-menerus.
Jika kita sepakat untuk saling menghargai, guru pun harus menunjukkan bagaimana menghargai murid, bahkan ketika sedang marah. Jika kita ingin murid tepat waktu, orang dewasa juga harus menghargai waktu. Jika kita ingin mereka bertanggung jawab, sistem sekolah juga harus memberi kepastian. Jika kita ingin mereka berbicara santun, cara kita berbicara kepada mereka harus menjadi teladan.
Budaya belajar yang baik tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia dibangun setiap hari melalui tindakan-tindakan kecil yang terus diulang. Di sinilah saya merasa perlu lebih banyak bercermin sebagai pimpinan. Ketika kelas mulai ribut, mungkin pertanyaan pertama bukan, “Siapa yang salah?” tetapi, “Prosedur apa yang belum berjalan?” Ketika banyak siswa terlambat, selain memberi konsekuensi, saya juga harus bertanya apakah sistem kedatangan kita sudah jelas dan konsisten.
Ketika banyak tugas tidak terkumpul, jangan langsung berhenti pada kesimpulan bahwa anak malas. Bisa jadi memang ada unsur kemalasan. Tetapi kita juga perlu memeriksa apakah instruksinya jelas, batas waktunya dipahami, cara mengumpulkannya sederhana, dan konsekuensinya konsisten.
Memeriksa sistem bukan berarti membela semua kesalahan murid. Murid tetap harus bertanggung jawab atas pilihannya. Namun sekolah juga harus bertanggung jawab atas lingkungan yang kita bangun untuk membantu mereka belajar bertanggung jawab.
Di situlah bedanya antara sekolah yang sekadar memiliki aturan dengan sekolah yang benar-benar membangun budaya. Aturan bisa selesai ditulis dalam satu hari. Budaya membutuhkan ketekunan setiap hari. Tulisan ini juga tidak saya maksudkan untuk menyalahkan guru. Justru saya ingin menjadikannya refleksi bagi diri saya sendiri.
Mungkin selama ini saya pun terlalu mudah melihat kekurangan orang lain. Ketika ada masalah, saya cepat melihat murid yang tidak disiplin atau guru yang tidak tegas. Padahal sebagai pimpinan, seharusnya saya bertanya lebih dulu: apa yang belum saya bangun? Apakah aturannya cukup jelas? Apakah prosedurnya mudah dipahami? Apakah rutinitasnya benar-benar dijaga? Apakah seluruh warga sekolah memiliki pemahaman yang sama?
Dan pertanyaan yang paling berat: apakah saya sendiri sudah konsisten? Saya semakin percaya bahwa guru hebat tidak hanya mengajarkan materi. Guru juga mengajarkan kebiasaan: bagaimana mendengar, bertanya, menghargai orang lain, bekerja sama, menjaga waktu, menyelesaikan pekerjaan, dan bertanggung jawab. Semua itu mungkin tidak tertulis dalam buku pelajaran. Tetapi justru pelajaran seperti itulah yang akan lama dibawa anak setelah mereka meninggalkan sekolah.
Karena itu, ketika suatu hari saya kembali mendengar—atau bahkan tanpa sadar mengucapkan—kalimat, “Murid sekarang sulit diatur,” saya ingin berhenti sebentar. Bisa saja memang ada anak yang sulit diarahkan. Bisa saja ada pelanggaran yang harus ditindak dengan tegas. Namun sebelum menunjuk mereka, saya ingin mengajukan satu pertanyaan kepada diri sendiri: apakah sekolah sudah cukup baik dalam mengajarkan bagaimana hidup dalam keteraturan? Pertanyaan itu bagi saya tidak ringan.
Jauh lebih mudah menegur murid daripada membangun sistem. Jauh lebih mudah memarahi satu kelas daripada menyepakati prosedur bersama. Jauh lebih mudah mengatakan bahwa anak-anak sekarang sulit diatur daripada mengakui bahwa mungkin kita belum cukup sabar mengajarkan keteraturan. Dan jauh lebih mudah meminta orang lain konsisten daripada bercermin pada konsistensi diri sendiri.
Saya ingin belajar untuk lebih lambat menilai orang lain dan lebih cepat memeriksa diri sendiri. Sebab kepemimpinan, bagi saya, bukan hanya soal kemampuan menegur dan mengarahkan orang lain. Kepemimpinan juga membutuhkan keberanian untuk berkata kepada diri sendiri bahwa mungkin masih ada sesuatu yang belum saya bangun dengan baik.
Barangkali dari sanalah disiplin yang sesungguhnya mulai tumbuh. Bukan karena murid takut dihukum, tetapi karena sekolah secara konsisten mengajarkan cara hidup yang tertib, jelas, dan bertanggung jawab. Dan mungkin, sebelum menyebut murid sulit diatur, kita perlu bertanya terlebih dahulu: Apakah sekolah sudah cukup tertata untuk mengajarkan keteraturan?

Tamalatea, 27 September 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button