
Paizal Amri, bukan hanya dikenal sebagai kepala sekolah, tetapi juga seorang pengajar di Universitas Terbuka, koreografer, pekerja seni, dan pribadi yang aktif menulis serta berkegiatan di dunia budaya. Perjalanan hidupnya bergerak dari panggung seni menuju dunia pendidikan, namun semangat berkarya dan kepekaan artistiknya tetap hidup hingga hari ini.
Ia menamatkan pendidikan menengah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Padang, kemudian melanjutkan pendidikan seni di Akademi Seni Karawitan Indonesia Padang Panjang. Program Sarjana (S1) diselesaikannya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Padang, sedangkan Program Magister (S2) Pengkajian Seni diselesaikan di Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Dalam dunia tari, nama Paizal Amri cukup dikenal melalui berbagai karya koreografi yang tampil di festival nasional maupun internasional. Berbagai penghargaan berhasil diraih, di antaranya Juara 1 Nasional kategori Koreografi Entertainment dan Juara 2 kategori Koreografi Tradisi pada festival di Gedung Kesenian Jakarta. Ia juga memperoleh penghargaan sebagai Penyaji Terbaik, Tari Terfavorit, dan Koreografer Terbaik pada festival tari yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia Surakarta. Pada Festival Pingat Kejohanan Tari di Pekanbaru, ia kembali meraih penghargaan sebagai Penyaji Terbaik 1 dan Koreografer Terbaik.
Karya-karyanya juga beberapa kali mencatat prestasi pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional. Salah satu karyanya berhasil meraih Juara 1 tingkat nasional di Nusa Tenggara Barat, kemudian kembali meraih Juara Harapan 1 di Semarang. Selain itu, karya lainnya kembali memperoleh penghargaan Juara 3 pada festival di Gedung Kesenian Jakarta. Berbagai capaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya sebagai koreografer yang konsisten berkarya dan membangun bahasa artistik di dunia tari Indonesia.
Kiprah keseniannya membawanya diundang dalam berbagai forum dan festival bergengsi, seperti Indonesia Dance Festival di Taman Ismail Marzuki, Pentas Koreografi Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta, Palu Indonesian Dance Forum, Festival Cak Durasim, Contemporary Dance Festival di Padang, Pentas Lima Koreografer Muda Indonesia di STSI Bandung, hingga Pasar Tari Kontemporer di Pekanbaru.
Di dunia pendidikan seni, Paizal Amri dikenal sebagai penggagas kegiatan Pasar Seni Pelajar (PSP) di SMAN 4 Batam yang terlaksana selama tujuh kali berturut-turut dan berkembang dari tingkat provinsi hingga internasional. Ia juga aktif memberikan workshop dan menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan seni di Singapura, Johor, serta berbagai daerah di Kepulauan Riau. Selain itu, ia dipercaya menjadi juri dalam berbagai kegiatan seni, termasuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional dan parade tari di berbagai daerah.
Dalam organisasi kesenian, ia pernah dipercaya menjadi Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau dan juga menjadi pengurus di Dewan Kesenian Kota Batam. Pengalaman tersebut memperkuat keterlibatannya dalam pengembangan seni dan budaya di Kepulauan Riau, terutama dalam membangun ruang kreatif bagi generasi muda.
Selain berkarya di dunia tari, Paizal Amri juga aktif menulis artikel budaya yang dimuat di berbagai media lokal dan nasional, seperti Padang Ekspres, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Batam Pos, dan Media Indonesia. Ia juga aktif menulis di Kompasiana dan blog pribadinya. Meski blog lamanya kini tidak lagi dapat diakses karena keterlambatan pembayaran domain, semangat untuk menulis tidak pernah padam. Kini ia kembali membangun blog pribadi baru yang baru berjalan sekitar dua minggu. “Saya bukan seorang penulis hebat, tetapi seseorang yang terus belajar menulis,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga telah menerbitkan sebuah Menapak Terjal Mendaki Mimpi yang berisi refleksi perjalanan hidup, proses kreatif, serta pandangannya tentang pendidikan dan perjuangan. Saat ini, ia juga tengah mempersiapkan buku keduanya yang berjudul Melawan Tanpa Panggung yang sedang dalam proses penerbitan. Buku tersebut menjadi bagian dari upaya merawat gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan melalui tulisan.
Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi cara untuk menjaga kepekaan terhadap kehidupan, budaya, dan manusia. Meski kini tidak seaktif dulu tampil di panggung-panggung pertunjukan, ia masih terus menulis, memberikan workshop, berdiskusi tentang seni dan pendidikan, serta menjaga kepekaan artistiknya agar tetap hidup dan bersuara.
Saat ini, Paizal Amri juga tengah mematangkan konsep Fourteen Arts Festival di SMAN 14 Batam. Festival tersebut dirancang sebagai ruang kreatif bagi pelajar untuk bertemu, berkarya, dan mengekspresikan diri melalui seni, budaya, dan kreativitas lintas bidang.
Kini, di tengah kesibukannya memimpin SMAN 14 Batam sebagai kepala sekolah sekaligus menjalankan perannya sebagai dosen di Universitas Terbuka, Paizal Amri tetap memegang keyakinan bahwa pendidikan dan seni tidak bisa dipisahkan. Baginya, sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, imajinasi, keberanian, dan kemanusiaan. Hingga hari ini, ia terus belajar, berkarya, dan menjaga nyala kreativitas itu tetap hidup.





Perjalanan hidup yg indah kan pak kepsek
Sukses selalu dipanngung terbaik
kawan aku ini mirip Helmi Yahya,,mantab pak kepsek. sukses selalu
ahaaha… ada aja kawan awak ni. seumur-umuran baru kali ini dibilang mirip helmi yahya. makaseh herman. kawan awak ni orang terapi sejak SMP.