Sinyal BudayaTerkini

Ketika Pergelaran Bukan Sekadar Pertunjukan

Tentang keberanian, kreativitas, dan anak-anak Smansa

Batam – Sabtu, 23 Mei 2026, bertempat di Atrium Timur Mega Mall Batam Centre, SMAN 1 Batam kembali menghadirkan sebuah pergelaran yang bukan sekadar pentas biasa. Sejak pagi suasana atrium telah dipenuhi ratusan orang tua, siswa, guru, dan pengunjung mall yang rela berdiri dari lantai satu hingga lantai tiga demi menyaksikan karya-karya terbaik para siswa Smansa. Sesak, namun tetap tertib. Riuh, namun penuh kekaguman.

Kelas X dan XI tampil dengan sajian yang luar biasa. Mereka menjelajahi kreativitas dengan begitu berani dan brilian. Dari cara mereka membagi dialog, memainkan karakter, hingga mengatur ritme pertunjukan, tampak jelas bahwa setiap kelompok benar-benar mempersiapkan karya mereka dengan serius. Penampilan yang diproses dengan sungguh-sungguh terlihat berbeda: lebih matang, lebih rapi, dan lebih hidup.

Atrium dpenuhi properti pertunjukan. Backdrop menggunakan visual video yang membuat suasana panggung terasa lebih modern dan imajinatif. Manajemen pertunjukan mereka juga tertata baik. Susunan acara rapi, MC mampu menghidupkan suasana, penataan sound system terasa matang, dan kameramen bergerak sigap menangkap setiap momentum penting. Mereka memahami bahwa pertunjukan bukan hanya soal tampil di atas panggung, tetapi bagaimana menghadirkan pengalaman yang utuh bagi penonton.

Namun ada satu hal yang membuat saya benar-benar berhenti sejenak. Di meja para guru pembina dan guru mata pelajaran yang terlibat, tampak tumpukan kertas berjilid. Saat saya membukanya, ternyata itu adalah konsep karya para penampil. Lengkap. Ada sinopsis, pembagian adegan, rancangan artistik, sampai desain lantai dan komposisi gerak. Saat itulah saya sadar, mereka tidak sekadar menari dan berteater. Mereka juga berpikir, merancang, mendiskusikan, dan menuliskan gagasan mereka bersama-sama. Kalian, brilian.

Pergelaran ini pun menjadi menarik karena lahir dari kolaborasi beberapa mata pelajaran: Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Seni Budaya membentuk ekspresi artistik mereka. Bahasa Indonesia melatih penyusunan naskah dan alur cerita. Bhasa Inggris memperluas keberanian mereka dalam penggunaan bahasa dan penyajian karya. Semua berpadu dalam satu ruang kreatif yang hidup.

Kelas X menghadirkan enam karya kolaborasi tari dan teater nusantara yang mengangkat cerita rakyat dan legenda daerah. Sementara kelas XI menyajikan tiga belas karya kolaborasi tari dan musik. Dan jujur, saya melihat ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah latihan kehidupan. Di sana mereka belajar menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, bekerja dalam tim, mengelola emosi, menerima kritik, hingga menyelesaikan konflik bersama-sama. Hal-hal yang mungkin tidak mereka sadari hari ini, tetapi akan sangat mereka butuhkan ketika hidup benar-benar menempatkan mereka di tengah masyarakat. Karena kehidupan itu kompleks. Dan seni sedang melatih mereka menghadapi kompleksitas itu.

Di sela-sela pertunjukan, saya sempat berbincang dengan salah satu orang tua siswa. Wajahnya tidak berhenti tersenyum. Sesekali matanya tampak redup menahan haru saat melihat anak-anak tampil di atas panggung. Saya bertanya, “Bagaimana tanggapan Bapak melihat penampilan anak-anak ini?” Beliau menjawab singkat, namun sangat dalam, “Sebagai orang tua saya bangga. Mereka hebat. Mereka patut diacungi jempol atas keberaniannya.” Dan mungkin memang itu inti dari semuanya. Anak-anak ini sedang belajar berani. Berani tampil. Berani berbicara. Berani mengemukakan gagasan. Berani bekerja sama. Dan berani menjadi diri mereka sendiri.

Dari sekian banyak karya yang tampil hari itu, saya hanya sempat menikmati beberapa penampilan secara utuh. Posisi berdiri saya berada di dekat eskalator, dengan pengunjung mall yang terus berlalu-lalang di depan pandangan. Namun saat penampilan Alice in Wonderland, saya justru berkesempatan duduk dengan nyaman di bagian depan. Dari situlah saya benar-benar menikmati karya mereka secara penuh.

Penampilannya terasa sangat rapi. Pembagian peran berjalan kuat dan total. Musik pengiring yang mereka pilih terasa cerdas dan menyatu dengan suasana pertunjukan. Beberapa kali mereka berhasil membangun kejutan-kejutan kecil yang membuat penonton terpukau. Penonton tertawa, terdiam, lalu kembali bersorak. Mereka tidak sekadar tampil. Mereka memahami bagaimana membawa penonton masuk ke dunia yang mereka bangun di atas panggung.

Dan benar saja, di akhir kegiatan, Alice in Wonderland dari kelas Hang Jebat 8 dinobatkan sebagai Karya Terbaik 1 kelas XI. Sementara Terbaik 2 diraih karya Mamma Mia dari kelas Hang Jebat 1 dan Terbaik 3 diraih Newsies The Musical dari kelas Hang Jebat 3. Untuk kelas X, Terbaik 1 diraih karya Malin Kundang dari kelas Hang Lekir 6, Terbaik 2 karya Calon Arang dari kelas Hang Lekir 3, dan Terbaik 3 karya Roro Jonggrang dari kelas Hang Lekir 2.

Padahal sesungguhnya, kisah Alice bukan hanya tentang seorang gadis yang jatuh ke dunia fantasi bernama Wonderland. Alice adalah gambaran anak-anak muda yang sedang mencari jati dirinya. Sedang mencoba memahami siapa dirinya, apa yang ingin ia capai, dan bagaimana ia harus menghadapi dunia yang terus berubah. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, perjalanan Alice itu adalah perjalanan mereka sendiri. Perjalanan anak-anak muda yang sedang bertumbuh melalui seni, kreativitas, keberanian berpikir, dan keberanian untuk tampil menjadi diri sendiri.

Dan tentu saja, apresiasi juga patut diberikan kepada guru-guru Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris yang terlibat dalam pergelaran ini. Mereka tidak hanya mengajar teori di ruang kelas, tetapi berhasil mendorong siswa-siswanya berimajinasi, berpikir, berdiskusi, lalu melahirkan gagasan menjadi karya nyata. Dari mata pelajaran Seni Budaya ada Ida Royani dan Sofia Madonna. Dari Bahasa Indonesia ada Yusnani dan Fitri Rahmadhani. Sementara dari Bahasa Inggris ada Yenni Sasmita dan Juliantri Utari. Mereka adalah orang-orang hebat yang berdiri bersama siswa, membersamai proses panjang mereka, mendengarkan ide-ide mereka, lalu membantu gagasan itu tumbuh menjadi karya nyata.

Di tangan guru-guru seperti inilah, pelajaran tidak berhenti menjadi hafalan. Ia berubah menjadi pengalaman hidup. Mereka berhasil membuat siswa tidak sekadar belajar, tetapi juga berani mencipta. Dan di zaman ketika banyak anak sibuk menghabiskan waktu di layar gawainya, menghadirkan puluhan karya yang lahir dari proses berpikir, kerja sama, dan kreativitas seperti ini bukanlah sesuatu yang murah. Itu mahal. Karena ide, keberanian, dan kreativitas tidak pernah lahir dari proses yang instan.

Smansa, kalian hebat.

Tamalatea, Mei 2026

Related Articles

One Comment

  1. Masya Allah terima kasih pak… luar biaaa ulasan bapak… semoga tetap menjadi inspirasi dan semangat buat kami dan anak anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button