Saya Tidak Pernah Meninggalkan Panggung
Merawat Kepekaan dari Dunia Seni ke Dunia Pendidikan

LAMPU panggung temaram.
Gerak para penari justru semakin menguat. Ada yang berlari, ada yang berputar dalam tempo cepat, ada pula yang melambat, ada yang terengah-engah sambil menutup mulut dengan kedua tangan, seolah sedang menghabiskan sisa tenaga dari sebuah perjalanan yang panjang. Musik perlahan menghilang. Cahaya terus meredup hingga akhirnya panggung itu benar-benar gelap.
Sesaat kemudian, gemuruh tepuk tangan memecahkan keheningan. Lampu panggung kembali menyala. Para penari berdiri lurus dalam satu garis dengan kedua tangan terlipat di dada dan kepala menunduk memberi hormat. Saya masih berdiri di balik sayap panggung. Seorang penari menjemput saya, menggenggam tangan saya, lalu mengajak saya melangkah menuju tengah panggung. Semakin dekat saya ke barisan para penari, semakin riuh tepuk tangan itu bergema memenuhi seluruh gedung. Kami berdiri bersama. Kami menundukkan kepala bersama. Tanpa komando serentak kami mundur tiga langkah, kembali kami memberi hormat. Perlahan tirai panggung mulai menutup.
Saya belum tahu, malam itu bukan hanya sebuah pertunjukan yang sedang berakhir. Sebuah kehidupan yang lain sedang dimulai.
Banyak orang mengenal saya sebagai kepala sekolah. Sebagian kecil mengenal saya karena hingga kini masih mengajar di salah satu perguruan tinggi di Batam. Sebagian lagi mengenal saya sebagai koreografer, pekerja seni, atau seseorang yang terus belajar menulis. Namun, bagi saya, semua itu bukanlah identitas yang berdiri sendiri. Semuanya adalah perjalanan yang saling menyambung dan saling menguatkan. Saya hanya sedang menjalani panggung yang berbeda, dengan tujuan yang tetap sama: terus belajar, terus bertumbuh, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Perjalanan itu dimulai dari dunia seni. Saya ditempa di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Padang, melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Karawitan Indonesia Padang Panjang, menyelesaikan pendidikan sarjana di IKIP Padang, lalu menempuh Program Magister Pengkajian Seni di ISI Padangpanjang. Dunia tari mempertemukan saya dengan berbagai panggung, festival, karya, penghargaan, dan orang-orang hebat yang membentuk cara saya memandang proses kreatif.
Bertahun-tahun saya mengira sedang belajar menyusun gerak, membangun komposisi, dan mengejar keindahan sebuah pertunjukan. Baru jauh kemudian saya menyadari bahwa sesungguhnya saya sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar.
Seni sedang mengajarkan saya membaca manusia. Pelajaran itu baru benar-benar saya pahami ketika menjadi guru. Banyak orang menganggap menjadi koreografer dan menjadi guru adalah dua dunia yang berbeda. Saya justru merasakan sebaliknya. Mengajar tidak jauh berbeda dengan menciptakan sebuah koreografi.
Ketika menyusun sebuah karya tari, saya tidak pernah berharap semua penari menjadi sama. Memang ada bagian-bagian yang harus rampak agar menghadirkan kekuatan visual, tetapi tidak semua gerak harus dilakukan secara seragam. Setiap penari memiliki karakter tubuh, kemampuan teknik, pengalaman, keberanian, dan rasa yang berbeda. Ada penari yang secara teknik sangat kuat tetapi sulit menyatu dengan kelompok. Ada pula yang tekniknya sederhana, namun mampu menghadirkan rasa yang membuat keseluruhan komposisi menjadi hidup. Sebagai koreografer, saya belajar bahwa memilih pemeran utama tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling hebat, melainkan oleh siapa yang paling tepat.
Tugas seorang koreografer bukan memaksakan keseragaman, melainkan membaca setiap penari, mengenali kekuatannya, memahami keterbatasannya, lalu menyusun komposisi sehingga setiap orang dapat memainkan peran terbaiknya. Ada yang menjadi pusat perhatian, ada yang menguatkan komposisi dari belakang, ada yang menjadi penghubung antargerak. Geraknya boleh berbeda, tetapi mereka bergerak dalam satu rasa.
Semakin lama mengajar, saya menyadari bahwa pembelajaran yang berpusat pada murid sesungguhnya telah lama saya pelajari di ruang latihan tari, jauh sebelum istilah itu menjadi bagian dari berbagai pelatihan pendidikan.
Bukankah ruang kelas juga demikian?. Tidak semua anak harus belajar dengan cara yang sama. Tidak semua anak berkembang dalam kecepatan yang sama. Tidak semua anak akan menonjol pada bidang yang sama. Tugas guru bukan menyeragamkan mereka, melainkan membaca setiap anak sebagai pribadi yang unik, menemukan potensinya, lalu menghadirkan pengalaman belajar yang membuat setiap anak dapat memainkan peran terbaik dalam kehidupannya.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang membuat semua anak menjadi sama. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menumbuhkan satu rasa untuk bertumbuh bersama.
Pelajaran lain yang saya bawa dari dunia seni adalah tentang refleksi. Dalam proses penciptaan karya, saya belajar bahwa seorang koreografer tidak boleh hanya menggunakan kacamatanya sendiri. Sebuah karya perlu diuji, didiskusikan, dipertanyakan, bahkan dikritisi oleh mereka yang ikut menjalaninya. Penari, pemusik, penata artistik, hingga tim produksi menjadi bagian penting dari proses refleksi. Saya ingin mengetahui apakah karya itu benar-benar berbicara kepada penontonnya, apakah tema yang kami bangun sampai, dan apakah makna yang ingin kami sampaikan benar-benar dapat dirasakan.
Lalu saya bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa di ruang kelas kita sering melakukan hal yang sebaliknya?. Sering kali pembelajaran ditutup hanya dengan satu pertanyaan, “Apakah kalian sudah paham?” Sebagian siswa mengangguk, sebagian diam, lalu guru menyimpulkan bahwa pembelajaran telah berhasil. Padahal diam bukan selalu berarti mengerti, dan mengangguk pun belum tentu menunjukkan pemahaman. Sering kali yang selesai hanyalah penjelasan guru, bukan proses belajar siswa.
Saya semakin percaya bahwa refleksi dalam pembelajaran tidak boleh menjadi milik guru semata. Siswa harus diberi ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan selama belajar, bagian mana yang membuat mereka tertarik, apa yang masih membingungkan, dan apa yang ingin mereka pelajari lebih dalam. Sebab pembelajaran yang baik, sebagaimana karya seni yang baik, tumbuh dari keberanian untuk mendengar.
Saya juga pernah menyaksikan karya tari yang sangat estetis. Komposisi geraknya tertata rapi. Penarinya bergerak dalam satu rasa. Musik, cahaya, dan tata panggung berpadu begitu indah. Tidak ada yang terasa mengganggu mata. Namun ketika pertunjukan selesai, saya pulang tanpa membawa sesuatu yang menetap di dalam diri. Karya itu indah, tetapi belum tentu bermakna. Baru kemudian saya sadar, yang pulang bersama saya malam itu hanyalah kekaguman, bukan makna.
Pengalaman itu sering membuat saya bercermin ketika berada di sekolah. Bukankah pembelajaran juga bisa demikian? Guru hadir. Materi selesai. Administrasi lengkap. Nilai diberikan. Bel berbunyi. Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Namun, apakah ada rasa ingin tahu yang tumbuh? Apakah ada keberanian yang bertambah? Apakah ada cara pandang yang berubah? Ataukah pembelajaran itu hanya menjadi rutinitas yang segera dilupakan begitu siswa meninggalkan ruang kelas?
Saya tidak sedang mempertentangkan administrasi dengan makna, sebagaimana saya tidak pernah mempertentangkan teknik dengan estetika dalam seni. Administrasi penting. Teknik juga penting. Tetapi keduanya hanyalah alat. Yang sesungguhnya ingin kita hadirkan adalah pengalaman yang mengubah manusia.
Dunia seni terus berkembang. Teknologi memasuki ruang-ruang penciptaan. Hari ini koreografer memanfaatkan video, tata cahaya digital, multimedia, bahkan kecerdasan buatan untuk memperluas kemungkinan artistik. Namun secanggih apa pun teknologi yang digunakan, tidak ada yang mampu menggantikan rasa. Pendidikan pun demikian. Kurikulum berganti. Pendekatan pembelajaran berkembang. Teknologi menjadi bagian dari proses belajar. Kecerdasan buatan hadir di hadapan kita. Yang tidak boleh berubah bukanlah cara kita mengajar, melainkan kemauan kita untuk terus belajar dan kepekaan kita dalam memahami manusia yang sedang belajar.
Semakin saya menjalani perjalanan ini, semakin saya menyadari bahwa dunia seni dan dunia pendidikan ternyata dipertemukan oleh satu kata yang sama: kepekaan. Kepekaan untuk melihat potensi sebelum melihat kekurangan. Kepekaan untuk mendengar sebelum menyimpulkan. Kepekaan untuk memahami sebelum menilai. Kepekaan untuk terus belajar sebelum merasa paling tahu.
Barangkali itulah pelajaran terbesar yang diberikan seni kepada saya. Seni tidak sedang mendidik saya menjadi penari atau koreografer yang lebih baik. Seni sedang mendidik saya agar tidak kehilangan kepekaan sebagai manusia. Ketika kemudian saya menjadi guru, dosen, penulis, dan kepala sekolah, saya menyadari bahwa kepekaan itulah bekal paling berharga yang saya bawa ke mana pun saya melangkah.
Kini saya semakin yakin bahwa saya tidak pernah meninggalkan panggung. Saya hanya berpindah ruang. Jika dahulu saya berusaha menghadirkan makna melalui gerak, hari ini saya berusaha menghadirkannya melalui pendidikan.
Karena pada akhirnya, baik panggung maupun ruang kelas sama-sama meminta satu hal dari manusia: kepekaan. Kepekaan untuk melihat yang tak tampak, mendengar yang tak terucap, dan percaya pada potensi yang bahkan belum disadari oleh pemiliknya sendiri. Selama kepekaan itu tetap hidup, saya percaya, saya tidak pernah benar-benar meninggalkan panggung. Saya hanya sedang berdiri di panggung yang berbeda, dengan penonton yang berbeda, tetapi dengan panggilan yang tetap sama: membantu manusia bertumbuh menjadi dirinya yang terbaik.
Tamalatea, Juli 2026





Sangat menginspirasi pak. Kami tunggu tulisan2 dari Bapak.
terima kasih, pak.
Bagus sekali isi dari tulisan yg dipaparkan,sesuai dengan kenyataan yg kt temui didunia pendidikan , hal seperti ini bisa memberikan motivasi bagi kita sebagai seorang pendidik yang profesional
Terima kasih, apresiasinya bapak/ibu. tidak lebih ini adalah refleksi dari perjalanan saya di panggung dan ruang kelas.
topjer
hari ini banyak orang memilih pekak, dari pada peka. omjen topjer menjaga kepekaan, tidak memnyemai kepekak an hhhh
Makaseh, jer. dah singgah di lapak top jerr.
Tulisan yang sangat cerdas dan membuka wawasan serta memberi pemahaman tentang panggung yang sesungguhnya. Kami menunggu tulisan berikutnya cekgu dan kreografer yg sangat cerdas ( sangat menginspirasi generasi muda )
Terima kasih banyak atas apresiasi dan doanya Pak Wen. Saya merasa perjalanan di ISI Padangpanjang telah meninggalkan jejak yang sangat dalam dalam cara saya memandang seni, pendidikan, dan kehidupan. Jika tulisan ini memberi makna bagi pembaca, sesungguhnya itu juga buah dari para guru dan dosen yang pernah membimbing saya. Jaya selalu ISI Padangpanjang.
Masya Allah… luar biasa koreograferku… Hep Ta Hu… yang terbayang waktu di Gedung Kesenian Jakarta 3 piala kita bawa pulang dan membuat kita gratis uang kulian sampai tamat. Sekarang panggung kita pindah… Terima kasih sudah membuka wawasan kami.
Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi kenangannya masih sangat hidup. Saya masih ingat perjuangan kita di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, hingga ISI Solo. Berkat kegigihan para penari, kita bisa mengikuti berbagai event nasional, membawa pulang kemenangan, bahkan menjadi jalan bagi kita memperoleh beasiswa sampai tamat kuliah.
Masih terbayang saat berangkat ke GKJ dengan mobil carteran. Demi menghemat bekal, kita sengaja singgah di Sei Rumbai dan Palembang, menumpang makan di rumah orang tua teman-teman penari. Hari ini, semuanya menjadi cerita yang indah. Yang kita bawa pulang ternyata bukan hanya piala, tetapi juga persahabatan, perjuangan, dan kenangan yang tak pernah selesai diceritakan.
Barangkali yang membuat seseorang terus menulis bukanlah keyakinan bahwa ia telah menemukan sesuatu, melainkan perasaan bahwa masih ada yang luput. Ada celah yang tak tertutup oleh pengetahuan, ada pengalaman yang belum sepenuhnya menjelma menjadi bahasa. Kekurangan itu bukan aib. Ia justru semacam ruang kosong yang memanggil. Mungkin di situlah seorang penulis dibedakan dari orang yang sekadar pandai merangkai kalimat: ia tidak sedang mempertontonkan kepenuhan dirinya, tetapi merawat kekurangannya agar tetap hidup.
Barangkali yang membuat seseorang terus menulis bukanlah keyakinan bahwa ia telah menemukan sesuatu, melainkan perasaan bahwa masih ada yang luput. Ada celah yang tak tertutup oleh pengetahuan, ada pengalaman yang belum sepenuhnya menjelma menjadi bahasa. Kekurangan itu bukan aib. Ia justru semacam ruang kosong yang memanggil. Mungkin di situlah seorang penulis dibedakan dari orang yang sekadar pandai merangkai kalimat: ia tidak sedang mempertontonkan kepenuhan dirinya, tetapi merawat kekurangannya agar tetap hidup, sebab dari sanalah setiap pencarian selalu dimulai.
Barangkali yang membuat seseorang terus menulis bukanlah keyakinan bahwa ia telah menemukan sesuatu, melainkan perasaan bahwa masih ada yang luput. Ada celah yang tak tertutup oleh pengetahuan, ada pengalaman yang belum sepenuhnya menjelma menjadi bahasa. Kekurangan itu bukan aib. Ia justru semacam ruang kosong yang memanggil. Mungkin di situlah seorang penulis dibedakan dari orang yang sekadar pandai merangkai kalimat: ia tidak sedang mempertontonkan kepenuhan dirinya, tetapi merawat kekurangannya agar tetap hidup.
Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi kenangannya masih sangat hidup. Saya masih ingat perjuangan kita di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, hingga ISI Solo. Berkat kegigihan para penari, kita bisa mengikuti berbagai event nasional, membawa pulang kemenangan, bahkan menjadi jalan bagi kita memperoleh beasiswa sampai tamat kuliah.
Masih terbayang saat berangkat ke GKJ dengan mobil carteran. Demi menghemat bekal, kita sengaja singgah di Sei Rumbai dan Palembang, menumpang makan di rumah orang tua teman-teman penari. Hari ini, semuanya menjadi cerita yang indah. Yang kita bawa pulang ternyata bukan hanya piala, tetapi juga persahabatan, perjuangan, dan kenangan yang tak pernah selesai diceritakan.
Enaknya membaca tulisan kalau ditulis dari inspirasi yang diperkaya dengan narasi yang lahir disertai pengalaman dan hasil olah dialog dengan sejawat yang sinergy dalam pandangan dan rasa👍👍🤝🤝
Terima kasih banyak, Pak. Komentar Bapak bagi saya adalah pengingat untuk terus menjaga esensi dari pendidikan itu sendiri. Apa yang saya tuliskan sebenarnya adalah refleksi dari proses panjang belajar untuk menjadi pemimpin yang bisa ‘menarik rambut di dalam tepung’. Saya selalu berharap langkah-langkah kecil di sekolah bisa senantiasa selaras dengan nilai-nilai keteladanan yang selama ini Bapak tunjukkan. Senang sekali Bapak berkenan memberikan pandangan ini, sungguh menambah energi saya untuk terus berproses. Sehat selalu, pak.
Hr
rrr
Katiga mengenang GKJ award, teringat lagi karya Hyang Laot, dengan syair syair pesisiran yang unik 😀😀😀
terima kasih pak dosen (penata musik( luar biasa….
Masyaallah tabarakallah, tulisan yang luar biasa dan mengingatkan saya sebagai penari yang pernah menjadi bagian dari karya-karya koregrafer ini ( om Jan ) kami sebut. Alhamdulillah telah membawa kami dengan karyanya dari satu provinsi ke provinsi lainnya, dari kota satu ke kota berikutnya, hingga kami sampai di kota Teh Obeng ini, dari panggung yang sederhana sampai panggung yang luar biasa, dari event nasional sampai internasional. Begitu banyak proses yang telah kami lalui, tanpa peduli waktu dan ruang. Selama itu bisa dijadikan ruang untuk melahirkan ide dan gerak, kami manfaatkan sebaik mungkin. Tidak ada kata lelah, tidak ada kata bosan, proses selalu dijalani, gerak selalu lahir. Berjalan, berputar, berlari, melompat seolah sudah menjadi aktivitas yang biasa di atas panggung. Dentuman musik mengiringi gerakan , emosi terkuras seolah ide sang koreografer menjadi jodoh dengan idenya sang komposer. Terimakasih koregraferku, terimakasih sudah menjadi bagian dari karya-karyamu yang setiap akhir pertunjukanmu, kita membawa tropy dan bingkisan. Jakarta….Solo …. cerita yang tidak pernah terlupakan. Teruslah berkarya koregraferku, tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Alhamdulillah, saat ini para penari hebat itu telah menari dengan tema kehidupannya masing2. tulisan ini adalah serpihan-serpihan masa lalu, yg mahal untuk dilewatkan begitu saja. ia TDK hanya dikenang, lebih dari itu ia menjadi sumber inspirasi, bahwa kemenangan itu memang TDK mudah. tapi kita telah membuktikannya. terima kasih penari, pemusik dan pembimbing. kalian semua patut di acung. salam HEP TA HU….
Tak terasa meleleh air mata membaca tulisan adinda…..apa yg tertulis ada kesamaan nya dgn diriku…..semangat adinda💪💪💪
Terima kasih banyak, Kanda. Saya sangat terharu membaca komentar Kanda. Rasanya memang bukan sekadar ada kemiripan, tetapi kita sama-sama bergelut di bidang olah tubuh dan gerak. Dari ruang kreatif itulah kita belajar membaca kehidupan dengan cara yang mungkin tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya hanya mencoba menuangkan pengalaman itu ke dalam tulisan lalu menghbungkan dengan apa yang kita kerjakan dikelas. Semoga kita tetap diberi kesehatan dan semangat untuk terus berkarya serta berbagi manfaat. Salam hormat selalu, Kanda.
Ada panggung yang dipenuhi tepuk tangan, ada pula panggung yang dipenuhi doa-doa dari murid yang kelak berhasil. Yang kedua sering kali lebih abadi.
Terima kasih telah mengingatkan bahwa panggilan terbesar bukanlah menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi alasan orang lain bertumbuh.
Terima kasih banyak, Ibu Mila. Pengabdian Ibu sebagai pendidik memang telah usai karena memasuki masa purnabakti, tetapi jejak yang Ibu tinggalkan tetap membekas di hati begitu banyak murid dan rekan sejawat. Saya yakin, itulah panggung yang sesungguhnya, ketika karya, keteladanan, dan nilai-nilai yang ditanamkan terus hidup, bahkan setelah kita tidak lagi berdiri di depan kelas. Semoga saya pun bisa meneladani jejak pengabdian yang telah Ibu tinggalkan. Hormat dan sehat selalu, Ibu.
Ada panggung yang dipenuhi tepuk tangan, ada pula panggung yang dipenuhi doa-doa dari murid yang kelak berhasil. Yang kedua sering kali lebih abadi.
Terima kasih telah mengingatkan bahwa panggilan terbesar bukanlah menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi alasan orang lain bertumbuh.
Mantap pak terus berkarya,
terima kasih, pak hamzah.
Masyaallah, selalu indah tulisan bapak, isinya sangat membuat semangat, 🙏💐
Terima kasih, sanjungannya Bu resta. saya hanya menulis serpihan yang saya lihat, rasakan. dan saya memastikan semuanya menjadi refleksi..refleksi bukan memberikan informasi yg keliatan baru, melainkan melihat pengalaman yg lama dengan cara yg baru. sukses selalu bu
Sebagian orang terkadang menganggap panggung sebagai “ruang pertunjukan.” Namun, tulisan juga dapat menyediakan panggung atau tontonan bagi pembaca, yang lahir dari kearifan penulis dalam merangkai ide, emosi, dan imajinasi. Melalui rangkaian kata-kata, seorang penulis terkadang memainkan peran ganda sebagai sutradara, aktor, dan pencerita, untuk menghidupkan karakter dan membangun dunia di atas panggung imajiner.
Terima kasih, pak Didi. Saya sependapat. Kadang-kadang justru tulisan menjadi panggung yang mampu menjangkau lebih banyak orang daripada panggung pertunjukan itu sendiri.
Alhamdulillah, Keren sekali bang. Tulisan abang sangat menginspirasi. Terbayang masa-masa kita sekolah di sekolah Menengah Karawitan Indonesia abang sebagai kakak senoir yang sangat di kenal dan populer di masa itu. Kemudian di IKIP padang juga kita bertemu lagi, sehingga abang melahirkan karya seni tari. Dan abang terkenal menjadi seniman termuda di Sumatera Barat. Sekarang kita juga sama-sama berada di kepri, abang sebagai kepala sekolah di Batam, dan Sum sebagai guru di Karimun. Namun Sum berbelok haluan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Yang juga tidak terlepas dari pembelajaran mendalam. Membaca tulisan abang, Sum jadi termotivasi untuk menulis kembali. Terima kasih bang, dengan tulisan abang ini Sum mengucapkan tetaplah berkarya dan bertumbuh demi anak-anak bangsa. Jaya…Jaya… Pak Kepsek Paizalamri👏👏
Alhamdulillah, terima kasih banyak, Buk Sum. Senang sekali membaca kenangan perjalanan kita, mulai dari SMKI, IKIP Padang, hingga kini sama-sama mengabdi di Kepulauan Riau. Saya justru ikut bahagia kalau tulisan ini bisa memotivasi Ibu untuk kembali menulis. Semoga kita terus diberi kesehatan dan semangat untuk berkarya. Sukses selalu untuk Ibu dan anak-anak hebat di Karimun.
Alhamdulillah.. luarbiasa pak Pasal.. Tulisan yg mengagumkan..
Uni sangat senang membacanya sangat bermanfaat .. *Seni membuat kita peka*
Berkarya lah sampai akhir hayat..
Semoga sukses selalu.. Aamiin
Terima kasih banyak, Uni. Senang sekali rasanya tulisan ini bisa sampai dan bermanfaat bagi Uni. Saya sadar bahwa apa yang saya lakukan hari ini tidak terlepas dari keteladanan yang pernah Uni tunjukkan saat masih aktif mengajar dulu. Petuah Uni untuk terus berkarya sampai akhir hayat adalah amanah yang akan terus saya pegang. Semoga Uni senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan.
Tulisan yang sangat luar biasa pak, bukan hanya sekedar goresan biasa namun kata-kata yang diramu dengan pengalaman yang sarat sehingga ketika membacanya seakan saya bertamasya dalam pikiran. Menambah wawasan dengan buah pikir dan kata kata yang bernas dan asyik sehingga tidak akan terhenti membacanya jikalau belum berakhir tulisannnya. Bapak adalah Guru seni yang hebat sehingga banyak muncul anak-anak yang berbakat, senior yang publik speakingnya mantap, penulis yang pandai meramu kata dan pemimpin yang luar biasa. Karya-karya bapak sangat menginspirasi👍👍. Semoga…buku saya yang selanjutnya bapak berkenan menggoreskan kata-kata di halaman kata pengantar ( jikalau boleh meminta) 🙏🙏
Masyaallah, saya malah syok membaca bagian akhir komentar Ibu. Ibu benar-benar sedang bercanda, bukan?.
Sejujurnya, saya sengaja mengirimkan tulisan itu kepada Ibu untuk “menelisik”, apakah ibu masih menukis. Ternyata dugaan saya keliru. Ibu masih bergerak, masih menulis, bahkan sedang menyiapkan buku berikutnya. Kabar itu justru yang membuat saya ikut bAngga luar biasa.
Terus terang, jika permintaan itu benar, saya tdk menolak permintaan ibu, bukan pula karena tidak percaya diri. Jujur, saya merasa masih banyak sosok yang lebih layak untuk menggoreskan kata pengantar pada buku Ibu. Karena itu, saya sampai berpikir, jangan-jangan Ibu perlu menimbang ulang permintaan itu… kalau perlu, salat istikharah dulu. Hehe…
Namun, di balik semua itu, saya memaknai permintaan Ibu sebagai sebuah kepercayaan sekaligus amanah. Justru amanah itulah yang melecut saya untuk terus berolah pikir, lebih sering berdialog dengan diri sendiri, lebih tekun membaca, menulis, dan belajar. Saya ingin terus bertumbuh agar suatu hari benar-benar pantas menerima kepercayaan sebesar itu.
Terima kasih. bagi saya candaan ibu, menjadi hadiah yang sangat berharga bagi saya. SAYA TAU, ibu sedang bersemangat meminta sayab untuk tetap menulis.
Masya Allah…memang selalu mantap karya pak kepsek ini, karya yang selalu beda terlahir dari orang yang memang tinggi seni dan jenius dalam mengaplikasikan ilmu.
Bacaan yang menyentuh dan menyadarkan semua guru untuk bagaimana mendidik dan mengajar yang baik bagi siswanya. Tidak harus semua siswa itu pintar dalam menerima ilmu yang diberikan oleh guru tetapi masing-masing siswa itu memiliki kemampuan dan skill yang berbeda-beda. Tugas guru hanya menggali dan menuntun potensi yang dimiliki oleh siswanya.
Semangat terus berkarya pak kepsek, jadilah bintang yang selalu bersinar dengan karya unik yang bapak lahirkan.
Masya Allah, terima kasih banyak, Bu Vevi atas doa dan apresiasinya.
Saya masih terus belajar. Saya juga sependapat, setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas kita sebagai guru adalah mengenali, menuntun, dan membantu mereka menemukan jalan terbaiknya.
Semoga kita semua selalu diberi kekuatan untuk terus berkarya dan memberi manfaat bagi anak-anak. Semangat selalu, Bu Vevi
Saya memberikan nilai terbaik atas argumen pak kepsek SMAN 14 karena seyogyanya mengajar ataupun kepsek secara tersurat tidaklah dikatakan berperan tapi secara tersirat melebihi berperan di atas panggung justru lebih dari itu, dimana setiap saat harus mencari, mengubah, dan memodifikasi gerak dan gaya agar dapat berjalan lancar.
Kesimpulannya ini tulisan yg sangat ok
Terima kasih banyak, Ibu, atas apresiasi dan wejangan yang sangat berarti bagi saya. Saya justru banyak belajar dari jejak kepemimpinan Ibu dan para kepala sekolah yang telah lebih dulu mengabdikan diri di SMAN 14 Batam. Saya hanya berusaha melanjutkan amanah ini sebaik mungkin, sambil terus belajar memperbaiki diri setiap hari.
Doa dan dukungan dari Ibu menjadi penyemangat bagi saya untuk terus menjaga sekolah ini agar semakin baik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan kepada Ibu. Aamiin.
Terima kasih banyak, Ibu, atas apresiasi dan pandangan yang sangat bermakna. Saya sangat tersentuh dengan analogi yang Ibu sampaikan. Memang benar, menjadi guru maupun kepala sekolah bukan sekadar menjalankan peran yang tertulis dalam tugas pokok, tetapi terus belajar membaca situasi, menyesuaikan langkah, dan mencari cara terbaik agar semua dapat berjalan dengan baik. Saya sendiri masih terus belajar dan banyak mengambil pelajaran dari para senior seperti Ibu. Semoga kami dapat melanjutkan nilai-nilai baik yang telah Ibu bangun di SMAN 14 Batam.
MasyaAllah, tulisan ini bukan sekadar indah, tetapi juga mengandung kebijaksanaan yang lahir dari perjalanan panjang. Ibu sangat menikmati setiap bagiannya. Tidak semua orang mampu melihat bahwa seni, pendidikan, dan kehidupan dipertemukan oleh satu hal yang sama: kepekaan. Teruslah menjaga hati yang peka, rendah hati untuk terus belajar, dan keberanian untuk menumbuhkan orang lain. Percayalah, jejak yang paling lama dikenang bukanlah jabatan atau karya, melainkan manusia-manusia yang bertumbuh karena kehadiran kita. Semoga Allah selalu menguatkan langkahmu, melapangkan jalanmu, dan menjadikan setiap panggung yang kau pijak sebagai ladang manfaat dan keberkahan. Panggung boleh berganti, tetapi hati yang tulus selalu menemukan penontonnya. Terus melangkah, terus memberi makna. Ibu bangga menyaksikan perjalanan indahmu
Ibu, terima kasih banyak atas doa dan kata-kata yang begitu menyejukkan hati. Saya membacanya pelan-pelan dan banyak merenung.
Terus terang, saya masih dalam proses belajar menjadi manusia yang lebih baik, menjadi pendidik yang lebih bijaksana, dan menjadi pemimpin yang belajar mendengar sebelum mengambil kesimpulan. Jika ada sedikit kebaikan yang Ibu lihat pada diri saya, itu tidak lepas dari doa, nasihat, dan teladan dari orang-orang baik yang Allah hadirkan dalam perjalanan saya, termasuk Ibu.
Semoga saya tetap diberi kekuatan untuk menjaga hati, terus belajar, dan semoga apa pun yang saya lakukan benar-benar memberi manfaat bagi orang lain. Terima kasih, Ibu. Doa Ibu adalah hadiah yang sangat berharga bagi saya.
Ruar…..biase ni cek gu kepala. Sememang seni tu dah bersebati dalam diri susah nak tercerabut. Ia nya kan terus bergelora selagi nyawa bersemayam dalam badan. Tahniah ncek gu Faisal, doa terbaik semoga sehat selalu, dan terus terbilang.Aamiin