Balik LayarTerkini
Ketika Pilihannya Hanya Buruk dan Paling Buruk
Memilih Jalan Paling Sedikit Kerugian

KETIKA datang ke sebuah sekolah sebagai pemimpin baru, kita tidak pernah memulai dari halaman kosong. Kita mewarisi banyak hal. Ada program yang telah berjalan bertahun-tahun. Ada kebiasaan yang sudah dianggap lumrah. Ada pula berbagai bentuk kerja sama, kesepakatan, dan pengadaan yang lahir dari kebutuhan pada zamannya masing-masing.
Karena itu, saya berusaha menahan diri untuk tidak mudah menilai. Saya tidak berada di ruangan ketika keputusan dan kebjakan itu dibuat. Saya tidak mengalami situasi yang dihadapi pemimpin sebelumnya. Saya tidak mengetahui seluruh pertimbangan yang melatarbelakanginya.
Maka menurut saya, tidak adil jika sesuatu langsung diberi cap benar atau salah hanya karena saya datang sebagai pemimpin yang baru. Yang lebih penting adalah mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Apakah ini masih dibutuhkan, dan apakah ini masih membantu sekolah untuk terus bertumbuh?”
Jika masih dibutuhkan, pertahankan.
Jika manfaatnya besar, perkuat.
Jika kebutuhannya mulai berkurang, sesuaikan.
Dan jika sudah tidak lagi relevan, mungkin sudah saatnya dihentikan agar energi dan sumber daya sekolah dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. Bagi saya, evaluasi bukanlah bentuk penolakan terhadap masa lalu. Justru sebaliknya. Evaluasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan, sekaligus cara agar sekolah tetap memiliki ruang untuk bertumbuh seiring perubahan zaman.
Saya pernah menghadapi sebuah persoalan yang berawal dari proses mengukur kembali kebutuhan tersebut. Sebuah kebiasaan yang telah berjalan cukup lama. Sebuah pengadaan yang dianggap biasa karena telah menjadi bagian dari rutinitas sekolah.
Namun ketika saya mencoba melihat kembali manfaat, tujuan, dan relevansinya terhadap kebutuhan sekolah saat ini, muncul berbagai pertanyaan yang harus dijawab.
Bukan karena saya tidak setuju.
Bukan pula karena saya ingin mengubah semuanya.
Saya hanya ingin memastikan bahwa apa yang dilakukan sekolah benar-benar masih diperlukan dan masih mengantar sekolah bertumbuh ke arah yang lebih baik. Ternyata mengukur kebutuhan sering kali lebih sulit daripada membuat program baru. Sebab yang diuji bukan hanya datanya. Yang diuji adalah kebiasaan.
Yang diuji adalah kenyamanan.
Yang diuji adalah cara pandang banyak orang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Dari situlah saya belajar bahwa seorang pemimpin harus berhati-hati ketika membuat kesepakatan atau kontrak yang terlalu panjang.
Bukan karena tidak percaya kepada siapa pun.
Melainkan karena jabatan adalah amanah yang sifatnya sementara.
Hari ini kita memimpin sebuah sekolah.
Besok kita bisa saja dipindahkan ke sekolah lain.
Bisa saja diberi tugas yang berbeda.
Bahkan bisa saja amanah itu dicukupkan lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Karena itu, keputusan yang kita buat hari ini jangan sampai menjadi beban yang menyulitkan orang yang datang setelah kita. Pemimpin boleh berganti. Kebutuhan sekolah juga bisa berubah. Dan sekolah harus tetap memiliki ruang untuk menyesuaikan diri dengan zamannya, agar ia dapat terus bertumbuh mengikuti kebutuhan orang-orang yang dilayaninya.
Saya juga belajar bahwa tidak semua persoalan lahir karena niat yang buruk. Kadang justru muncul karena terlalu percaya. Kadang muncul karena sebuah kebiasaan sudah terlalu lama berjalan sehingga tidak pernah lagi dipertanyakan. Dan kadang-kadang, ada pihak yang memanfaatkan kelonggaran yang diberikan oleh seorang pemimpin yang sebenarnya hanya ingin semuanya berjalan baik.
Ketika persoalan itu mulai membesar, saya memilih untuk tidak melemparkannya ke mana-mana. Saya sadar bahwa tidak semua masalah harus diumumkan kepada banyak orang. Tidak semua persoalan akan menjadi lebih baik ketika semakin banyak orang ikut berbicara. Ada masalah yang justru berubah menjadi bola liar ketika diceritakan kepada orang yang tidak tepat. Karena itulah saya memilih mencari pandangan kepada pihak yang memang memahami persoalan tersebut dan memiliki kapasitas untuk memberikan pertimbangan yang objektif.
Setidaknya saya ingin memastikan bahwa keputusan yang saya ambil tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun saya juga menyadari satu kenyataan lain. Mengubah, mengurangi, atau menghentikan sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan sekolah tidak selalu selesai dengan sebuah keputusan. Sering kali justru perjalanan setelah keputusan itu yang lebih panjang.
Ada yang menerima.
Ada yang tidak setuju.
Ada yang memilih diam.
Ada pula yang menyampaikan keberatannya melalui berbagai cara. Saya memahami semua itu sebagai bagian dari konsekuensi kepemimpinan. Setiap perubahan selalu menghadirkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Dan setiap ketidaknyamanan biasanya melahirkan reaksi.
Di titik itulah saya belajar bahwa selalu ada jalan panjang dan ada jalan pendek dalam menyelesaikan sebuah persoalan.
Ada jalan yang membuat masalah terus membesar karena semua orang ikut berbicara. Ada pula jalan yang mungkin tidak menyenangkan, tetapi mampu meredakan keadaan sehingga energi sekolah tidak habis untuk sebuah konflik yang tidak berujung. Saya tidak selalu berhasil memilih jalan terbaik. Namun saya selalu berusaha memilih jalan yang biaya sosialnya paling kecil bagi sekolah.
Karena saya sadar, ketika sebuah persoalan terus bergulir ke mana-mana, yang terkuras bukan hanya waktu. Pikiran ikut terkuras, tenaga ikut terkuras, bahkan ketenangan keluarga di rumah pun ikut tersentuh.
Saya percaya sekolah yang sehat bukanlah sekolah yang mempertahankan segala sesuatu apa adanya. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang berani belajar, berani mengevaluasi, dan berani membuka ruang untuk terus bertumbuh, sekaligus berani membayangkan masa depannya sendiri. Sebab sesuatu yang pernah sangat berguna pada masanya belum tentu menjadi jawaban bagi kebutuhan hari ini. Dan sesuatu yang dibutuhkan hari ini pun suatu saat akan kembali diuji oleh waktu.
Dan dari semua pengalaman itu, saya menemukan satu kenyataan yang sederhana. Pada akhirnya, yang benar-benar memahami beban seorang pemimpin bukanlah orang-orang yang ramai berbicara di luar sana.
Bukan mereka yang ikut memberi komentar. Bukan mereka yang hanya mendengar sepotong cerita. Melainkan keluarga yang setiap hari melihat kita pulang dengan wajah lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum.
Istri.
Anak-anak.
Dan orang-orang terdekat yang memilih tetap berdiri di samping kita ketika keadaan tidak baik-baik saja. Karena itu, setiap kali menghadapi persoalan yang rumit, saya selalu mengingatkan diri sendiri: Jangan habiskan hidup untuk memenangkan semua perdebatan.
Pilihlah jalan yang paling sedikit biayanya bagi sekolah, bagi keluarga, dan bagi ketenangan batin. Sebab tidak semua persoalan menghadirkan pilihan antara benar dan salah. Ada saat-saat ketika kita hanya diberi dua pilihan:
Buruk.
Atau paling buruk.
Dan dalam keadaan seperti itu, tugas seorang pemimpin bukan mencari kemenangan untuk dirinya sendiri, melainkan memilih jalan yang paling sedikit meninggalkan kerusakan, sekaligus tetap menyisakan kesempatan bagi sekolah dan semua pihak untuk terus bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Karena itu, saya berusaha menahan diri untuk tidak mudah menilai. Saya tidak berada di ruangan ketika keputusan dan kebjakan itu dibuat. Saya tidak mengalami situasi yang dihadapi pemimpin sebelumnya. Saya tidak mengetahui seluruh pertimbangan yang melatarbelakanginya.
Maka menurut saya, tidak adil jika sesuatu langsung diberi cap benar atau salah hanya karena saya datang sebagai pemimpin yang baru. Yang lebih penting adalah mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Apakah ini masih dibutuhkan, dan apakah ini masih membantu sekolah untuk terus bertumbuh?”
Jika masih dibutuhkan, pertahankan.
Jika manfaatnya besar, perkuat.
Jika kebutuhannya mulai berkurang, sesuaikan.
Dan jika sudah tidak lagi relevan, mungkin sudah saatnya dihentikan agar energi dan sumber daya sekolah dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. Bagi saya, evaluasi bukanlah bentuk penolakan terhadap masa lalu. Justru sebaliknya. Evaluasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan, sekaligus cara agar sekolah tetap memiliki ruang untuk bertumbuh seiring perubahan zaman.
Saya pernah menghadapi sebuah persoalan yang berawal dari proses mengukur kembali kebutuhan tersebut. Sebuah kebiasaan yang telah berjalan cukup lama. Sebuah pengadaan yang dianggap biasa karena telah menjadi bagian dari rutinitas sekolah.
Namun ketika saya mencoba melihat kembali manfaat, tujuan, dan relevansinya terhadap kebutuhan sekolah saat ini, muncul berbagai pertanyaan yang harus dijawab.
Bukan karena saya tidak setuju.
Bukan pula karena saya ingin mengubah semuanya.
Saya hanya ingin memastikan bahwa apa yang dilakukan sekolah benar-benar masih diperlukan dan masih mengantar sekolah bertumbuh ke arah yang lebih baik. Ternyata mengukur kebutuhan sering kali lebih sulit daripada membuat program baru. Sebab yang diuji bukan hanya datanya. Yang diuji adalah kebiasaan.
Yang diuji adalah kenyamanan.
Yang diuji adalah cara pandang banyak orang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Dari situlah saya belajar bahwa seorang pemimpin harus berhati-hati ketika membuat kesepakatan atau kontrak yang terlalu panjang.
Bukan karena tidak percaya kepada siapa pun.
Melainkan karena jabatan adalah amanah yang sifatnya sementara.
Hari ini kita memimpin sebuah sekolah.
Besok kita bisa saja dipindahkan ke sekolah lain.
Bisa saja diberi tugas yang berbeda.
Bahkan bisa saja amanah itu dicukupkan lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Karena itu, keputusan yang kita buat hari ini jangan sampai menjadi beban yang menyulitkan orang yang datang setelah kita. Pemimpin boleh berganti. Kebutuhan sekolah juga bisa berubah. Dan sekolah harus tetap memiliki ruang untuk menyesuaikan diri dengan zamannya, agar ia dapat terus bertumbuh mengikuti kebutuhan orang-orang yang dilayaninya.
Saya juga belajar bahwa tidak semua persoalan lahir karena niat yang buruk. Kadang justru muncul karena terlalu percaya. Kadang muncul karena sebuah kebiasaan sudah terlalu lama berjalan sehingga tidak pernah lagi dipertanyakan. Dan kadang-kadang, ada pihak yang memanfaatkan kelonggaran yang diberikan oleh seorang pemimpin yang sebenarnya hanya ingin semuanya berjalan baik.
Ketika persoalan itu mulai membesar, saya memilih untuk tidak melemparkannya ke mana-mana. Saya sadar bahwa tidak semua masalah harus diumumkan kepada banyak orang. Tidak semua persoalan akan menjadi lebih baik ketika semakin banyak orang ikut berbicara. Ada masalah yang justru berubah menjadi bola liar ketika diceritakan kepada orang yang tidak tepat. Karena itulah saya memilih mencari pandangan kepada pihak yang memang memahami persoalan tersebut dan memiliki kapasitas untuk memberikan pertimbangan yang objektif.
Setidaknya saya ingin memastikan bahwa keputusan yang saya ambil tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun saya juga menyadari satu kenyataan lain. Mengubah, mengurangi, atau menghentikan sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan sekolah tidak selalu selesai dengan sebuah keputusan. Sering kali justru perjalanan setelah keputusan itu yang lebih panjang.
Ada yang menerima.
Ada yang tidak setuju.
Ada yang memilih diam.
Ada pula yang menyampaikan keberatannya melalui berbagai cara. Saya memahami semua itu sebagai bagian dari konsekuensi kepemimpinan. Setiap perubahan selalu menghadirkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Dan setiap ketidaknyamanan biasanya melahirkan reaksi.
Di titik itulah saya belajar bahwa selalu ada jalan panjang dan ada jalan pendek dalam menyelesaikan sebuah persoalan.
Ada jalan yang membuat masalah terus membesar karena semua orang ikut berbicara. Ada pula jalan yang mungkin tidak menyenangkan, tetapi mampu meredakan keadaan sehingga energi sekolah tidak habis untuk sebuah konflik yang tidak berujung. Saya tidak selalu berhasil memilih jalan terbaik. Namun saya selalu berusaha memilih jalan yang biaya sosialnya paling kecil bagi sekolah.
Karena saya sadar, ketika sebuah persoalan terus bergulir ke mana-mana, yang terkuras bukan hanya waktu. Pikiran ikut terkuras, tenaga ikut terkuras, bahkan ketenangan keluarga di rumah pun ikut tersentuh.
Saya percaya sekolah yang sehat bukanlah sekolah yang mempertahankan segala sesuatu apa adanya. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang berani belajar, berani mengevaluasi, dan berani membuka ruang untuk terus bertumbuh, sekaligus berani membayangkan masa depannya sendiri. Sebab sesuatu yang pernah sangat berguna pada masanya belum tentu menjadi jawaban bagi kebutuhan hari ini. Dan sesuatu yang dibutuhkan hari ini pun suatu saat akan kembali diuji oleh waktu.
Dan dari semua pengalaman itu, saya menemukan satu kenyataan yang sederhana. Pada akhirnya, yang benar-benar memahami beban seorang pemimpin bukanlah orang-orang yang ramai berbicara di luar sana.
Bukan mereka yang ikut memberi komentar. Bukan mereka yang hanya mendengar sepotong cerita. Melainkan keluarga yang setiap hari melihat kita pulang dengan wajah lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum.
Istri.
Anak-anak.
Dan orang-orang terdekat yang memilih tetap berdiri di samping kita ketika keadaan tidak baik-baik saja. Karena itu, setiap kali menghadapi persoalan yang rumit, saya selalu mengingatkan diri sendiri: Jangan habiskan hidup untuk memenangkan semua perdebatan.
Pilihlah jalan yang paling sedikit biayanya bagi sekolah, bagi keluarga, dan bagi ketenangan batin. Sebab tidak semua persoalan menghadirkan pilihan antara benar dan salah. Ada saat-saat ketika kita hanya diberi dua pilihan:
Buruk.
Atau paling buruk.
Dan dalam keadaan seperti itu, tugas seorang pemimpin bukan mencari kemenangan untuk dirinya sendiri, melainkan memilih jalan yang paling sedikit meninggalkan kerusakan, sekaligus tetap menyisakan kesempatan bagi sekolah dan semua pihak untuk terus bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Tamalatea, Juni 2026




