Balik Layar
Tubuh Kecil, Keyakinan Besar
Pertarungan Tidak Saya Menangkan, Tetapi Saya Mendapatkan Pengalaman

Ba’da Salat Jumat, telepon genggam saya berdering. Nomor yang muncul tidak saya kenal, sehingga saya membiarkannya terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian saya membuka WhatsApp. Ternyata orang yang baru saja menghubungi saya telah memperkenalkan diri dan mengirimkan surat beserta lampirannya.
Setelah mengetahui identitasnya, saya segera menghubungi kembali. Percakapannya singkat. Ia hanya meminta saya membaca surat yang telah dikirimkan.
Saya membuka berkas tersebut. Belum selesai membaca halaman pertama, ingatan saya langsung teringat pada sebuah peristiwa yang terjadi hampir setahun yang lalu. Kronologi, perdebatan, surat-surat, dan berbagai pertanyaan yang pernah muncul kembali tergambar dengan sangat jelas dalam pikiran saya.
Saya terdiam sejenak, lalu tersenyum. Ternyata saya keliru.
Selama ini saya berpikir, sekaligus yakin, bahwa surat keberatan yang pernah saya kirimkan—lengkap dengan kronologi, dokumen, dan berbagai fakta yang saya sertakan—akan mengubah cara pandang atau keputusan yang telah dibuat. Ternyata tidak.
Namun di saat itulah saya menyadari sesuatu. Perjalanan panjang yang pernah saya lalui ternyata memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar jawaban. Ia memberikan pengalaman.
Ketika persoalan itu muncul, saya tidak ingin gegabah mengambil keputusan. Saya mencoba memahami persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang. Saya bertanya kepada banyak orang, meminta pendapat, mengirim surat, melengkapi dokumen, serta mencari berbagai kemungkinan yang menurut saya dapat menjelaskan persoalan itu secara lebih utuh.
Saya berpikir, bukankah memang itu yang seharusnya dilakukan ketika seseorang sedang ragu? Bukankah lebih baik bertanya daripada bertindak sembarangan? Dan memang saya mendapatkan banyak jawaban. Masalahnya, jawaban-jawaban itu tidak selalu sama. Ada yang mendukung, ada yang ragu, ada yang berbicara dengan sangat yakin, ada yang memilih berhati-hati, bahkan ada yang pada awalnya terdengar begitu tegas tetapi kemudian perlahan memilih diam.
Dari situlah saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan akan berakhir dengan jawaban yang jelas. Kadang kita hanya memperoleh berbagai sudut pandang, sementara keputusan akhirnya tetap harus kita ambil sendiri.
Dulu saya mengira bahwa ketika seseorang menghadapi persoalan, akan ada pihak yang memberikan kepastian. Seiring waktu saya memahami bahwa kenyataannya tidak selalu demikian. Pada akhirnya, keputusan tetap kembali kepada orang yang memikul tanggung jawabnya. Dan dalam perkara ini, orang itu adalah saya.
Ada satu bagian dari perjalanan ini yang sampai sekarang masih membuat saya tersenyum sendiri. Saya bukan orang yang tinggi besar. Tubuh saya kecil. Usia sudah melewati lima puluh tahun. Rambut pun sudah mulai beruban, bahkan sebagian terasa “lebih dahulu pensiun” sebelum pemiliknya benar-benar berhenti bekerja.
Kalau dilihat sekilas, mungkin saya lebih cocok dianggap sebagai guru biasa yang sedang mencari tempat duduk teduh, daripada seseorang yang harus menghadapi berbagai tekanan.
Namun dalam perjalanan menyelesaikan persoalan ini, saya didatangi berbagai pihak. Ada pengacara. Ada surat somasi yang datang berkali-kali. Ada orang-orang berbadan besar yang ikut mendampingi. Ada tekanan yang datang silih berganti. Kadang saya tertawa sendiri. Dalam hati saya bertanya, “Sebenarnya mereka sedang menghadapi siapa?”
Kalau dilihat dari ukuran badan, saya jelas bukan ancaman. Kalau dilihat dari usia, saya juga bukan anak muda yang sedang berapi-api. Kalau dilihat dari jabatan, saya hanya seorang kepala sekolah yang sedang berusaha memahami sebuah persoalan. Lalu saya sadar:
Yang mereka hadapi bukan tubuh saya, bukan usia saya, dan bukan pula jabatan saya. Yang mereka hadapi adalah keyakinan saya. Keyakinan memang tidak memiliki tinggi badan. Ia tidak memiliki berat badan. Ia tidak memiliki ukuran sepatu. Ia tidak dapat ditimbang dan tidak dapat diukur dengan penggaris.
Saya tidak pernah menganggap diri saya paling benar. Karena itulah saya bertanya ke banyak tempat, mendengar berbagai pendapat, dan mencoba melihat persoalan dari sisi yang berbeda-beda. Saya bahkan siap mengubah pendapat apabila memang ditemukan alasan yang lebih kuat.
Tetapi selama saya masih meyakini bahwa apa yang saya lakukan dapat dipertanggungjawabkan, saya memilih untuk tetap berdiri—bahkan ketika harus berdiri sendirian.
Dari seluruh perjalanan itu, saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Ternyata tidak semua persoalan harus dimenangkan. Ada persoalan yang memang layak diperjuangkan sampai titik terakhir. Namun ada pula persoalan yang harus dihitung biaya perjuangannya. Sebab jangan sampai kita kehilangan seekor kerbau hanya karena ingin memperjuangkan seekor kambing.
Yang hilang tidak selalu berupa uang. Kadang yang hilang adalah kesehatan, ketenangan pikiran, waktu bersama keluarga, semangat bekerja, bahkan kebahagiaan yang selama ini kita miliki.
Bukan berarti menyerah. Bukan pula berarti takut. Tetapi hidup mengajarkan bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan. Ada saatnya kita perlu berhenti, mengambil pelajaran, lalu melanjutkan perjalanan.
Semakin saya renungkan, semakin saya memahami bahwa setiap perjuangan memiliki harga. Bukan hanya uang, tetapi juga waktu, tenaga, perhatian, dan ruang dalam pikiran kita.
Pada titik tertentu saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah yang sedang saya kejar masih sebanding dengan energi yang saya keluarkan? Apakah saya masih sedang memperjuangkan sesuatu yang penting? Ataukah saya hanya sedang mempertahankan keinginan untuk menang? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Namun justru dari sanalah saya belajar memandang persoalan dengan lebih tenang.
Hari ini saya memilih menutup persoalan itu dengan kepala tegak. Bukan karena saya merasa menang, bukan pula karena saya merasa kalah. Tetapi karena saya yakin telah menjalani seluruh prosesnya dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan pemahaman dan keyakinan yang saya miliki saat itu.
Saya sudah berusaha memahami. Saya sudah mencari kepastian. Saya sudah memperjuangkan apa yang menurut saya perlu diperjuangkan. Dan saya sudah menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan memperoleh jawaban sebagaimana yang kita harapkan.
Maka hari ini saya memilih melanjutkan perjalanan—tanpa kemarahan, tanpa dendam, tanpa penyesalan. Karena pada akhirnya hidup bukan hanya soal memenangkan setiap persoalan. Hidup juga tentang mengetahui kapan harus melanjutkan, kapan harus berhenti, dan kapan harus mengambil pelajaran.
Jika ada satu hal yang saya syukuri dari semua pengalaman ini, itu adalah kenyataan bahwa saya tetap bisa melihat semuanya dengan senyuman. Sebab pada akhirnya, saya tidak membawa pulang kemenangan, dan juga tidak membawa pulang kekalahan. Yang saya bawa pulang adalah pengalaman.
Dan sering kali, pengalaman adalah guru yang paling mahal sekaligus paling jujur dalam kehidupan.
Tamalatea, Juni 2026




