
Beberapa hari lalu, saya bersama beberapa orang teman menemui seseorang. Sambil menunggu di sebuah ruang kecil, mata saya tertuju pada tulisan di dinding tepat di depan tempat saya duduk. Saya tidak akan menuliskannya lengkap, demi menjaga privasi tempat itu, tetapi kurang lebih pesannya berbunyi: berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki. Entah mengapa, saya membacanya berkali-kali. Awalnya saya melihatnya sebagai gambaran hidup seorang pemimpin. Ketika semuanya berjalan baik, orang menganggap memang begitulah seharusnya, tetapi satu kekeliruan kadang terlihat lebih jelas daripada banyak hal yang telah berjalan baik.
Semakin lama saya memandang tulisan itu, kalimat itu justru berbalik menjadi cermin. Jika saya merasa keberhasilan kadang luput dari penghargaan, sudahkah saya cukup menghargai orang-orang yang bekerja bersama saya? Jika saya merasa sebuah kesalahan begitu mudah terlihat, pernahkah saya juga terlalu cepat melihat kekurangan orang lain dan terlambat melihat usaha mereka? Dari sanalah saya mulai menyadari bahwa memimpin bukan hanya tentang mengarahkan orang lain, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus memeriksa diri sendiri.
Saya bekerja bersama banyak orang dengan watak, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Dulu saya ingin setiap keputusan bisa dipahami dan diterima semua orang, tetapi sekarang saya tahu bahwa hal itu tidak selalu mungkin. Seorang pemimpin memang tidak bisa menyenangkan semua orang, tetapi kesadaran itu juga tidak boleh menjadi alasan untuk merasa selalu benar. Ada saat saya harus tegas, namun saya tetap perlu bertanya apakah ketegasan itu sudah disampaikan dengan cara yang baik. Ada keputusan yang menurut saya benar, tetapi mungkin belum cukup saya jelaskan. Ada pula niat yang baik, tetapi cara menyampaikannya belum tentu baik.
Di situlah saya belajar bahwa mendengarkan kritik tidak mengurangi kewibawaan dan mengakui kekeliruan tidak membuat seorang pemimpin menjadi kecil. Justru mungkin di situlah seseorang sedang bertumbuh. Saya teringat pada sebuah pemikiran sederhana: orang pintar belajar dari kesalahannya sendiri, orang bijak belajar dari kesalahan orang lain, dan yang paling rugi adalah orang yang berhenti belajar karena merasa tidak pernah salah. Saya ingin kalimat itu lebih dahulu berlaku untuk diri saya sendiri, sebab ketika sebuah persoalan datang, jauh lebih mudah bertanya, “Siapa yang salah?” daripada bertanya, “Apa bagian saya dalam persoalan ini?”
Tidak semua persoalan harus dimulai dengan mencari siapa yang salah. Kadang yang lebih penting adalah melihat apa yang bisa diperbaiki, termasuk bagian yang menjadi tanggung jawab saya sendiri. Dari situlah saya semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar keberanian mengambil keputusan, tetapi juga keberanian mengevaluasi cara, memperbaiki komunikasi, dan mengakui bahwa selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya pun belajar untuk tidak menggantungkan semangat pada pujian. Pujian tentu menyenangkan, tetapi ia tidak boleh menjadi alasan utama untuk tetap melakukan yang baik. Pada saat yang sama, keyakinan bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang benar juga tidak boleh membuat kita berhenti mendengar. Mungkin keseimbangan itulah yang terus saya cari dalam memimpin: teguh pada nilai tanpa merasa paling benar, berani mengambil keputusan tanpa menutup telinga, dan tetap terbuka untuk belajar.
Hari itu saya datang tanpa membawa pertanyaan apa-apa, tetapi saya pulang membawa sebuah cermin. Sebuah pengingat bahwa sebelum berharap orang lain menghargai apa yang saya lakukan, saya pun harus belajar menghargai mereka. Sebelum berharap kehadiran saya dirasakan, saya harus memastikan bahwa saya benar-benar hadir. Sebelum merasa berat menerima kritik, saya harus memastikan hati saya masih cukup lapang untuk mendengarnya. Pujian mungkin datang, mungkin juga tidak, dan kritik akan selalu menjadi bagian dari perjalanan. Namun semoga keduanya tidak membuat saya kehilangan arah, karena pada akhirnya tugas seorang pemimpin bukan hanya membantu orang lain bertumbuh, tetapi juga memastikan bahwa dirinya sendiri tidak pernah berhenti belajar dan bertumbuh.
Tamalatea, 3 Oktober 2026




