Partitur KepemimpinanTerkini

harapan yang Perlu Kita Contohkan

Tentang sikap yang kita harapkan dari siswa, dan usaha kita untuk lebih dulu menghidupinya

Kita semua punya harapan yang sama untuk siswa-siswi kita: tumbuh menjadi pribadi yang sopan, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun pelan-pelan saya belajar bahwa harapan seperti itu tidak tumbuh hanya karena sering diucapkan. Siswa tidak menjadi baik hanya karena diminta baik. Mereka lebih mudah memahami kebaikan ketika melihatnya dijalankan oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.
Sebagai kepala sekolah, saya pun punya daftar panjang harapan untuk siswa. Saya ingin mereka datang tepat waktu, berbicara santun, menuntaskan tugas, menjaga kebersihan, dan saling menghormati. Setiap kali menyampaikan harapan itu, ada satu pertanyaan yang terasa harus lebih dulu saya ajukan kepada diri sendiri: sudahkah kita memperlihatkan wujud harapan itu dalam keseharian di sekolah?
Ambil contoh gerbang sekolah setiap pagi. Kita berharap siswa menyapa guru dengan santun. Ketika seorang anak menunduk dan berkata, “Selamat pagi, Pak,” apakah kita benar-benar menoleh, menatap matanya, dan membalas dengan hangat? Atau kita hanya menjawab sambil lalu karena pikiran sudah penuh dengan pekerjaan berikutnya? Dari balasan kecil itu, anak belajar apakah sapaannya berarti.
Kita meminta siswa tepat waktu. Namun ketika mereka sudah berkumpul rapi untuk sebuah kegiatan, apakah kita memulainya tepat seperti yang dijanjikan? Atau kita membiarkan mereka menunggu cukup lama, lalu tanpa sadar mengajarkan bahwa janji tentang waktu ternyata boleh diingkari?
Di kelas, kita ingin siswa berani bertanya. Ada anak yang memilih diam, bukan karena tidak penasaran, melainkan karena takut pertanyaannya terdengar bodoh. Kita pun berharap mereka jujur saat belum paham. Lalu ketika seorang siswa berkata pelan, “Maaf, Pak, saya belum paham,” bagaimana kita menyambut kejujuran itu? Apakah wajah kita menunjukkan bahwa kejujuran membuka pintu belajar, atau justru membuatnya menyesal karena sudah jujur?
Kita juga sering berkata kepada siswa yang nilainya rendah, “Kamu harus belajar lebih sungguh-sungguh.” Mungkin memang begitu. Tetapi bisa jadi ia bukan tidak mau berusaha, melainkan belum tahu harus mulai dari mana. Ia belum tahu cara mencatat hal penting, atau cara membagi waktu ketika tiga tugas datang bersamaan. Nasihat akan jauh lebih menolong jika tidak berhenti pada kata-kata. Kita perlu mengajarinya caranya, memberinya waktu untuk mencoba, lalu duduk bersama melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang masih sulit.
Begitu pula soal tanggung jawab. Kita meminta siswa berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Betapa berharganya pelajaran itu bagi mereka jika orang dewasa di sekolah juga berani berkata, “Tadi saya keliru, maaf,” atau “Kemarin saya berjanji menindaklanjuti ini, tetapi saya terlambat.” Dari kalimat sederhana itu, mereka belajar bahwa tanggung jawab bukan hanya pelajaran untuk anak-anak, melainkan cara hidup bagi semua orang, termasuk pemimpin dan guru mereka.
Saya tahu hari-hari di sekolah tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Guru menghadapi puluhan anak dengan kebutuhan yang berbeda, waktu yang terbatas, dan tumpukan pekerjaan yang menunggu. Siswa pun masih belajar memahami dirinya, mengelola kekecewaannya, dan menerima akibat dari pilihannya. Karena itu, tulisan ini pertama-tama saya tujukan untuk diri sendiri.
Jika saya berharap guru mendengarkan siswa dengan sabar, sudahkah saya menyediakan waktu untuk mendengarkan guru ketika mereka lelah dan menyampaikan kesulitannya? Jika saya meminta warga sekolah terbuka terhadap masukan, bersediakah saya meninjau kembali keputusan saya ketika ada alasan yang lebih baik? Saya tidak bisa meminta orang lain menghidupi sebuah nilai jika saya sendiri berhenti mengusahakannya.
Tepuk sebelah tangan tidak akan berbunyi. Bunyi itu lahir ketika kedua telapak tangan bertemu. Begitu pula kehidupan di sekolah: harapan kepada siswa perlu bertemu dengan teladan orang dewasa, dan harapan kepada guru perlu bertemu dengan dukungan pemimpinnya. Kita semua, siswa, guru, dan pemimpin, sama-sama sedang belajar.
Maka saya ingin memulai dari pertanyaan yang paling dekat sekaligus paling berat: sebelum berharap orang lain bersikap tertentu, sudahkah mereka lebih dulu melihat sikap itu dalam cara saya menyapa, mendengarkan, menepati janji, dan mengakui kekeliruan saya sendiri?

Tamalatea, 29 September 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button