Merawat Marwah, Menenun Regenerasi di Panggung KSM Batam
Menjaga akar tradisi, menyiapkan tunas regenerasi

Ada sesuatu yang terasa berbeda menjelang pelaksanaan Kenduri Seni Melayu (KSM) tahun ini. Bahkan sebelum panggung utama benar-benar dibuka, gaungnya sudah lebih dulu terasa di tengah masyarakat. Dua titik pelaksanaan awal di Batu Aji dan Tanjung Uma seakan menjadi pemantik ingatan lama, membangunkan kembali memori kolektif masyarakat tentang masa-masa ketika Kenduri Seni Melayu pernah berada di puncak kejayaannya.
Banyak orang mulai kembali bercerita. Tentang ramainya penonton. Tentang malam-malam penuh cahaya panggung. Tentang bunyi gendang, syair, tari, dan pertemuan para seniman yang dahulu begitu hidup. Tidak sedikit pula yang mengaku merindukan suasana itu. Kerinduan yang selama ini mungkin diam, namun tiba-tiba muncul kembali ketika KSM kembali hadir di tengah masyarakat.
Agaknya, kebangkitan ingatan itu bukan terjadi begitu saja. Ada pendekatan yang terasa berbeda dari gagasan yang dibangun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam kali ini. KSM tidak lagi hanya menunggu penonton datang, tetapi justru “menjemput” masyarakat dengan membawa pertunjukan langsung ke titik-titik yang diyakini memiliki denyut budaya dan kedekatan emosional dengan warga. Batu Aji dan Tanjung Uma menjadi bukti bahwa seni yang hadir dekat dengan masyarakat akan lebih mudah menyentuh hati mereka.
Gagasan ini patut diapresiasi. Di tengah meredupnya aktivitas seni pascapandemi COVID-19 yang sempat membuat banyak ruang pertunjukan kehilangan napasnya, kini perlahan-lahan gairah itu seperti mulai bangkit kembali. Seniman kembali bergerak. Penonton mulai berdatangan. Anak-anak muda mulai melihat bahwa seni pertunjukan Melayu masih memiliki ruang dan masa depan.
Namun ada hal lain yang juga dinilai sangat cerdas dari rangkaian jelang KSM tahun ini, yakni upaya menelusuri sanggar-sanggar seni yang tumbuh di sekolah-sekolah. Langkah ini bukan sekadar mencari pengisi acara tambahan, melainkan sebuah cara membaca masa depan kebudayaan Melayu dari generasi mudanya.
Agaknya Samson Rambah Pasir yang selama ini turut bergelut dalam kegiatan FLS3N tingkat kota melihat bahwa benih-benih kesenian di sekolah-sekolah Batam sesungguhnya terus tumbuh dan berkembang. Bukan hanya tari dan musik tradisi, tetapi juga monolog, mendongeng, cipta puisi, fotografi, hingga poster digital mulai melahirkan banyak karya dan talenta muda yang menjanjikan. Tinggal bagaimana ruang besar seperti KSM membuka jalan dan memberi panggung, agar generasi muda ini tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga tampil sebagai penerus denyut seni dan budaya Melayu di Kota Batam.
Maka menyemai benih jelang KSM menuju panggung utama menjadi gagasan yang sangat penting. Sanggar-sanggar terpilih seyogianya diberi kesempatan untuk turut tampil dalam panggung utama Kenduri Seni Melayu. Di situlah cerita lama dan cerita baru dapat bertemu. Format lama yang penuh nostalgia berpadu dengan semangat baru generasi muda yang sedang tumbuh. Sebab KSM tidak cukup hanya menghadirkan romantisme kejayaan masa lalu. Ia juga harus mampu memperlihatkan siapa penerusnya hari ini.
Kehadiran para maestro dan tamu besar tentu penting. Menghadirkan maestro tari Nini Towok adalah sesuatu yang berarti. Mengundang PLT Laksamana dari Pekanbaru adalah langkah baik. Menjemput Rima Bayu dari Malaysia juga bukan hal yang salah. Semua itu akan memperkuat marwah dan jejaring kebudayaan Melayu yang lintas wilayah.
Namun akan menjadi jauh lebih bermakna apabila para tamu dan seniman besar itu tidak hanya datang untuk ditonton, melainkan juga menyaksikan langsung bagaimana geliat generasi muda Batam sedang tumbuh. Mereka perlu melihat bahwa anak-anak Batam telah siap menjadi generasi pengganti. Bahwa seni Melayu di kota ini belum habis. Karena sesungguhnya Batam tidak boleh hanya dikenal sebagai kota industri dan galangan kapal semata. Batam juga harus dikenal sebagai tempat bertumbuhnya seni dan kebudayaan yang kuat, hidup, dan memiliki masa depan.
Dan mungkin di situlah tantangan besar KSM tahun ini: bagaimana menjadikan panggung budaya bukan sekadar ruang pertunjukan, tetapi juga ruang regenerasi. Bagaimana Pak Kadis Pariwisata dan Kabid, suai?
Tamalatea, Mei 2026


Masya allah luar biasa pak kepsek
Biasa aja, pak hamzah. terima kasih.
Mantap sumartap.. sukses selalu pak kepsek
Salam dari cluster melati
Hehehe…