Balik Layar

Tubuh Kecil, Keyakinan Besar

Kalah Perkara, Menang Pelajaran

BEBERAPA waktu terakhir saya menghadapi sebuah persoalan yang cukup panjang. Hari ini, ketika semuanya hampir selesai, saya justru lebih banyak tersenyum daripada mengeluh. Bukan karena hasil akhirnya sesuai dengan harapan saya. Bukan pula karena saya berhasil memenangkan semuanya. Justru sebaliknya.

Ada beberapa hal yang tidak berjalan sebagaimana yang saya bayangkan. Ada pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan. Namun semakin saya renungkan, semakin saya menyadari bahwa mungkin hidup memang tidak selalu memberikan jawaban yang kita inginkan. Kadang hidup hanya memberikan pelajaran.

Ketika persoalan itu muncul, saya memilih untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Saya bertanya. Saya mengirim surat. Saya meminta pendapat. Saya mendatangi orang-orang yang menurut saya lebih memahami persoalan tersebut. Saya membawa dokumen, bukti, dan berbagai pertimbangan yang saya miliki. Saya berusaha melihat masalah itu dari berbagai sudut pandang.

Saya berpikir, bukankah memang itu yang seharusnya dilakukan ketika seseorang sedang ragu?. Bukankah lebih baik bertanya daripada bertindak sembarangan?. Maka saya pun bertanya. Dan saya mendapatkan banyak jawaban.

Menariknya, jawaban-jawaban itu tidak selalu sama. Ada yang mendukung. Ada yang ragu. Ada yang berbicara dengan sangat yakin. Ada yang tegas pada awalnya, lalu perlahan memilih diam. Saat itulah saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan akan berakhir dengan jawaban yang jelas.

Kadang kita hanya memperoleh berbagai sudut pandang. Sedangkan keputusan akhirnya tetap harus kita ambil sendiri. Itulah bagian yang dulu belum sepenuhnya saya pahami.

Saya kira ketika kita datang membawa persoalan, maka akan ada seseorang yang memberikan kepastian. Ternyata tidak selalu demikian. Pada akhirnya, keputusan tetap kembali kepada orang yang memikul tanggung jawabnya. Dan dalam perkara ini, orang itu adalah saya.

Ada satu bagian dari perjalanan ini yang sampai sekarang masih membuat saya tersenyum sendiri.

Saya bukan orang yang tinggi besar. Tubuh saya kecil. Usia sudah melewati lima puluh tahun. Rambut sudah beruban, bahkan sebagian mulai memilih pensiun lebih dulu daripada pemiliknya. Kalau dilihat sekilas, saya mungkin lebih cocok dianggap guru biasa yang sedang mencari tempat duduk teduh daripada seseorang yang harus dihadapi dengan berbagai tekanan.

Tetapi anehnya, dalam perjalanan persoalan ini, saya didatangi berbagai pihak. Ada pengacara. Ada somasi yang datang berkali-kali. Ada orang-orang berbadan besar yang ikut mendampingi. Ada tekanan yang datang silih berganti.

Kadang saya tertawa sendiri. Dalam hati saya bertanya, “Sebenarnya mereka sedang menghadapi siapa?” Karena kalau dilihat dari ukuran badan, saya jelas bukan ancaman. Kalau dilihat dari usia, saya juga bukan anak muda yang sedang berapi-api.

Kalau dilihat dari jabatan, saya hanya seorang kepala sekolah yang sedang berusaha memahami sebuah persoalan. Lalu saya sadar. Mungkin yang mereka hadapi bukan tubuh saya. Bukan usia saya. Bukan jabatan saya. Yang mereka hadapi adalah keyakinan saya. Dan keyakinan memang tidak memiliki tinggi badan.

Keyakinan tidak memiliki berat badan. Keyakinan tidak memiliki ukuran sepatu. Ia tidak dapat ditimbang dan tidak dapat diukur dengan penggaris. Saya tidak pernah menganggap diri saya paling benar. Karena itulah saya bertanya ke banyak tempat. Karena itulah saya meminta pendapat. Karena itulah saya mencari pandangan yang berbeda.

Saya bahkan siap mengubah pendapat saya apabila memang ditemukan alasan yang lebih kuat. Tetapi selama saya masih meyakini bahwa apa yang saya lakukan dapat dipertanggungjawabkan, saya memilih untuk tetap berdiri. Bahkan ketika harus berdiri sendirian.

Dari seluruh perjalanan itu, saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Ternyata tidak semua persoalan harus dimenangkan. Ada persoalan yang memang layak diperjuangkan sampai titik terakhir.

Namun ada pula persoalan yang harus dihitung biaya perjuangannya. Sebab jangan sampai kita kehilangan seekor kerbau hanya karena terlalu lama memperjuangkan seekor kambing. Yang hilang bukan selalu uang. Kadang yang hilang adalah kesehatan. Ketenangan pikiran. Waktu bersama keluarga. Semangat bekerja.

Bahkan kebahagiaan yang selama ini kita miliki. Bukan berarti menyerah. Bukan berarti takut. Tetapi karena hidup mengajarkan bahwa tidak semua pertarungan harus dimenangkan. Ada saatnya kita perlu berhenti, mengambil pelajaran, lalu melanjutkan perjalanan.

Hari ini saya memilih menutup persoalan itu dengan kepala tegak. Bukan karena saya merasa menang. Bukan pula karena saya merasa kalah.

Tetapi karena saya yakin telah menjalani seluruh prosesnya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan pemahaman dan keyakinan yang saya miliki saat itu.

Saya sudah mencoba memahami.

Saya sudah mencari kepastian.

Saya sudah memperjuangkan apa yang menurut saya perlu diperjuangkan.

Maka hari ini saya memilih melanjutkan perjalanan.

Tanpa kemarahan. Tanpa dendam. Tanpa penyesalan. Karena pada akhirnya hidup bukan hanya soal memenangkan setiap persoalan. Hidup juga tentang mengetahui kapan harus melanjutkan, kapan harus berhenti, dan kapan harus mengambil pelajaran.

Dan jika ada satu hal yang saya syukuri dari semua pengalaman ini, itu adalah kenyataan bahwa saya tetap bisa melihatnya dengan senyuman. Sebab pada akhirnya, saya tidak membawa pulang kemenangan. Saya juga tidak membawa pulang kekalahan. Yang saya bawa pulang adalah pengalaman.

Dan sering kali, pengalaman adalah guru yang paling mahal sekaligus paling jujur dalam kehidupan.

Tamalatea, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button