Sekolah Harus Belajar Mendengar
Di balik setiap peserta didik selalu ada cerita yang perlu dipahami.

“Anak-anak sekarang tidak punya sopan santun.”
“Karakternya semakin buruk.”
“Mereka tidak menghargai guru.”
“Sekarang mereka tidak takut lagi kepada guru.”
Kalimat-kalimat seperti itu hampir selalu saya dengar ketika guru berbicara tentang peserta didik. Bahkan sering kali disertai dengan perbandingan yang terdengar begitu akrab.
“Kalau zaman kita dulu, mendengar bunyi telapak sepatu guru di lorong sekolah saja sudah membuat kita duduk rapi.”
Saya memahami mengapa kalimat-kalimat itu muncul. Zaman memang berubah. Cara anak-anak bertumbuh hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Lingkungan mereka berubah. Teknologi mengubah cara mereka berkomunikasi, belajar, bahkan memandang kehidupan.
Namun semakin lama saya memimpin sekolah, semakin sering saya bertanya kepada diri sendiri.
Apakah kita benar-benar mengenal mereka?
Ataukah kita terlalu cepat menyimpulkan?
Pertanyaan itu lahir bukan karena saya ingin membela peserta didik.
Pertanyaan itu lahir karena saya mulai menyadari bahwa sering kali sekolah mengambil keputusan berdasarkan apa yang terlihat, bukan berdasarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Suatu hari seorang guru bercerita tentang seorang peserta didik.
Anak itu dianggap kurang memiliki motivasi belajar. Tugasnya sering tidak selesai. Semangat belajarnya rendah. Ia terlihat seperti tidak memiliki tujuan yang jelas.
Kalau saya berhenti sampai di situ, mungkin saya juga akan menyimpulkan bahwa anak itu memang malas.
Namun setelah saya berbicara dengannya, saya menemukan kenyataan yang sama sekali berbeda.
Sejak awal ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke SMK.
Ia telah memiliki gambaran tentang masa depannya. Ia ingin memiliki keterampilan agar dapat segera bekerja setelah lulus. Namun orang tuanya tidak mengizinkan. Alasannya sederhana. SMK yang diinginkan terlalu jauh dari rumah, sementara keluarganya tidak memiliki kendaraan untuk mengantarnya setiap hari.
Akhirnya ia masuk SMA.
Bukan karena itu pilihannya.
Tetapi karena keadaan keluarganya.
Saya terdiam.
Yang selama ini kami sebut sebagai kurangnya motivasi ternyata memiliki cerita yang tidak pernah kami ketahui.
Pengalaman lain kembali saya alami ketika sekolah menjalin kerja sama dengan sebuah perguruan tinggi. Programnya sangat baik. Peserta didik akan belajar berbagai keterampilan langsung di kampus. Semua pihak telah sepakat.
Namun program itu akhirnya tidak dapat dijalankan.
Bukan karena peserta didiknya tidak mau belajar.
Bukan karena perguruan tingginya membatalkan kerja sama.
Program itu berhenti karena banyak orang tua meminta sekolah menyediakan transportasi pulang-pergi. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengantar ataupun membiayai perjalanan anaknya selama mengikuti kegiatan.
Saya kembali belajar.
Kadang-kadang yang gagal bukan programnya.
Yang gagal adalah pemahaman kita terhadap kondisi peserta didik dan keluarganya.
Pada kesempatan lain saya juga menemukan kenyataan yang menarik.
Ada orang tua yang membatalkan pendaftaran anaknya setelah mengetahui bahwa jam belajar di sekolah berlangsung hingga sore hari. Mereka memilih sekolah lain yang waktu belajarnya lebih singkat.
Di sisi yang lain, saya pernah berbincang dengan seorang peserta didik yang memilih bersekolah di tempat kami karena ia merasa di sekolah sebelumnya terlalu banyak waktu yang terbuang tanpa kegiatan belajar yang bermakna.
Dua pengalaman yang sangat berbeda.
Namun keduanya mengajarkan pelajaran yang sama.
Setiap keluarga memiliki pertimbangan yang berbeda.
Setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda.
Dan sekolah tidak akan pernah mengetahuinya jika tidak mau bertanya.
Selama ini saya melihat banyak sekolah menyusun program berdasarkan apa yang menurut sekolah baik untuk peserta didik.
Padahal belum tentu itulah yang benar-benar mereka butuhkan.
Kita membuat program.
Kita menyusun pelatihan.
Kita merancang pembinaan.
Kita menyiapkan berbagai kegiatan.
Tetapi sering kali kita lupa mengajukan satu pertanyaan yang jauh lebih penting.
Siapa sebenarnya peserta didik yang akan menerima semua program itu?
Pertanyaan itulah yang akhirnya mendorong saya membuat tiga angket sederhana.
Angket pertama saya berikan kepada peserta didik dengan identitas yang jelas.
Saya ingin mengenal mereka lebih dekat.
Bersama siapa mereka tinggal.
Bagaimana kondisi keluarganya.
Apa pekerjaan orang tuanya.
Bagaimana mereka berangkat ke sekolah.
Apa cita-citanya.
Apa bakatnya.
Apa keterampilannya.
Apakah mereka pernah mengikuti olimpiade, olahraga, seni, organisasi, atau memiliki kemampuan lain yang belum pernah diketahui sekolah.
Bahkan saya ingin mengetahui apakah ada peserta didik yang harus bekerja membantu keluarganya.
Semua pertanyaan itu bukan lahir dari rasa ingin tahu.
Semuanya lahir dari kebutuhan sekolah untuk memahami siapa yang sedang kami didik.
Angket kedua saya buat tanpa mencantumkan identitas.
Saya ingin mendengar suara yang mungkin selama ini tidak pernah berani mereka sampaikan.
Mengapa mereka memilih sekolah ini.
Apa yang mereka dengar tentang sekolah kami.
Apa yang mereka sukai.
Apa yang menurut mereka perlu diperbaiki.
Apa yang mereka harapkan dari sekolah.
Saya ingin mereka berbicara tanpa rasa takut.
Karena sering kali kejujuran hanya lahir ketika seseorang merasa aman untuk menyampaikan pikirannya.
Angket ketiga saya berikan kepada orang tua.
Bagi saya, mendidik peserta didik tidak cukup hanya mengenal anaknya.
Sekolah juga harus mengenal keluarganya.
Saya ingin mengetahui bagaimana kondisi mereka.
Bagaimana cara terbaik sekolah berkomunikasi dengan mereka.
Apa harapan mereka terhadap sekolah.
Apakah mereka membutuhkan Program Makan Bergizi Gratis.
Apakah anak mereka ikut membantu mencari nafkah.
Keterampilan apa yang mereka miliki.
Dan apakah suatu hari mereka bersedia hadir di sekolah untuk berbagi pengalaman hidup, keterampilan, atau profesi kepada peserta didik.
Saya percaya, orang tua bukan sekadar penerima laporan hasil belajar.
Mereka adalah mitra utama sekolah dalam mendidik anak.
Semakin sekolah mengenal orang tua, semakin besar peluang lahirnya kerja sama yang baik.
Saya tidak sedang membuat angket.
Saya sedang belajar mendengar.
Karena saya tidak ingin lagi menyusun program berdasarkan dugaan.
Saya tidak ingin lagi mengambil keputusan berdasarkan cerita yang hanya terdengar sepintas.
Saya tidak ingin lagi menyelesaikan persoalan dengan kesimpulan yang sama.
“Anak-anak sekarang malas.”
“Mereka tidak punya motivasi.”
“Orang tuanya tidak peduli.”
Kalimat-kalimat itu terlalu mudah diucapkan.
Padahal di balik setiap peserta didik selalu ada kehidupan yang belum tentu kita pahami.
Semakin lama saya memimpin sekolah, semakin saya menyadari bahwa tugas pertama seorang kepala sekolah bukanlah menyusun program.
Tugas pertama seorang kepala sekolah adalah memahami manusia yang akan menerima program itu.
Sebab program yang hebat belum tentu menjadi jawaban.
Tetapi program yang lahir dari kebutuhan hampir selalu menemukan jalannya sendiri.
Itulah sebabnya saya memilih memulai dari data.
Bukan karena saya menyukai angka.
Bukan karena saya ingin membuat grafik.
Melainkan karena saya ingin memastikan bahwa setiap keputusan yang lahir di sekolah ini memiliki wajah manusia.
Saya ingin setiap program mengetahui siapa yang akan menerimanya.
Saya ingin setiap kebijakan memahami kehidupan orang yang akan menjalaninya.
Saya ingin setiap langkah sekolah berpijak pada kenyataan, bukan pada dugaan.
Saya semakin percaya bahwa tidak ada peserta didik yang dapat dipahami hanya dari daftar hadir, nilai rapor, atau catatan pelanggaran.
Di balik setiap anak selalu ada cerita yang belum tentu diketahui oleh sekolah.
Ada keluarga yang sedang berjuang.
Ada mimpi yang tertunda.
Ada pilihan yang tidak pernah benar-benar menjadi pilihannya.
Ada beban yang tidak pernah mereka ceritakan.
Dan selama sekolah tidak mau mendengar, semua itu akan tetap menjadi sesuatu yang tidak terlihat.
Karena itu, sebelum menyusun program, saya memilih mengenal manusianya.
Sebelum memberikan solusi, saya memilih memahami masalahnya.
Sebelum mengambil keputusan, saya memilih mendengar.
Saya percaya bahwa data tidak pernah menggantikan hati seorang pemimpin.
Tetapi data menjaga agar hati seorang pemimpin tidak tersesat oleh prasangka.
Dan pada akhirnya saya sampai pada satu keyakinan yang sederhana.
Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang memiliki program paling banyak.
Bukan pula sekolah yang paling cepat mengambil keputusan.
Sekolah yang hebat adalah sekolah yang paling memahami siapa yang sedang dididiknya.
Sebab hanya sekolah yang mau mendengar, yang benar-benar akan tahu apa yang sesungguhnya harus diperjuangkan.
Tamalatea, 13 Juli 2026





https://shorturl.fm/i4jxe
https://shorturl.fm/LPQzp
https://shorturl.fm/91lku
https://shorturl.fm/5hndV
https://shorturl.fm/krieV