Antara Melindungi Siswa & Menjaga Martabat Guru
Refleksi Seorang Kepala Sekolah tentang Menjaga Guru, Melindungi Siswa, dan Mencari Kebenaran

Beberapa waktu yang lalu, saya mengalami sebuah peristiwa yang cukup menguras pikiran. Selama hampir dua bulan saya memilih diam. Bukan karena mengabaikan persoalan, tetapi karena saya berusaha mencari cara terbaik untuk menyampaikannya kepada seorang guru tanpa membuat beliau merasa dipermalukan di hadapan kepala sekolahnya.
Awalnya saya berharap persoalan ini bisa selesai dengan sendirinya. Namun seiring waktu, saya melihat beberapa sikap yang membuat saya khawatir. Akhirnya saya memutuskan untuk memanggil beliau ke ruangan saya. Kami berbicara dari hati ke hati. Saya menjaga setiap kalimat yang saya sampaikan agar beliau tidak merasa disudutkan. Tujuan saya bukan mencari siapa yang salah, tetapi agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Semua ini berawal sekitar dua bulan sebelumnya, menjelang pembagian rapor semester dua. Dua orang siswa datang menemui saya. Mereka menyampaikan keberatan terhadap tiga orang guru. Masing-masing memiliki cerita yang berbeda.
Salah satu cerita yang paling menyita perhatian saya adalah adanya kegiatan menjual beberapa produk milik guru. Menurut pengakuan mereka, untuk mendapatkan nilai yang baik mereka diminta menjual produk tersebut. Tidak semua siswa memiliki kemampuan berdagang. Ada yang sudah berusaha menawarkan kepada orang lain, tetapi tidak ada yang membeli. Akhirnya mereka meminta orang tuanya membeli produk tersebut karena takut nilainya tidak baik. Ketika orang tua mengetahui alasannya, mereka merasa keberatan.
Selain itu, mereka juga bercerita pernah diminta membawa ban bekas. Terus terang, saat itu saya sendiri belum mengetahui apa tujuan sebenarnya karena saya belum pernah mendapatkan penjelasan dari guru yang bersangkutan. Saya kemudian mencoba memberikan pemahaman kepada mereka.
“Mungkin ban bekas itu digunakan untuk menahan tanah agar tidak longsor.”
Mereka langsung menjawab, “Kalau begitu tidak apa-apa, Pak.”
Jawaban itu membuat saya berpikir. Ternyata mereka bukan sedang mencari-cari kesalahan gurunya. Mereka bisa menerima jika memang kegiatan itu untuk kepentingan sekolah. Yang mereka rasakan tidak tepat adalah ketika kegiatan menjual produk dikaitkan dengan penilaian.
Saya mendengarkan cerita mereka sampai selesai. Saya melihat kedua anak ini datang bukan untuk menjatuhkan gurunya. Mereka hanya ingin didengar. Mereka ingin menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Saya kemudian mengatakan kepada mereka bahwa sekolah akan menindaklanjuti persoalan ini dan berusaha agar hal seperti itu tidak terjadi lagi.
Sebelum mereka keluar dari ruangan saya, saya juga berpesan,
“Kalau nanti ada yang bertanya kenapa kalian masuk ke ruangan kepala sekolah, katakan saja kalian mengantarkan surat dari Pak Lurah.”
Saya sengaja mengatakan itu supaya tidak muncul berbagai dugaan di sekolah. Saya juga tidak ingin kedua anak ini dicap sebagai pengadu.
Saat mereka keluar dari ruangan saya, saya melihat wajah mereka jauh lebih tenang. Saat itulah saya sadar, terkadang anak datang kepada kepala sekolah bukan karena ingin menghukum gurunya. Mereka hanya ingin ada orang dewasa yang mau mendengar apa yang mereka rasakan.
Beberapa waktu kemudian saya memanggil guru yang bersangkutan untuk melakukan klarifikasi.
Yang membuat saya cukup terkejut, semua yang disampaikan siswa ternyata diakui. Tidak ada satu pun yang dibantah. Beliau menjelaskan bahwa selama ini banyak produk tersebut dibeli oleh guru-guru melalui siswa dan menurut beliau tidak pernah ada masalah.
Saya memahami bahwa penjelasan itu mungkin merupakan bentuk pembelaan diri.
Saya kemudian mengatakan kepada beliau bahwa persoalannya bukan pada ada atau tidaknya guru yang membeli produk tersebut.
“Mungkin guru memang membutuhkan barang itu. Tetapi bagaimana dengan siswa yang tidak berhasil menjualnya, lalu akhirnya meminta orang tuanya membeli karena takut nilainya tidak baik? Bukankah ini yang seharusnya kita jaga?”
Saya juga menyampaikan bahwa kalau selama ini dianggap tidak ada masalah, mungkin hanya karena belum pernah terungkap. Ketika sudah ada siswa yang menyampaikan keberatan, saat itulah persoalan tersebut bisa menjadi bumerang.
Setelah saya menyampaikan hal itu, saya melihat beliau mulai menyadari persoalannya. Memang tidak ada satu kata maaf yang keluar dari mulutnya. Namun bagi saya, itu bukan lagi hal yang paling penting. Yang lebih penting adalah semoga setelah pembicaraan itu tidak ada lagi siswa yang mengalami hal serupa.
Sebelum kedua siswa itu pulang, saya juga menitipkan satu pesan kepada mereka.
“Kalau suatu hari nanti kalian merasa ada permintaan guru yang menurut kalian kurang masuk akal, jangan buru-buru melapor kepada orang tua. Coba tanyakan dulu kepada guru yang bersangkutan. Kalau masih belum jelas, kalian bisa bercerita kepada wali kelas, guru BK, guru lain yang kalian percaya, wakil kepala sekolah, atau langsung kepada saya. Kita harus mencari kebenarannya dulu. Siapa tahu kalian salah memahami maksud guru. Tetapi kalau memang ada yang tidak benar, sekolah akan menyelesaikannya.”
Bagi saya, pesan ini sangat penting.
Anak-anak harus berani menyampaikan apa yang mereka rasakan, tetapi mereka juga harus belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Guru juga berhak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan. Dengan cara seperti itulah kita bisa menemukan kebenaran.
Saya percaya, sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk semua.
Siswa harus merasa aman menyampaikan pendapatnya.
Guru juga harus merasa aman karena tidak langsung dihakimi tanpa klarifikasi.
Sebagai kepala sekolah, saya tidak ingin hanya mendengar satu pihak. Saya juga tidak ingin langsung menyalahkan guru atau langsung membenarkan siswa. Semua harus diperiksa dengan baik sebelum mengambil keputusan.
Dari peristiwa ini saya belajar bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya tentang mengambil keputusan. Kadang yang lebih sulit adalah menjaga keseimbangan. Menjaga martabat guru, melindungi hak siswa, menjaga kepercayaan orang tua, sekaligus menjaga nama baik sekolah.
Saya percaya, sekolah yang baik bukanlah sekolah yang tidak pernah memiliki masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau mendengar, berani mencari kebenaran, dan tidak takut memperbaiki diri ketika menemukan kekeliruan.
Semoga saya selalu diberi kekuatan untuk bersikap adil, menjaga semua pihak dengan sebaik-baiknya, dan terus belajar menjadi pemimpin yang lebih baik dari hari ke hari.
Tamalatea, 26 Juli 2026





https://shorturl.fm/sYIxi