Balik LayarTerkini

Menulis untuk Menguji Sebuah Keyakinan

Catatan Mengikuti Lomba Penulisan Artikel Guru Tingkat Nasional Tahun 2026

Saya mengikuti ajang ini bukan karena merasa memiliki gagasan yang paling hebat, atau membawa program besar dengan segala kelengkapannya. Saya hanya membawa satu hal: pengalaman sederhana dari SMAN 14 Batam.
Semuanya bermula dari sebuah angket yang kami bagikan kepada orang tua peserta didik baru. Awalnya, saya menduga mereka akan lebih meminta sekolah mengutamakan prestasi akademik, persiapan masuk perguruan tinggi, atau keberhasilan nilai anak. Namun dugaan itu keliru.
Dari 313 orang tua yang merespons, sebanyak 278 orang—atau sekitar 89 persen—berharap sekolah lebih dahulu membantu membentuk karakter dan akhlak putra-putri mereka.
Angka itu membuat saya berhenti sejenak. Saya menyadari satu hal mendasar: orang tua tidak sedang menitipkan nilai rapor kepada sekolah. Mereka sedang menitipkan kehidupan anak-anak mereka.
Kesadaran itu mengubah cara kami memandang pendidikan. Kami belajar bahwa karakter tidak cukup tumbuh dari nasihat, slogan, atau tulisan di dinding. Karakter harus dialami.
Itulah yang mendorong kami menghadirkan pengalaman-pengalaman kecil sehari-hari melalui program Suluh Pekerti, pembiasaan positif, penghargaan karakter, hingga kegiatan menulis surat untuk orang tua. Dalam kegiatan itu, anak-anak menuliskan apa yang sering sulit mereka ucapkan secara langsung: rasa terima kasih, permohonan maaf, harapan, dan kasih sayang. Surat itu kami sampaikan tanpa pernah membacanya—kami hanya menjadi perantara yang dipercaya untuk menghubungkan kembali hati anak dan orang tua.
Pengalaman inilah yang kemudian saya tuliskan dalam artikel berjudul “Pelajaran yang Tidak Pernah Tertulis di Papan Tulis.”

Mengapa Saya Berani Menulis?

Bukan semata-mata untuk menjadi pemenang. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting bagi saya:

Apakah pengalaman sederhana ini juga dirasakan oleh pendidik lain? Apakah keyakinan bahwa karakter tumbuh lewat pengalaman, bukan sekadar ajaran, juga diyakini oleh guru-guru di tempat lain? Apakah apa yang kami lakukan layak untuk dibagikan?
Menulis memaksa saya untuk kembali merenung, memeriksa kembali niat dan langkah kami, serta menguji apakah apa yang kami yakini benar-benar memiliki makna. Menulis adalah cara saya berpikir, menguji keyakinan, dan mempertanggungjawabkan apa yang kami ajarkan.
Membawa tulisan ini ke ruang nasional bukan berarti saya merasa apa yang kami lakukan lebih baik dari sekolah lain. Saya tahu setiap sekolah memiliki tantangan dan cara masing-masing. Tulisan ini hanyalah satu suara kecil dari sekian banyak perjuangan pendidikan di Indonesia. Namun, pengalaman tidak akan berguna jika hanya disimpan sendiri. Ia perlu diceritakan agar bisa diperbaiki, diperkuat, atau menjadi inspirasi bagi yang lain.
Jika diterima, kami mendapat penguatan. Jika dikritik, kami mendapat jalan untuk berkembang. Jika tidak menang, proses menulis ini sendiri sudah menjadi kemenangan bagi kami.

Melangkah Lebih Jauh

Melalui tulisan ini, saya juga ingin mengajak seluruh warga SMAN 14 Batam: jangan takut menulis. Pengalaman sehari-hari yang terasa biasa saja bagi kita, bisa jadi adalah jawaban yang sedang dicari orang lain. Banyak kisah berharga dari ruang kelas, dari perjalanan anak-anak, dari keseharian sekolah yang hilang karena tak pernah dituliskan.
Saya memohon doa dan dukungan dari seluruh keluarga besar SMAN 14 Batam, orang tua, alumni, dan sahabat pendidikan sekalian. Dukungan ini bukan hanya untuk hasil lomba, melainkan agar kami tetap berani belajar, jujur, dan berbagi.
Apa pun hasilnya nanti, saya telah belajar satu hal besar: pengalaman yang dituliskan akan hidup lebih lama. Ia akan berjalan lebih jauh, menyentuh lebih banyak hati, dan menjadi bagian dari perbaikan pendidikan yang lebih luas.
Saya belum tahu sejauh mana tulisan ini akan melangkah. Namun saya yakin satu hal: lomba ini bukan sekadar memilih tulisan terbaik. Lomba ini adalah kesempatan untuk menguji sebuah keyakinan.
Bahwa pendidikan yang paling berharga tidak tertulis di papan tulis. Pendidikan itu tumbuh dari pengalaman nyata yang menyentuh hati dan kehidupan seorang anak.
Tamalatea, 27 Juli 2026

Related Articles

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button