Balik LayarTerkini

Penonton atau Penggerak

Memilih Disukai atau Memilih Mengubah

Pagi itu saya kembali berkeliling sekolah.
Bel pertama sudah berbunyi hampir sepuluh menit. Ketika melewati salah satu kelas, saya mendapati siswanya sudah berada di dalam, tetapi gurunya belum datang.
Saya masuk.
“Hari ini belajar apa?” tanya saya.
Hampir serempak mereka menyebut nama mata pelajaran beserta guru yang mengajarnya.
Saat itu, dari kejauhan saya melihat guru tersebut berjalan menuju kelas. Jaraknya mungkin sekitar tiga puluh meter.
Saya tidak menunggunya.
Saya hanya berkata kepada siswa, “Sebentar lagi guru kalian datang. Tadi beliau sedang menemui orang tua siswa di kantor.”
Lalu saya keluar dari kelas dan memilih berjalan ke arah yang berbeda. Saya sengaja tidak berpapasan dengannya.
Bagi saya, cukup ia melihat saya keluar dari kelas yang seharusnya sudah ia masuki beberapa menit sebelumnya.
Peristiwa itu sederhana.
Namun sepanjang perjalanan kembali ke ruang kerja, pikiran saya justru dipenuhi pertanyaan yang lebih besar.
Kepala sekolah seperti apa yang ingin saya jalani?
Saya bisa saja memilih menjadi kepala sekolah yang disukai semua orang.
Pilihan itu sebenarnya tidak sulit. Tidak perlu terlalu banyak mengubah. Tidak perlu mengusik kebiasaan yang sudah mengakar. Sekolah tetap berjalan, guru merasa nyaman, suasana tetap tenang, dan hampir tidak ada riak yang mengganggu.
Bukankah sekolah yang tenang sering kali dianggap sebagai sekolah yang berhasil?
Namun setiap kali pikiran itu datang, selalu muncul pertanyaan lain yang lebih mengganggu.
Apakah sekolah benar-benar sedang bertumbuh?
Pertanyaan itulah yang perlahan mengubah cara saya memandang kepemimpinan.
Saya mulai percaya bahwa setiap kepala sekolah, cepat atau lambat, akan sampai pada persimpangan yang sama.
Menjadi pemimpin yang disukai.
Atau menjadi pemimpin yang memilih menggerakkan.
Saya memilih jalan yang kedua.
Bukan karena saya ingin dikenal sebagai kepala sekolah yang tegas.
Bukan pula karena saya senang mengoreksi orang lain.
Saya hanya percaya bahwa kebiasaan tidak pernah berubah jika tidak ada seseorang yang bersedia memulainya.
Karena itu saya tidak memilih perubahan yang gaduh.
Saya memilih berjalan pelan.
Saya lebih banyak mengamati daripada berbicara. Saya masuk ke kelas-kelas. Berjalan menyusuri koridor. Menyapa guru. Memastikan pembelajaran benar-benar dimulai ketika bel berbunyi. Mengingatkan hal-hal kecil yang selama ini perlahan dianggap biasa.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Saya belajar bahwa budaya tidak berubah dalam satu rapat.
Budaya tumbuh dari kebiasaan yang diulang terus-menerus.
Awalnya terasa canggung.
Sebagian mungkin merasa tidak nyaman.
Ada yang mulai berbisik. Ada yang merasa terlalu diawasi. Ada pula yang mungkin bertanya-tanya mengapa kepala sekolah begitu sering berkeliling.
Saya memahami semua itu.
Perubahan memang hampir tidak pernah datang tanpa riak.
Tetapi saya juga belajar bahwa riak bukanlah musuh.
Riak sering kali hanyalah tanda bahwa sesuatu mulai bergerak.
Yang harus dijaga bukan agar tidak ada riak, melainkan memastikan setiap riak membawa sekolah menuju arah yang lebih baik.
Saya juga belajar untuk tidak tergesa-gesa.
Kalau saya memilih berjalan pelan agar perubahan tidak terasa sebagai paksaan, mengapa saya tidak bisa bersabar melihat perubahan itu juga datang dengan pelan?
Bukankah keduanya sedang menuju tujuan yang sama?
Di situlah saya menyadari bahwa memimpin perubahan bukan hanya soal strategi.
Memimpin perubahan adalah latihan menjaga hati.
Menjaga emosi agar tidak berubah menjadi kemarahan ketika hasil belum terlihat.
Menjaga kesabaran agar tidak berubah menjadi keputusasaan ketika perubahan berjalan lebih lambat daripada harapan.
Sebab budaya tidak tumbuh secepat keinginan kita.
Ia bertumbuh secepat kesediaan manusia untuk berubah.
Dari perjalanan itu saya memahami satu hal.
Harga menjadi penonton memang jauh lebih murah.
Kita bisa tetap disukai.
Tetap menjadi kepala sekolah yang menyenangkan bagi semua orang.
Tetap menikmati sekolah yang terlihat tenang.
Namun saya juga belajar bahwa ketenangan tidak selalu berarti pertumbuhan.
Kadang-kadang sekolah tampak damai hanya karena tidak ada seorang pun yang bersedia mengusik kebiasaan lama.
Sebaliknya, menjadi penggerak selalu memiliki harga.
Ada kenyamanan yang harus dilepas.
Ada kesalahpahaman yang harus diterima.
Ada saat-saat ketika niat baik dibaca sebagai sikap yang terlalu keras.
Saya belum tentu selalu berhasil menjalaninya.
Masih banyak kekurangan dalam cara saya memimpin.
Masih ada saat-saat ketika saya harus belajar menahan diri, belajar bersabar, dan belajar memperbaiki cara saya sendiri.
Tetapi setidaknya saya tahu jalan mana yang ingin saya tempuh.
Saya tidak ingin dikenang sebagai kepala sekolah yang paling disukai.
Saya hanya ingin suatu hari nanti, ketika saya pergi, sekolah ini tetap berjalan ke arah yang benar.
Kalau hari itu benar-benar datang, mungkin bukan karena saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa.
Melainkan karena saya memilih untuk terus berjalan, setapak demi setapak, sambil percaya bahwa perubahan yang dirawat dengan kesabaran akan bertahan lebih lama daripada perubahan yang dipaksakan dengan tergesa-gesa.

Tamalatea, 30 Juli 2026

Related Articles

6 Comments

  1. Senang membaca tulisan pak Faisal karena yg ditulis kenyataan dalam kehidupan
    Semua natural serasa kami memandang perjalan hari hari para guru melaksanakannya setiap hari mantap dan ini bisa dijadikan contoh 👍👍👍👍🩷🩷🩷
    Jadi yg sesuai hati nurani tak perlu disukai tapi dicintai 🙏

    1. Makasih banyak dukungannya, nek. Kutipan penutupnya keren banget: ‘yg sesuai hati nurani tak perlu disukai tapi dicintai’. Semoga semangat ketulusan ini terus terjaga di dunia pendidikan kita. Salam sehat untuk enek ya….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button