Belajar Mendengar Sebelum Memimpin
Organisasi tidak berubah karena perintah, tetapi karena manusia yang bertumbuh bersama

SAYA masih mengingat hari-hari pertama ketika mendapat amanah sebagai kepala sekolah di sekolah ini. Perasaan saya waktu itu sederhana, tetapi sangat kuat. Saya datang sebagai orang baru. Saya baru saja menginjakkan kaki di sebuah rumah yang telah lama dihuni oleh guru dan tenaga kependidikan. Mereka telah bertahun-tahun bekerja bersama, memahami budaya sekolah, mengenal sejarahnya, bahkan mengerti denyut kehidupan organisasi yang belum saya pahami.
Dalam keadaan seperti itu saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya harus segera membawa semua perubahan yang saya inginkan?
Jawabannya tidak.
Saya merasa belum memiliki cukup alasan untuk mengubah sesuatu yang belum benar-benar saya kenal.
Kebetulan, pada saat saya mulai bertugas, struktur wakil kepala sekolah juga belum sepenuhnya stabil. Dalam beberapa waktu sebelumnya telah terjadi beberapa perubahan karena pergantian kepemimpinan, penunjukan pelaksana tugas, dan pengunduran diri. Bahkan ada bidang yang belum memiliki wakil kepala sekolah secara definitif. Saya tidak sedang memasuki organisasi yang benar-benar mapan. Saya sedang memasuki sebuah organisasi yang masih mencari keseimbangan.
Situasi itu justru membuat saya memilih untuk tidak tergesa-gesa.
Saya ingin mendengar lebih dahulu.
Saya ingin memahami lebih dahulu.
Saya ingin membaca irama sekolah ini sebelum mengajak semua orang memainkan irama yang saya bawa.
Karena itulah saya memberikan kepercayaan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk menentukan siapa yang mereka anggap layak menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Kesiswaan, Sarana Prasarana, dan Hubungan Masyarakat. Tidak ada calon yang saya siapkan. Tidak ada nama yang saya arahkan. Di hadapan mereka saya mengatakan dengan terbuka bahwa siapa pun yang dipilih akan saya terima.
Sebagian orang mungkin menganggap saya sedang menunjukkan keyakinan bahwa pemilihan langsung adalah cara terbaik.
Sesungguhnya tidak.
Saya hanya sedang belajar mendengar.
Saya percaya bahwa orang-orang yang telah lama tinggal di rumah ini tentu lebih mengenal rumahnya dibandingkan saya yang baru datang. Saya membutuhkan waktu untuk memahami siapa saja yang mereka percaya, bagaimana hubungan-hubungan itu terbentuk, dan seperti apa budaya organisasi yang selama ini hidup di sekolah.
Hari itu saya tidak sedang mencari wakil kepala sekolah.
Saya sedang membaca organisasi.
Setelah hasil pemilihan diumumkan, saya menjalani satu tahun pertama bersama para wakil kepala sekolah yang dipilih oleh guru dan tenaga kependidikan.
Satu tahun itu menjadi ruang belajar yang sangat berharga.
Saya mulai mengenal karakter setiap orang.
Saya mulai memahami kebiasaan-kebiasaan yang telah lama tumbuh.
Saya mulai melihat kekuatan sekaligus kelemahan organisasi.
Dan di sanalah saya memperoleh satu pelajaran yang sampai hari ini masih saya pegang.
Seorang pemimpin tidak selalu diuji ketika memilih tim.
Sering kali ia justru diuji ketika harus memimpin tim yang tidak ia pilih sendiri.
Memimpin orang-orang yang sudah ada jauh lebih sulit daripada memilih orang-orang baru. Di situlah kesabaran, ketulusan, dan kemampuan seorang pemimpin benar-benar diuji.
Perjalanan satu tahun itu juga memperlihatkan sesuatu yang tidak saya lihat pada hari pertama.
Orang-orang yang dipilih secara demokratis ternyata belum tentu langsung menjadi sebuah tim.
Mereka memiliki kemampuan.
Mereka memiliki pengalaman.
Mereka memiliki legitimasi.
Namun sebuah tim membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan masing-masing anggotanya. Sebuah tim membutuhkan rasa memiliki terhadap tujuan yang sama.
Dari sanalah saya memutuskan untuk memperbaiki mekanisme pada tahun berikutnya.
Saya tetap ingin mendengar guru dan tenaga kependidikan.
Tetapi kali ini saya meminta mereka menuliskan tiga nama yang menurut mereka layak menjadi wakil kepala sekolah pada setiap bidang. Saya juga meminta mereka menjelaskan alasan di balik setiap pilihan tersebut.
Yang lebih penting lagi, seluruh angket dibuat tanpa nama.
Saya sengaja menghilangkan identitas agar setiap orang bebas berbicara menurut hati nuraninya.
Saya tidak sedang mencari suara terbanyak.
Saya sedang mencari kejujuran.
Saya menyebutnya sebagai mencari suara langit.
Ternyata yang paling berharga bukanlah nama-nama yang muncul.
Yang paling berharga adalah alasan-alasan yang mereka tuliskan.
Ada yang berbicara tentang integritas.
Ada yang berbicara tentang kemampuan membangun komunikasi.
Ada yang berbicara tentang regenerasi kepemimpinan.
Ada yang mengingatkan pentingnya keberanian mengambil keputusan.
Bahkan ada pandangan-pandangan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran saya.
Saya menyadari bahwa seorang pemimpin tidak boleh hanya mendengar suara yang keras.
Ia juga harus mampu mendengar suara yang jujur.
Daftar nama itu kemudian saya jadikan pintu masuk untuk berdialog.
Saya mengundang beberapa orang secara pribadi.
Saya tidak sedang melakukan wawancara seperti memilih pegawai.
Saya hanya ingin mengetahui apakah mereka bersedia berjalan bersama menuju visi sekolah yang sedang kami bangun.
Dalam proses itulah saya kembali belajar.
Ada seorang guru yang sebenarnya tidak memperoleh suara yang terlalu besar. Namun naluri saya mengatakan bahwa ia memiliki kapasitas yang baik. Saya mengundangnya untuk berbicara.
Dengan penuh kesantunan ia menjelaskan bahwa dirinya belum siap menerima amanah tersebut. Alasan-alasan yang disampaikannya sangat masuk akal. Saya tidak melihat penolakan. Saya melihat kejujuran.
Saya memilih menghormati kejujurannya.
Saya belajar bahwa tidak semua orang yang mampu harus dipaksa menjadi pemimpin. Ada waktunya seseorang berkata, “Saya belum siap,” dan seorang pemimpin harus menghargai kejujuran itu.
Calon lain memperoleh dukungan yang jauh lebih besar. Saya melihat kemampuannya. Namun saya juga melihat bahwa saat itu ia masih memiliki berbagai komitmen lain yang telah lebih dahulu menjadi tanggung jawabnya. Saya menangkap bahwa waktunya belum tepat.
Sekali lagi saya memilih untuk tidak memaksakan keadaan.
Saya mulai memahami bahwa memilih orang tidak cukup hanya melihat siapa yang paling banyak didukung. Seorang pemimpin juga harus melihat kesiapan hati, keluasan waktu, dan kesediaan seseorang untuk mengemban amanah.
Pada akhirnya saya menetapkan tiga wakil kepala sekolah.
Untuk bidang Hubungan Masyarakat saya memilih belum menetapkannya. Saya belum melakukan pendalaman sebagaimana bidang-bidang yang lain. Saya tidak ingin sebuah jabatan diisi hanya karena struktur organisasi harus terlihat lengkap.
Beberapa hari setelah penetapan tersebut, seorang wakil kepala sekolah datang menemui saya.
Ia tidak datang membawa keluhan.
Ia datang membawa kejujuran.
Ia mengatakan bahwa akan ada proses belajar karena karakter dalam tim sangat beragam. Namun sebelum pulang ia mengatakan satu kalimat yang menenangkan hati saya.
“Pak, saya akan belajar menerima perbedaan ini. Saya akan membantu Bapak menjalankan visi sekolah.”
Keesokan harinya, seorang wakil yang lain datang.
Tanpa diminta.
Tanpa mengetahui pembicaraan sebelumnya.
Isi pesannya hampir sama.
Ia tidak meminta saya mengganti siapa pun.
Ia tidak meminta saya mengubah keputusan.
Ia hanya berkata bahwa dirinya akan belajar menerima perbedaan dan berusaha bekerja sama.
Dua peristiwa sederhana itu justru memberi saya harapan.
Saya menyadari bahwa membangun tim bukanlah pekerjaan memilih orang-orang yang sama.
Membangun tim adalah membantu orang-orang yang berbeda agar memiliki tujuan yang sama.
Di situlah saya semakin memahami bahwa tugas seorang kepala sekolah bukan menyenangkan semua orang.
Pemimpin yang sibuk menyenangkan semua orang biasanya kehilangan arah.
Sebaliknya, pemimpin yang menjaga arah akan belajar menerima bahwa tidak semua orang selalu merasa nyaman dengan setiap keputusan.
Tugas saya bukan menghilangkan semua perbedaan.
Tugas saya menjaga agar perbedaan itu tetap bergerak menuju tujuan yang sama.
Seekor anak hiu, sesaat setelah lahir dari rahim induknya, hampir seketika mampu berenang mengikuti naluri yang telah dibawanya sejak lahir. Ia tidak memerlukan latihan panjang untuk bertahan hidup.
Sebuah tim kepemimpinan tidak memiliki kemewahan seperti itu.
Ia tidak lahir dengan naluri untuk langsung kompak.
Ia harus belajar.
Belajar saling mengenal.
Belajar saling memahami.
Belajar saling mempercayai.
Belajar mengalahkan ego.
Belajar menyamakan langkah.
Belajar menjaga tujuan.
Semua itu membutuhkan waktu.
Beberapa waktu lalu saya menyaksikan seekor induk hiu melahirkan. Ada satu pemandangan yang terus tersimpan di kepala saya hingga hari ini. Anak-anak hiu itu, sesaat setelah lahir, langsung berenang mengikuti naluri yang telah mereka miliki. Tidak ada yang mengajari. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada yang menyatukan langkah mereka. Naluri telah bekerja sejak awal kehidupan mereka.
Saya kemudian membandingkannya dengan sebuah tim kepemimpinan.
Ternyata manusia tidak seperti itu.
Sebuah tim tidak pernah lahir dalam keadaan langsung kompak. Mereka datang membawa sejarah yang berbeda, pengalaman yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itulah membangun tim tidak cukup hanya dengan menyusun struktur organisasi atau membagikan tugas. Membangun tim adalah pekerjaan mempertemukan hati, menyatukan arah, menumbuhkan kepercayaan, dan merawat komitmen dari hari ke hari.
Mungkin itulah sebabnya saya tidak lagi terlalu sibuk mencari orang-orang yang sempurna. Saya lebih memilih membangun ruang agar orang-orang yang ada dapat bertumbuh bersama. Sebab saya semakin percaya bahwa tim yang kuat bukanlah tim yang lahir dalam keadaan sempurna, melainkan tim yang terus belajar menjadi lebih baik setiap harinya.
Tamalatea, 12 Juli 2026





https://shorturl.fm/SN4Gq