Buliang: Catatan Sunyi dari Sekolah yang Pernah Saya Rintis
Sebuah rintisan yang tak selesai dalam ingatan

Batam — Ada satu tempat yang tidak pernah benar-benar bisa saya lupakan. Buliang, Batu Aji. Tempat di mana untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki sebagai kepala sekolah, tepatnya saat saya dilantik sebagai PLT pada Juni 2022.
SK itu saya terima di sebuah sekolah di Belakang Padang. Entah mengapa di sana, jauh dari lokasi tugas yang akan saya emban. Saat kertas itu berpindah tangan, ada rasa cemas yang sulit dijelaskan. Seperti ada pintu baru yang terbuka, tetapi saya sendiri belum tahu ke mana jalan itu akan membawa saya. Namun rasa cemas itu perlahan kalah oleh dorongan untuk melangkah. Mau tidak mau, saya harus siap menjalani semuanya.
Sore harinya, saya langsung menuju sekolah yang menjadi tempat penugasan itu. Saya datang bersama istri dan anak saya. Mungkin mereka juga membawa rasa yang sama: harapan, penasaran, sekaligus sedikit kekhawatiran tentang tempat baru yang akan menjadi bagian dari hidup kami. Namun sesampainya di sana, hati saya seperti berhenti sejenak. Di hadapan saya hanya ada satu bangunan. Satu ruang kelas. Saya turun dari mobil, melangkah pelan, lalu masuk ke dalamnya. Tidak ada kursi. Tidak ada meja. Tidak ada bola lampu di plafon. Bahkan listrik pun belum tersedia. Ruangan itu seperti baru selesai dibangun, tetapi belum sempat “dihidupkan”.
Dari jendela, saya melihat rumput liar tumbuh tinggi hampir setinggi orang dewasa. Bangunan itu berdiri sunyi, seperti sedang menunggu sesuatu yang belum datang. Dalam hati saya hanya bertanya pelan: dari mana semua ini harus dimulai?. Saya pulang sore itu dengan perasaan yang tidak lagi sama. Ada kebahagiaan yang perlahan berubah menjadi sunyi yang panjang.
Tahun-Tahun Rintisan. Saat masa penerimaan siswa baru dibuka, tidak satu pun calon siswa datang mendaftar. Bahkan sekadar bertanya pun hampir tidak ada. Hingga masa pendaftaran hampir selesai, barulah beberapa siswa datang—kebanyakan dari luar daerah, mereka yang tidak tertampung di sekolah lain. Dari situlah sekolah ini memulai langkahnya, hanya dengan 22 siswa. Itu pun bukan karena menjadi pilihan utama, melainkan jalan yang akhirnya harus ditempuh. Dari titik kecil itulah sekolah ini mulai bernapas.
Sekolah satu ruangan itu kami tempati selama satu tahun. Setahun kemudian, kami berpindah dan menumpang di sebuah sekolah swasta yang jaraknya tidak terlalu jauh. Untuk sementara, itulah tempat terbaik yang bisa kami dapatkan. Ada dua belas ruangan di sana, termasuk ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tata usaha.
Berkat kebaikan pemilik yayasan yang saat ini beliau menjabat sebagai wakil gubernur provinsi Kepulauan Riau, kami diperbolehkan menumpang tanpa membayar apa pun. Bahkan beberapa kali beliau datang berkunjung, seolah ingin memastikan bahwa sekolah kecil ini tidak kehilangan semangat untuk bertahan.
Tahun-tahun rintisan berjalan dengan berbagai keterbatasan yang tidak sederhana. Lapangan upacara misalnya, jauh dari layak untuk ukuran sekolah SMA. Saat membentuk barisan, guru dan siswa harus berdiri sangat rapat. Sebagian guru bahkan berdiri di pinggir area yang berbatasan langsung dengan jurang. Sempit, tidak ideal, dan jauh dari nyaman. Namun tidak ada yang menjadikannya alasan untuk berhenti.
Di belakang sekolah berdiri sekolah lain dengan fasilitas jauh lebih lengkap. Di depan, ada sekolah swasta yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan kami, sama-sama berjuang dalam keterbatasan. Kami hanya dipisahkan jalan kecil sekitar tiga meter, tetapi rasanya seperti dua dunia yang berbeda.
Sebagai orang yang diberi amanah membawa kapal kecil ini berjalan, saya sadar rintangan akan selalu ada. Tetapi saat itu saya hanya memiliki satu keyakinan: saya tidak boleh menyerah. Dan saya tidak sendiri. Guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah itu ikut berjuang dengan segala kemampuan yang mereka punya. Kami sering berjalan tertatih, sering serba kurang, tetapi kami memastikan diri untuk terus bergerak.
Kembali ke Ingatan. Kini, ketika semua itu perlahan menjadi masa lalu, ingatan datang tanpa bisa saya kendalikan. Kadang saya terdiam lama, lalu tiba-tiba tersentak oleh wajah-wajah yang muncul satu per satu di kepala saya. Tidak ada yang benar-benar hilang. Bahkan orang yang hanya membantu menjaga sekolah pun masih saya ingat wajahnya, caranya berbicara, caranya hadir di tengah keterbatasan kami waktu itu.
Ada wajah-wajah yang membuat saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya. Ada yang menghadirkan diam panjang, lalu berubah menjadi rasa haru yang sulit dijelaskan. Ada yang membuat saya kagum dan bangga, sampai saya hanya mampu mengangguk pelan dalam hati. Ada pula kenangan yang datang begitu tiba-tiba, seolah waktu menarik saya kembali ke masa yang sudah jauh berlalu. Lalu saya memilih diam. Menarik napas panjang. Mengelus dada perlahan. Karena saya sadar, semua wajah itu tidak pernah benar-benar pergi. Semua perjuangan itu juga tidak pernah benar-benar hilang. Mereka tetap hidup di dalam ingatan saya, satu per satu, tanpa ada yang tertinggal.
Bagaimanapun jalan ceritanya, dan seperti apa pun akhirnya, mereka semua pernah menghadirkan kebaikan dalam hidup saya. Dan untuk setiap kebaikan itu, saya langitkan doa: semoga kalian dan keluarga selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan dalam setiap langkah kehidupan.
Kembali dan Perpisahan. Waktu berjalan seperti biasa, tetapi tidak bagi ingatan. Saya termasuk orang yang cukup “ngotot” dalam satu hal: akreditasi. Hampir satu setengah tahun saya terus mendorong agar sekolah ini siap dinilai. Ada yang menganggapnya terlalu cepat, terlalu jauh dari kondisi sekolah saat itu. Namun saya percaya, sebuah proses harus dimulai lebih dulu, meski hasilnya belum tentu datang bersamaan dengan harapan.
Saya tidak tahu persis kapan semuanya benar-benar menemukan jalannya. Yang saya tahu, selang beberapa bulan setelah saya meninggalkan sekolah itu, akreditasi datang dan hasilnya adalah A. Saya ikut bangga mendengar kabar itu. Bukan untuk mengklaim apa pun. Bukan juga untuk menolak kenyataan bahwa begitu banyak tangan ikut bekerja di dalamnya. Mungkin ada sedikit jejak langkah yang pernah kami tinggalkan di sana. Atau mungkin itu hanya cara saya menghargai kenangan yang pernah tumbuh di tempat itu. Apa pun itu, saya belajar satu hal: hasil tidak pernah lahir dari satu orang saja. Selalu ada banyak perjuangan yang saling menyambung, meski sering kali tidak terlihat.
Bagi saya, ukuran berhasil atau tidak juga bukan sesuatu yang selalu tampak dari luar. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk pujian, angka, atau tepuk tangan. Kadang keberhasilan justru tinggal dalam proses yang dijalani bersama, dalam lelah yang tidak selalu diceritakan, dalam keterbatasan yang dipaksa cukup, dan dalam upaya-upaya kecil yang terus dijaga agar sekolah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dan kini, status sekolah rintisan itu menjadi sekolah rintihan.
Sekolah yang pernah menjadi awal pengabdian saya sebagai kepala sekolah itu, mulai SPMB 2026 tidak lagi menerima siswa baru. Tidak ada lagi generasi yang datang setelah ini. Tinggal sisa perjalanan, menunggu kelas X dan XI menuntaskan kisahnya, lalu semuanya perlahan selesai. Tidak ada lagi awal yang baru. Yang tersisa hanyalah langkah-langkah terakhir menuju garis akhir yang pelan-pelan mendekat.
Dan mungkin yang paling terasa bukan hanya perubahan status gedungnya, melainkan orang-orang di dalamnya yang perlahan akan berubah arah. Ada yang tetap bertahan. Ada yang harus melangkah ke tempat baru. Ada yang menerima perubahan ini dengan tenang, ada pula yang masih belajar memahami kenyataan yang ada. Semua akan membawa cerita dan kenangannya masing-masing.
Kelak, ketika semuanya benar-benar berlalu, mungkin kita baru menyadari bahwa ada banyak hal yang seharusnya bisa disikapi dengan lebih baik. Ada ucapan yang semestinya tidak perlu keluar. Ada prasangka yang semestinya tidak perlu dipelihara. Ada ego yang mungkin bisa diturunkan sedikit saja agar hubungan tetap baik-baik saja. Karena semakin dewasa, ternyata tidak selalu membuat seseorang semakin jernih dalam berpikir. Kadang kita justru mudah terbawa oleh kegelisahan orang lain, lalu ikut menilai, ikut merasa paling benar, bahkan perlahan kehilangan diri sendiri. Padahal pada akhirnya, yang paling penting bukan tentang siapa yang paling didengar, melainkan siapa yang masih mampu tetap menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan hati nuraninya.
Mungkin karena itu, ada waktunya seseorang memilih untuk tidak lagi bereaksi terhadap segala hal. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena mulai memahami bahwa menjaga diri tetap tenang jauh lebih penting daripada larut dalam hal-hal yang hanya menguras hati dan pikiran. Dan di titik tertentu, mengoreksi diri sendiri sering kali jauh lebih sulit sekaligus lebih penting daripada sibuk menyalahkan keadaan atau orang lain.
Sebab apa pun yang pernah terjadi di tempat ini, semuanya akan tinggal menjadi bagian dari sejarah hidup kita masing-masing. Tentang lelah yang pernah dipikul bersama. Tentang tawa yang dulu terasa biasa saja tetapi suatu hari nanti mungkin justru paling dirindukan. Tentang perjuangan yang mungkin tidak sempurna, tetapi pernah dijalani dengan tulus pada masanya.
Selamat menjalankan tugas di tempat yang baru bagi yang melangkah pergi. Dan bagi yang tetap bertahan, selamat menjalani status baru tempat ini dengan hati yang lebih lapang. Semoga kita semua tetap mengingat bahwa pernah ada masa di mana kita berjalan bersama di tempat ini, dengan segala cerita yang tidak akan benar-benar hilang.
Penutup. Pada akhirnya, semua ini hanya tersisa sebagai ingatan yang tidak pernah benar-benar selesai ditulis. Sebab hidup tidak selalu meminta kita untuk melupakan. Ada hal-hal yang justru dititipkan untuk tetap tinggal di dalam hati, agar kita tidak kehilangan arah tentang siapa diri kita sebenarnya, dari mana kita pernah belajar, siapa yang pernah berjalan bersama kita, dan mengapa kita harus terus melangkah.
Waktu boleh berjalan jauh. Manusia boleh datang dan pergi. Tetapi setiap jejak yang pernah ditinggalkan akan selalu menemukan caranya sendiri untuk hidup di dalam diri kita. Dan mungkin, kedewasaan bukan tentang seberapa banyak kita melupakan masa lalu, melainkan seberapa ikhlas kita menerima bahwa sebagian kenangan memang diciptakan untuk menetap selamanya.
Buliang. Saya rindu.
Tamalatea, Mei 2026



