Partitur KepemimpinanTerkini

Budaya Tidak Pernah Bohong

Murid selalu belajar dari apa yang kita lakukan, jauh sebelum mereka mempercayai apa yang kita katakan

Selasa pagi.
Bel masuk telah berbunyi. Beberapa peserta didik masih berdiri di depan gerbang sekolah. Guru piket menghentikan mereka, mencatat nama mereka, memberikan pembinaan, kemudian mempersilakan mereka masuk ke kelas setelah seluruh proses selesai. Aturan dijalankan sebagaimana yang telah disepakati. Peserta didik memahami bahwa keterlambatan memiliki konsekuensi.
Rabu pagi.
Situasinya hampir sama. Beberapa peserta didik kembali datang terlambat. Namun guru piket yang bertugas hari itu mengambil keputusan yang berbeda. Keterlambatan beberapa menit masih dianggap dapat dimaklumi. Peserta didik dipersilakan langsung masuk ke kelas tanpa pembinaan dan tanpa pencatatan. Di antara mereka terdengar komentar sederhana, “Untung hari ini guru yang piket baik.”
Kamis pagi.
Guru piket telah berdiri di depan gerbang beberapa menit sebelum waktu masuk. Dengan penuh semangat beliau mengingatkan peserta didik yang masih berjalan santai.
“Ayo… sebentar lagi gerbang ditutup.”
Tangannya terangkat.
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga…”
Seketika langkah peserta didik berubah menjadi lari kecil. Mereka berusaha masuk sebelum gerbang benar-benar ditutup.
Pemandangan itu terlihat begitu baik.
Namun beberapa menit kemudian, seorang guru datang melewati gerbang dengan langkah santai dalam keadaan terlambat. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang mengingatkan. Semua berjalan seperti biasa.
Apa Sebenarnya yang Mereka Pelajari?
Saya tidak sedang mencari siapa yang benar.
Saya juga tidak sedang mencari siapa yang salah.
Tetapi sejak saat itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri.
Sebenarnya apa yang sedang dipelajari oleh peserta didik setiap pagi?
Pertanyaan itu terus mengikuti saya.
Antara Pembelajaran dan Administrasi
Semakin lama saya memimpin sekolah, semakin banyak peristiwa kecil yang menarik perhatian saya.
Ada guru yang selalu masuk kelas tepat waktu. Ada pula yang datang beberapa menit setelah bel berbunyi.
Ada guru yang setelah memberikan tugas mengembalikannya kepada peserta didik dengan berbagai catatan, sehingga mereka mengetahui letak kekurangan dan cara memperbaikinya. Namun ada pula tugas yang telah dikumpulkan, tetapi tidak pernah kembali ke tangan peserta didik.
Ada asesmen yang dilaksanakan dengan baik. Nilai diumumkan. Namun lembar jawaban tidak pernah dibagikan kembali. Keesokan harinya peserta didik hanya melihat daftar nama yang harus mengikuti remedial tanpa pernah mengetahui bagian mana yang salah dan mengapa mereka belum mencapai ketuntasan.
Remedial pun dilaksanakan.
Nilai berubah.
Administrasi selesai.
Tetapi hasil remedial kembali tidak pernah dibahas bersama peserta didik. Mereka tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang telah mereka kuasai dan apa yang masih harus mereka pelajari.
Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Semua administrasi selesai.
Namun saya kembali bertanya.
Apakah pembelajaran benar-benar telah selesai?
Ataukah yang selesai hanyalah administrasinya?
Kata-kata yang Berbeda dengan Kenyataan
Pengalaman lain yang juga sering mengusik pikiran saya terjadi pada saat rapat kenaikan kelas.
Seorang guru menjelaskan bahwa ada peserta didik yang sering tidak masuk sekolah, kerap datang terlambat, banyak tugas yang tidak diselesaikan, dan selama proses pembelajaran menunjukkan berbagai kelemahan yang seharusnya menjadi perhatian bersama. Uraian yang disampaikan menggambarkan bahwa peserta didik tersebut belum menunjukkan perkembangan sebagaimana yang diharapkan.
Namun ketika daftar nilai diperiksa, peserta didik yang sama justru memperoleh nilai yang telah mencapai, bahkan melebihi batas ketuntasan minimal yang telah disepakati oleh sekolah.
Saya kembali terdiam.
Bukan karena nilainya.
Bukan pula karena penjelasan gurunya.
Yang mengusik pikiran saya adalah ketidaksesuaian antara apa yang kami katakan kepada peserta didik dengan apa yang akhirnya diputuskan oleh sekolah.
Jika dalam proses pembelajaran kami mengatakan bahwa kehadiran itu penting, tanggung jawab terhadap tugas itu penting, kedisiplinan itu penting, dan penguasaan kompetensi juga penting, tetapi keputusan akhirnya menunjukkan pesan yang berbeda, lalu sebenarnya apa yang sedang dipelajari oleh peserta didik?
Mereka Belajar dari Apa yang Kita Lakukan
Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana.
Peserta didik belajar jauh lebih banyak daripada apa yang kita ajarkan.
Mereka belajar ketika guru datang tepat waktu.
Mereka juga belajar ketika guru datang terlambat.
Mereka belajar ketika setiap tugas yang mereka kerjakan memperoleh umpan balik.
Mereka juga belajar ketika tugas hanya dikumpulkan tanpa pernah dibahas kembali.
Mereka belajar ketika asesmen digunakan untuk memperbaiki pemahaman.
Mereka juga belajar ketika asesmen hanya berakhir menjadi angka di dalam buku nilai.
Mereka belajar ketika remedial menjadi kesempatan kedua untuk benar-benar memahami materi.
Mereka juga belajar ketika remedial hanya menjadi proses administratif untuk mengubah angka.
Mereka belajar ketika seluruh guru menyampaikan nilai yang sama.
Mereka juga belajar ketika setiap guru menerapkan aturan yang berbeda.
Tanpa kita sadari, sekolah sedang mengajarkan sesuatu setiap hari.
Bukan hanya melalui mata pelajaran.
Tetapi melalui kebiasaan.
Melalui keputusan.
Melalui tindakan-tindakan kecil yang terus berulang.
Kunci yang Sering Terlupakan: Konsistensi
Di situlah saya memahami bahwa masalah terbesar sekolah sering kali bukan karena tidak memiliki aturan.
Bukan pula karena guru tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Masalah terbesar sekolah sering kali terletak pada belum terbangunnya konsistensi.
Saya percaya bahwa setiap guru memiliki cara mengajar yang berbeda.
Setiap guru memiliki karakter yang berbeda.
Perbedaan itu justru memperkaya proses belajar.
Namun ketika sekolah telah menyepakati sebuah nilai, sebuah aturan, dan sebuah sistem, maka seluruh warga sekolah harus menjaganya dengan konsisten.
Peserta didik tidak boleh menerima pesan yang berbeda-beda tentang nilai yang sama.
Sebab ketika aturan berubah sesuai dengan siapa gurunya, peserta didik tidak sedang belajar tentang disiplin.
Mereka sedang belajar bahwa disiplin bergantung pada siapa yang sedang bertugas.
Ketika umpan balik hanya diberikan oleh sebagian guru, peserta didik tidak sedang belajar tentang proses belajar yang utuh.
Mereka sedang belajar bahwa yang penting adalah mengumpulkan tugas.
Ketika hasil asesmen tidak pernah dikembalikan kepada peserta didik, mereka tidak sedang belajar dari kesalahan.
Mereka hanya belajar mengejar angka.
Dan ketika sekolah mengatakan bahwa tanggung jawab itu penting, tetapi keputusan akhirnya tidak selalu mencerminkan nilai tersebut, peserta didik akan lebih mempercayai keputusan daripada nasihat.
Budaya Lahir dari Pengalaman Nyata
Sejak saat itulah saya memahami bahwa budaya sekolah tidak pernah dibangun oleh slogan yang dipasang di dinding.
Budaya juga tidak lahir dari pidato kepala sekolah setiap hari Senin.
Budaya tidak tumbuh karena visi dan misi dicetak dengan huruf besar lalu dipasang di setiap sudut sekolah.
Budaya lahir dari pengalaman yang dialami peserta didik setiap hari.
Ketika mereka menerima pesan yang sama dari seluruh guru.
Ketika mereka melihat keteladanan yang sama dari seluruh warga sekolah.
Ketika mereka merasakan bahwa aturan tidak berubah karena orang yang sedang mereka hadapi berbeda.
Ketika nilai yang diyakini sekolah benar-benar hidup dalam setiap tindakan dan setiap keputusan.
Saya semakin yakin bahwa membangun budaya sekolah bukanlah pekerjaan menyusun lebih banyak aturan.
Yang jauh lebih sulit adalah memastikan bahwa aturan yang telah disepakati dijalankan secara konsisten oleh semua orang.
Karena pada akhirnya, peserta didik tidak akan tumbuh menjadi seperti apa yang kita katakan kepada mereka.
Mereka akan tumbuh menjadi seperti sekolah yang setiap hari mereka alami.
Dan budaya sekolah, tidak pernah berbohong.

Tamalatea, 14 Juli 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button