Balik LayarTerkini

Ia Datang Lebih Dulu

Pelajaran yang Tidak Pernah Saya Cari

EMPAT hari sudah pesan singkat itu tersimpan di telepon genggam saya.
Saya sudah membacanya berkali-kali, tetapi belum juga membalasnya. Bukan karena saya ingin membuat pengirimnya menunggu, apalagi sedang menyusun kalimat yang paling tepat. Alasannya jauh lebih sederhana: sampai hari ini, sekolah belum mengambil keputusan apakah akan membuat seragam olahraga untuk tahun ajaran baru atau tidak.
Seragam olahraga bukan program sekolah, apalagi program kepala sekolah. Selama ini keberadaannya lebih banyak lahir dari kebutuhan dan keinginan orang tua siswa. Sekolah hanya memfasilitasi. Kalau keputusan itu sendiri belum ada, untuk apa saya tergesa-gesa memberikan jawaban?
Saya tidak terbiasa menjelaskan sesuatu yang belum pasti. Bagi saya, integritas sebuah jawaban lahir setelah keputusan diambil, bukan ketika segalanya masih mengawang.
Namun setiap kali membuka pesan itu, ingatan saya selalu kembali pada peristiwa setahun yang lalu.
Beberapa hari sebelumnya, seorang petugas keamanan sekolah menemui saya.
“Pak, tadi ada seseorang datang ke sekolah. Katanya kalau sekolah punya program dan membutuhkan bantuan, beliau siap menjembatani dengan seorang pejabat. Beliau juga meninggalkan nomor telepon. Kalau Bapak berkenan, nanti beliau yang datang menemui Bapak.”
Saya hanya tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Sekuriti saya kembali bertanya, “Kalau begitu, kapan saya kabari beliau?”
“Nanti saja, Pak. Kalau memang diperlukan, saya kabari.”
Percakapan itu berhenti di sana. Entah mengapa, saya tidak terlalu tertarik dengan kalimat-kalimat yang selalu diawali dengan menjual kedekatan kepada seseorang yang memiliki kekuasaan.
Sekitar seminggu kemudian telepon genggam saya berdering.
Orang yang menelepon bukan orang asing. Kami sering berkomunikasi dalam urusan kedinasan sehingga saya mengenalnya dengan baik. Setelah berbincang sebentar, beliau menyampaikan maksudnya.
“Pak, kalau sekolah Bapak membuat seragam olahraga, tolong dibantu orang ini, ya. Rumahnya dekat dengan sekolah Bapak.”
Saya bertanya pelan.
“Siapa namanya, Pak?”
Beliau menyebutkan satu nama.
Saya terdiam beberapa detik. Nama itu terasa akrab, tetapi saya belum mampu mengingat dari mana saya baru mendengarnya.
Setelah pembicaraan selesai, saya memanggil sekuriti.
“Pak, orang yang beberapa hari lalu datang ke sekolah itu, siapa namanya?”
Sekuriti saya menyebutkan nama yang sama.
Saya hanya mengangguk pelan. Potongan-potongan peristiwa yang semula tampak berdiri sendiri perlahan menjelma menjadi satu cerita yang utuh. Rasanya saya sudah memahami mengapa sebuah nama sering kali tiba lebih dulu daripada orang yang membawanya.
Beberapa hari kemudian, orang itu datang menemui saya.
Kami berbincang cukup lama. Sikapnya ramah, tutur katanya santun. Saya juga mengetahui bahwa rumahnya memang berada tidak jauh dari lingkungan sekolah. Saat itu saya berpikir sederhana: kalau masyarakat di sekitar sekolah dapat diberdayakan, mengapa tidak?
Akhirnya kami sepakat bekerja sama.
Sejak awal saya sudah menyampaikan satu hal yang menurut saya sangat jelas: sekolah tidak mewajibkan siswa membeli seragam olahraga. Kalau ingin memesan, silakan. Kalau tidak, juga tidak menjadi persoalan. Sekolah hanya membantu memfasilitasi.
Saya mengira kesepahaman itu sudah cukup.
Ternyata saya keliru.
Jumlah seragam yang diproduksi jauh melebihi jumlah pesanan. Ketika pemesan tidak sebanyak yang diperkirakan, saya diminta membayar seluruh seragam yang telah dijahit, termasuk seragam yang sama sekali tidak pernah dipesan.
Saya mencoba mengingatkan kembali kesepakatan kami secara tertulis, dengan harapan persoalan ini dapat diselesaikan sebagaimana kami memulainya: dengan komunikasi yang baik.
Harapan itu tidak terwujud.
Yang datang justru tekanan.
Sebuah pesan singkat masuk ke telepon saya.
“Jika Bapak tidak mau membayar, dan bermasalah dengan saya, itu tidak baik untuk Bapak.”
Saya membaca pesan itu berkali-kali. Apakah saya sakit hati? Tentu saja. Saya manusia biasa. Namun saya sadar, mengikuti cara orang lain menghadapi persoalan hanya akan menyeret saya ke cara berpikir yang sama. Saya tidak ingin menghabiskan energi untuk memenangkan pertengkaran yang sia-sia, sementara sekolah masih memiliki begitu banyak agenda yang harus diselesaikan.
Akhirnya persoalan itu berlalu. Bukan karena semuanya selesai dengan baik, melainkan karena saya memilih menyimpan tenaga untuk pekerjaan yang jauh lebih penting.
Beberapa waktu kemudian, ketika bertemu beberapa teman kepala sekolah, justru mereka yang lebih dahulu bertanya kepada saya.
“Orang itu sudah datang menemui Bapak?”
Saya menjawab singkat.
“Belum.”
Padahal, ia sudah datang. Saya sengaja tidak menceritakannya karena ingin mendengar cerita mereka terlebih dahulu, tanpa dipengaruhi pengalaman saya.
Ternyata cerita mereka hampir sama. Mereka juga lebih dahulu dihubungi oleh orang yang sama melalui jalur yang berbeda. Perbedaannya, mereka memilih tidak melanjutkannya. Saya memilih menerima. Bukan karena nama yang dibawa, bukan pula karena telepon yang saya terima, melainkan murni karena keinginan untuk memberdayakan warga sekitar.
Belakangan, saya bertanya kepada kepala sekolah SMP di dekat sekolah saya yang juga pernah bekerja sama dengan orang yang sama. Ceritanya hampir tidak berbeda. Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa pengalaman saya bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.
Namun anehnya, saya tidak lagi sibuk memikirkan kesalahan orang lain. Yang justru terus mengganggu pikiran saya adalah: apa yang seharusnya saya lakukan agar pengalaman seperti ini tidak terulang?
Jawabannya sederhana: bukan dengan menjadi orang yang lebih curiga, tetapi dengan membangun sistem.
Kepercayaan tetap penting, tetapi harus dijaga oleh administrasi. Kesepakatan lisan memang terasa cukup ketika semuanya berjalan baik, namun ketika kepentingan mulai berbicara, dokumen tertulis menjadi satu-satunya pengingat tentang apa yang pernah disepakati bersama.
Sejak saat itu saya mulai membiasakan diri membuat berita acara dan kesepakatan tertulis yang lebih rapi. Bukan karena ingin mengurangi kepercayaan kepada orang lain, melainkan untuk melindungi kepercayaan itu sendiri.
Kini pesan singkat itu masih tersimpan di telepon saya.
Belum saya balas.
Bukan karena saya sedang menghukumnya. Bukan pula karena saya sedang memainkan waktu. Saya hanya belum memiliki sesuatu yang perlu saya sampaikan. Kalau nanti sekolah memutuskan membuat seragam olahraga, saya akan menjawabnya. Kalau belum, biarlah jawaban itu menunggu bersama keputusan yang belum lahir.
Banyak orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Semakin lama saya menjalani kehidupan, semakin saya merasa kalimat itu belum selesai.
Pengalaman hanyalah sebuah peristiwa. Ia tidak otomatis mengajarkan apa-apa.
Ada orang yang mengalaminya sekali lalu berubah. Ada pula yang mengalaminya berkali-kali, tetapi tetap mengulangi kesalahan yang sama.
Pengalaman baru menjadi guru ketika kita bersedia berhenti sejenak, memaknainya, lalu memperbaiki cara kita melangkah.
Kalau tidak, pengalaman hanya akan menjadi cerita yang terus berulang dengan tokoh yang berganti.
Saya tidak ingin pengalaman ini berhenti sebagai sebuah cerita. Saya ingin ia menjadi pelajaran yang memperbaiki cara saya memimpin.
Sebab pada akhirnya, yang membentuk seseorang bukanlah banyaknya pengalaman yang ia miliki, melainkan kesediaannya belajar dari setiap pengalaman yang datang menghampirinya.

Tamalatea, 11 Juli 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button